Kamis, 02 April 2009

asuhan keperawatan pada klien dengan sindrom cushing

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sindrom cushing adalah penyakit yang disebabkan kelebihan hormon kortisol. Nama penyakit ini diambil dari Harvey Cushing seorang ahli bedah yang pertama kali mengidentifikasi penyakit ini pada tahun 1912.
Penyakit ini disebabkan ketika kelenjar adrenal pada tubuh tarlalu banyak memproduksi hormon kortisol, komplikasi yang menyebabkan kecacatan pada penderita bisa menyebabkan kecacatan pada penderita mengakibatkan keterbatasan aktivitas bahkan kematian. Maraknya penyakit ini semakin menambah tantangan bagi tenaga kesehatan dan semakin meresahkan masyarakat.



B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara jelas konsep dasar sindrom cuhing dan asuhan keperawatan pada klien dengan Sindrom Cushing
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan pengetahuan bagaimana manefestasi klinis pada klien dengan sindrom cushing
b. Memberikan pengetahuan tentang patofisiologi dari sindrom cushing itu sendiri
c. Memberikan gambaran tentang pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan sindrom cushing
C. Ruang Lingkup
Karena luasnya permasalahan dan keterbatasan literatur yang ada maka penulis hanya membatasi tentang konsep dasar sindrom cushing dan asuhan keperawatan pada klien dengan sindrom cushing
D. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu menggambaran tentang konsep dasar sindrom cushing dan asuhan keperawatan pada klien dengan sindrom cushing dengan cara studi kepustakaan yaitu dengan membaca dan mempelajari buku-buku sumber yang ada di perpustakaan AKPER YARSI PONTIANAK.
E. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II : Landasan teoritis yang terdiri dari anatomi dan fisiologi sistim endokrin, konsep dasar sindrom cushing, pengertian, etiologi, manefestasi klinis, patofisiologi, pemeriksaan diagnostik, komplikasi dan penanganan
Bab III : Asuhan keperawatan pada klien dengan sindrom cushing yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan dan intervensi
Bab III : Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran



BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Anatomi dan fisiologi
Pembagian di dalam tubuh kelenjar endokrin terdiri atas :
1. Kelenjar hipofisis
Suatu kelenjar endokrin yang terletak didasar tengkorak yang memegang peranan penting dalam sekresi hormon dari semua organ-organ endokrin. Kelenjar hipofise mempunyai 2 lobus :
a. Lobus anterior (adenohepofise) yang menghasilkan hormon antara lain :
1) Hormon somatropik, mengendalikan pertumbuhan tubuh.
2) Hormon titropik, mengendalikan kegiatan kelenjar tiroid dalam menghasilkan hormon tiroksin.
3) Hormon adrenokortikotropik (ACTH) mengendalikan kelenjar suprarenal dalam menghasilkan kortisol yang berasl dari korteks kelenjar suprarenal.
4) Hormon berasal dari follicle stimulating hormon (FSH) yang merangsang folikel degraf dalam oranium dan pembentukan spermatozoa dalam testis.
5) Luitiezing hormon (LH), mengendalikan sekresi estrogen dan progesteron dalam testis (ICTH)
b. Lobus posterior disebut juga Neotohepoise mengeluarkan 2 jenis hormon :
1) Hormon Antideirehli
2) Hormon Oksifeksin
2. kelenjar tyroid
Merupakan kelenjar yang terdapat dalam leher bagian depan bawah melekat pada dinding laring yang menghasilkan dan mamproduksi hormon tyroxin yang mengatur pertumbuhan jasmanidan rohani dan pertukan zat metabolisme dalam tubuh
3. kelenjar paratyroid
Terletak disetiapsisi kelenjar tyroid yang terdapat di dalam lehar yang menghasilkan para hormon dan para tyroksin yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor dalam tubuh
4. kelenjar tymus
Terletak di dalam torak kira-kira sehingga leifurkasi trakea, warnanya kemerah-merahan dan terdiri atas 2 lobus yang berfungsi mengaktifkan pertumbuhan badan dan mengurangi aktivitas kelenjar kelamin
5. kelenjar supra renal/ adrenal
Kelenjar sura renal jumlahnya 2 bagian, terdapat pada bagian atas dari ginjal kiri dan kanan. Ukuranya berbeda-beda ,beratnya kira-kira 5-9 gram, kelenjar supra renal ini terdiri atas 2 bagian yaitu :
a. Bagian luar yang berwarna kekuningan yang menghasilkan kortisol yang disebut korteks. Korteks adrenal terdiri atas 2 epitel besar yang mengandung lipid, dinamakan foam cells, yang tersusun melingkari sinosoid-sinosoid. Kortek adrenal terdiri atas 3 lapisan dari luar kedalam yaitu :
1) Zona glumerulosa
6. kelenjar pienalis( epifises )
7. kelenjar pankreatika
8. kelenjar kelamin

Kemungkinan bagi mikroorganisme atau parasit untuk menyebabkan penyakit bergantung pada faktor-faktor berikut.
a. Organisme dalam jumlah yang cukup
b. Virulensi, atau kemampuan untuk menyebabkan sakit.
c. Kemampuan untuk masuk dan bertahan hidup dalam penjamu.
d. Penjamu yang rentan.


Rantai Infeksi


B. Cara Penuluaran
Ada banyak cara penularan mikroorganisme dari reservoar ke penjamu. Penyakit infeksius tertentu cenderung ditularkan secara lebih umum melalui cara yang spesifik. Namun mikroorganisme yang sama dapat ditularkan melalui lebih dari satu rute. Misalnya herpes zoster dapat disebarkan melalui udara dalam nuklei atau melalui kontak langsung.
Meskipun cara utama penularan mikroorganisme adalah tangan dari pemberi pelayanan kesehatan, hampir semua objek dalam lingkungan misalnya stetoskop atau termometer dapat menjadi alat penularan patogen. Semua petugas rumah sakit yang memberi asuhan keperawatan dan yang memberi pelayanan diagnostik dan pendukung harus mengikuti praktik untuk meminimalkan penyebaran infeksi. Setiap kelompok mengikuti prosedur penanganan peralatan dan bahan yang digunakan klien dan membuang peralatan terapi yang prosedur diagnostik tertentu memberikan jalan bagi penyebaran patogen. Prosedur invasif seperti sitoskopi (visualisasi kandung kemih) mempermudah diagnosis masalah namun juga meningkatkan resiko penyebaran infeksi. Karena begitu banyak faktor yang padat meningkatkan penyebaran infeksi pada klien, semua pemberi layanan kesehatan harus berhati-hati dalam melakukan pengendalian infeksi seperti mencuci tangan dengan benar dan memastikan bahwa peralatan telah didesinfeksi atau disteril dengan adekuat.
Ada beberapa cara bagi mikroorganisme dalam menginfeksi penjamu antara lain :
1. Kontak
a. Langsung
Orang ke orang (fekal, oral) atau kontak fisik antara sumber dan penjamu yang rentan misalnya menyentuh klien.
b. Tidak Langsung
Kontak personal penjamu yang rentan dengan benda mati yng terkontaminasi mislnya jarum, benda runcing atau balutan.
c. Droplet
Partikel besar yang terpecik samapi 3 kali dan kontak yang rentan misalnya batuk, bersin atau bicara.
2. Udara
a. Droplet nukleus atau residu atau droplet evaporasi ada di udara misalnya batuk, bersin atau dibawa melalui partikel udara.
3. Peralatan
a. Alat-alat yang terkontaminasi
1) Air
2) Obat
3) Larutan
4) Darah
b. Makanan (daging yang diolah, disimpan atau dimasak dengan tidak tepat)
4. Vektor
a. Perpindahan mekanis eksternal (lalat)
b. Penularan internal seperti kondisi parasitik antara vektor dan penjamu seperti :
1) Nyamuk
2) Kutu
3) Lalat

C. Asuhan Keperawatan Dalam Pengendalian Infeksi
1. Pengkajian
Perawat mengkaji mekanisme pertahanan, kerentanan dan pengetahuan klien mengenai infeksi. Tinjauan ulang mengenai riwayat penyakit pada klien dan keluarga dapat mengungkapkan paparan terhadap penyakit menular. Tinjauan yang menyeluruh mengenai kondisi klien dapat mendeteksi tanda dan gejala infeksi. Analisa terhadap hasil labolatorium memberikan informasi tentang pertahanan klien melawan infeksi.
Dengan mengetahui faktor yang meningkatkan karentanan atau resiko terhadap infeksi, perawat menjadi lebih mampu untuk merencanakan terapi pencegahan yang meliputi tindakan aseptik. Dengan mengenali tanda dan gejala awal infeksi, perawat dapat waspada terhadap orang lain dalam tim pemberi perawatan terhadap kebutuhan potensal terhadap terapi dan tindakan keperawatan yang mendukung.


a. Kerentaan Klien
Banyak faktor yang mempengaruhi kerentanan terhadap infeksi. Perawat mengumpulkan informasi mengenai setiap faktor yang melalui riwayat klien dan keluarga. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh perawat antara lain :
1) Usia
Sepanjang jangka hidup, kerentanan terhadap infeksi berubah. Bayi memiliki pertahanan yang lemah terhadap infeksi. Lahir dengan hanya memiliki antibodi dari ibu, sistem imun imatur bayi belum mampu menghasilkan imunoglobulin dan leukosit yang diperlukan. Namun bayi yang diberi Air Susu Ibu (ASI) memiliki imunitas yang lebih besar dari pada bayi yang diberi susu botol.
Dewasa awal atau usia baya telah menyaring pertahanan terhadap infeksi. Flora normal, pertahanan sistem tubuh, inflamasi dan respons imum memberikan perlindungan terhadap mikroorganisme yang menginvasif.
2) Status nutrisi
Jika diet yang diberikan buruk dan penyakit yang melemahkan mengakibatkan asupan protein tidak adekuat. Kecepatan memecahkan protein melalui sintesis jaringan.
Klien yang sakit atau bermasalah sehingga mengakibatkan peningkatan kebutuhan terhadap protein lebih lanjut.


3) Stress
Tubuh berespon terhadap stres emosi atau fisik melalui sindrom adaptasi umum. Selama tahap waspada stress yang terus menerus mengarah pada kelelahan dimana simpanan energi dihabiskan dan tubuh tidak memiliki daya tahan terhadap serangan mikroorganisme. Kondisi yang meningkatkan kebutuhan nutrisi seperti pembedahan atau trauma juga meningkatkan stress fisiologis.
4) Hereditas
Kondisi hereditas tertentu mengganggu respons individu terhadap infeksi. Riwayat masalah medis klien yang sebelumnya dapat menunjukan masalah hereditas yang diketahui. Kelainan yang jarang ditemukan atau diturunkan atau didapat dengan kelainan ini sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan pertahanan terhadap infeksi seperti pembentukan antibodi.
5) Proses Penyakit
Korban penyakit diabetes melitus juga rentan terhadap infeksi karena kelemahan umum dan gangguan nutrisi. Penyakit yang mengganggu nutrisi. Penyakit yang mengganggu pertahanan sistemik tubuh seperti klien dengan luka bakar sangat rentan terhadap infeksi karena permukaan kulit rusak.
6) Diagnosa Keperawatan
Selama pengkajian perawat mengumpulkan temuan objektif seperti insisi terbuka atau asupan kalori menurun dan data subjektif seperti keluhan pasien tentang adanya nyeri tekan pada terbuka infeksi. Perawat harus mendiagnosa resiko infeksi atau membuat diagnosa yang merupakan hasil dari efek infeksi pada status kesehatan. Keberhasilan perawat dalam merencanakan intervensi keperawatan yang sesuai.
Adapun contoh dari diagnosa keperawatan adalah :
a) Resiko Infeksi berhubungan dengan :
1) Gangguan Imunitas
2) Kerusakan jaringan
3) Malnutrisi
b) Resiko cedera yang berhubungan dengan :
1) Gangguan imunitas
c) Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan :
1) Gangguan sirkulasi
2) Paparan terhadap iritan
2. Perencanaan
Rencana keperawatan klien berdasarkan pada setiap diagnosa keperawatan dan faktor yang berhubungan. Harapan perawat adalah untuk membuat perencanaan yang membentuk hasil yang dapat dicapai sehingga intervensinya memiliki harapan dan terarah.
Tujuan umum dari perawatan dapat termasuk yang berikut ini :
a. Pencegahan paparan terhadap organisme infeksius.
b. Memantau atau menurunkan penyebaran infeksi.
c. Mempertahankan resistensi terhadap infeksi
d. Klien dan keluarga belajar tentang teknik kontrol infeksi.

D. Pendidikan Kesehatan Klien
Sering kali klien harus belajar melakukan praktik kontrol infeksi dirumah. Setelah klien berada dirumah perawat menentukan pemenuhan mereka terhadap praktik pengendalian infeksi. Perawat mengajarkan klien tentang infeksi dan teknik untuk mencegah atau mengontrol penyebaran. Topik yang dapat didiskusikan perawat dalam sesi pembelajaran termasuk yang berikut ini :
1. Ajarkan klien mengenali peralatan untuk membersihkan menggunakan sabun dan air serta mendesinfeksi yang tepat.
2. Demonstrasikan mencuci tangan yang tepat, jelaskan bahwa tindakan ini dilakukan sebelum dan setelah setiap tindakan dan pada saat kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi.
3. Ajarkan klien tentang perawatan luka.
4. Bersihkan bagian yang tampak kotor secara terpisah dari cucian lainnya. Bilas dalam air hangat sampai batas daya tahan kain.




E. Contoh Asuhan Keperawatan Pada Klien Pada Kasus Infeksi.
1. Kasus
Tuan N 2o tahun masuk keruang IGD RSDS Pontianak dengan fraktur Femur, tuan N sudah 3 hari berada di ruang IGD. Tuan N mengatakan sudah 3 hari balutan belum diganti. Balutan tampak kotor disekitar balutan tampak kemerahan. Klien mengatakan badannya terasa hangat, saat di TTV TD 130/80 mmHg, N 85x/menit, T 38o ¬C, RR 20x/menit. Hasil lab leukosit 150.000 m3.
Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 Ds :
 Klien mengatakan sudah 3 hari balutan belum diganti
 Klien mengatakan badannya terasa hangat
Do :
 Balutan tampak kotor
 Disekitar balutan tampak kemerahan
 TTV TD 130/80 mmHg
N 85x/menit
T 38o ¬C
RR 20x/menit
 Hasil lab leukosit 150.000 m3. Pertahanan primer tidak adekuat : jaringan traumatik Resiko tinggi terhadap infeksi

2. Rencana Keperawatan
NO Diagnosa Keperawatan
Perencanaan Rasional
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat : jaringan traumatik yang ditandai dengan
Ds :
 Klien mengatakan sudah 3 hari balutan belum diganti
 Klien mengatakan badannya terasa hangat
Do :
 Balutan tampak kotor
 Disekitar balutan tampak kemerahan
 TTV TD 130/80 mmHg
N 85x/menit
T 38o ¬C
RR 20x/menit
 Hasil lab leukosit 150.000 m3. Infeksi tidak terjadi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam dengan kriteria hasil :
Ds :
 klien mengatakan balutan tanpak bersih
Do :
 Balutan tampak besih
 Disekitar balutan tidak tampak kemerahan lagi
 TTV TD 120/80 mmHg
N 80x/menit
T 36,5o ¬C
RR 18x/menit
 Hasil lab leukosit 4500-11000 m3.
1. kaji ulang dan observasi tindakan infeksi

2. lakukan tindakan keperawatan ganti balutan dengan menggunakan tekhnik septik dan anti septik

3. Berikan kompres hangat pada klien



4. lakukan tindakan pemeriksaan Tanda-tanda Vital (TTV) setiap 8 jam sekali
5. lakukan tindakan kolaborasi dengan tim Medis untuk pemberian antibiotik yang tepat pada klien 1. Pengenalan akan adanya kegagalan proses penyembuhan luka/berkembangnya komplikasi secara dini dapat mengakibatkan kondisi yang lebih serius. Menurunnya cairan menandakan adanya evolusi dari proses penyembuhan.

2. Mencegah akumulasi cairan yang dapat menyebabkan ekskoriasi.

3. vasodilatasi pembuluh darah guna menurunkan ketegangan

4. untuk mengetahui indikator perubahan suhu tubuh dan tekanan darah
5. Dapat diberikan secara profilaksis bila dicurigai terjadinya infeksi atau kontaminasi

3. Implementasi
No Tanggal / Jam Catatan Keperawatan Paraf
1 11 / 07.15-07.25

07.30-07.40

07.45-08.00 1. Mengkaji ulang dan observasi tindakan infeksi
• H : Tidak terjadinya komplikasi pada luka dan tidak terdapat cairan eksudat
• R : klien mengatakan
2. Melakukan tindakan keperawatan ganti balutan dengan menggunakan tekhnik septik dan anti septik
• H : balutan tampak bersih
• R : klien menerima tindakan yang dilakukan
3. Memberikan kompres hangat pada klien
• H : Suhu klien menurun T 36,5o ¬C
• R : klien mengatakan tubuhnya tidak terasa panas lagi
4. Melakukan tindakan pemeriksaan Tanda-tanda Vital (TTV) setiap 8 jam sekali
• H : TTV TD 120/80 mmHg
N 80x/menit
T 36,5o ¬C
RR 18x/menit
5. Melakukan tindakan kolaborasi dengan tim Medis untuk pemberian antibiotik yang tepat pada pasien
• H : obat cefotaxime masuk melewati infus
• R : klien menerima tindakan yang dilakukan NURDIANSYAH

4. Catatan Perkembangan
No Tanggal / Jam S.O.A.P Paraf
1 12 / 08.00 S : Klien mengatakan balutan bersih
O : Balutan tampak bersih tapi masih terdapat kemerahan disekitar luka
A : Masalah masih menjadi resiko
P : Lanjutkan tindakan keperawatan
1. Kaji tanda-tanda infeksi pada balutan klien
2. Lakukan perawatan dengan tehnik septik dan aseptik
3. Lakukan tindakan keperawatan mengukur tanda-tanda vital
4. Lakukan kolaborasi dengan tim medis.



BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas maka dapat kita simpulkan bahwa penyakit timbul jika patogen berkembang biak dan menyebabkan perubahan pada jaringan normal, jika penyakit infeksi dapat ditularkan langsung dari satu orang ke orang lain penyakit ini merupakan menular atau contagius
Infeksi akan terjadi jika rantai tetap berhubungan seperti rantai agen infeksius, resevoar, portal masuk, cara menular, portal keluat dan penjamu dengan ber dx resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat : jaringan traumatik dan infeksi tidak akan terjadi apabila perawat selalu mengajarkan klien mengenali peralatan untuk membersihkan menggunakan sabun dan air serta mendesinfeksi yang tepat. Demonstrasikan mencuci tangan yang tepat, menjelaskan bahwa tindakan ini dilakukan sebelum dan setelah setiap tindakan dan pada saat kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi. Mengajarkan klien tentang perawatan luka. Membersihkan bagian yang tampak kotor secara terpisah dari cucian lainnya dan membilas dengan air hangat sampai batas daya tahan kain.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka klien dan keluarga harus mampu mengenali diri mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpanjan pada penyakit menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi dan perlindungan barier yang tepat.
1. Diharapkan untuk rumah sakit dalam melakukan tindakan dalam penggunaan alat itu harus menggunakan tekhnik steril dan setiap melakukan tindakan hendaklah mengurangi resiko terjadinya infeksi nasokomial.
2. Dalam pembuatan makalah ini penulis merasa terbantu dengan adanya sarana seperti perpustakaan yang menjadi literatur-literatur tentang infeksi, dan diharapkan bagi sivitas akademika untuk selalu memperhatikan setiap literatur-literatur dan menambah literatur-literatur yang baru.
3. Dan diharapkan lagi bagi rekan-rekan sejawat untuk selalu memperhatikan dalam melakukan setiap tindakan steril dan diharapkan bagi teman-teman sejawat untuk selalu giat belajar dan menambah ilmu tentang infeksi.




Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth. 1999. Keperawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta.
Potter & Perry. 2000. Fundamental Keperawatan. EGC : Jakarta.
(www. Medicastore/Infeksius. co.id).
lynda juall carpenito, 1998. Diagnosa Keperawatan Edisi 6. EGC : Jakarta
Potter & Perry. 1996. Fundamental Keperawatan edisi 4. EGC : Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar