LANDASAN TEORI
A. Konsep Dasar Etika
1. Definisi etika dan etiket
Keperawatan merupakan salah satu profesi yang mempunyai bidang garap pada kesejahteraan manusia, yaitu dengan memberikan bantuan pada individu yang sehat maupun yang sakit untuk dapat menjalankan fungsi hidup sehari-harinya. Karena bidang garap keperawatan adalah manusia , maka diperlukan suatu aturan yang menata hubungan perawat dengan pasien, mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi.
Salah satu aturan yang mengatur hubungan antara perawat-pasien adalah etika. Istilah etika dan moral sering digunakan secara bergantian. Secara falsafah kedua istilah ini memiliki perbedaan (ladd, 1987, lih. Pada Megan, 1989). Perbedaan antara etika dan moral hanya terletak pada dasar linguistiknya saja. Etika berasal dari bahasa Yunani ethikos-yang berarti adat istiadat atau kebiasaan, sedangkan moralitas berasal dari bahasa latin, yang juga berarti adat istiadat atau kebiasaan. Sumber lain mengatakan bahwa moral mempunyai arti tuntunan perilaku dan keharusan masyrakat, sedangkan etika mempunyai arti prinsip-prinsip dibelakang keharusan tersebut (Thomson dan Thomson, 1981 ; lih Doheny, Cook, stopper, 1982).
Dalam oxford advanced learner’s dictionary of current English, AS hornby mengartikan etika sebagai system dari prinsip-prinsip moral atau aturan-aturan perilaku. Sedangkan moral berarti prinsip-prinsip yang berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk.
Definisi yang lebih jelas dikemukakan oleh Curtin, yaitu etika merupakan suatu disiplin yang diawali dengan menerapkan prinsip-prinsip untuk mendeterminasi perilaku yang baik terhada suatu situasi yang dihadapi (MacPhail, 1988).
Berkaitan dengan etika dan moral, terdapat pula istilah etiket yang merupakan cara atau aturan yang sopan dalam berhubungan social. Sedangkan etiket professional berarti perilaku yang diharapkan bagi setiap anggota profesi untuk bertindak dengan kapasitas profesionalnya (Tabbner, 1981).
Etika dan moral merupakan sumber dalam merumuskan standard an prinsip-prinsip yang menjadi penuntun dalam berperilaku serta membuat keputusan untuk melindungi hak-hak manusia. Etika diperlukan oleh semua profesi termasuk juga keperawatan, yang mendasari prinsip-prinsip suatu profesi dan tercermin dalam standar praktik profesi (Doheny, Cook, Stoper, 1982).
2. Fungsi etika dan etiket
Kita sudah melihat bahwa etika menyediakan orientasi. Meskipun tidak setiap orang memerlukan orientasi itu apalagi, tanpa etika ilmiah pun kebanyakan orang dengan sendirinya sedikit beretika, namun orang yang tidak begitu saja mempercayakan diri pada lingkungannya akan merasakan kebutuhan suatu orientasi krisis dibidang moral. Ada sekurang-kurangnya empat alasan mengapa etika pada zaman kita semakinperlu.
a. Pertama, kita hidup dalam masyarakat yang semakin pluralistic, juga dalam bidang moralitas. Setiap hari kitabertemu orang-orang dari suku, daerah dan agama yang berbeda-beda. Kesatuan tatanan normative sudah tidak ada lagi. Kita berhadapan dengan sekian banyak pandangan moral yang sering saling bertentangan dan semua mengajukan klaim mereka pada kita. Mana yang akan kita ikuti, yang kita peroleh dari orang tua kita dulu, moralitas tradisional desa, moralitas yang ditawarkan melalui media masa.
Secara historis etoka sebagai usaha filsafat lahir dari keambrukan tatanan moral dilingkungan kebudayaan yunani 2500 tahun lalu. Karena pandangan-pandangan lama tentang baik buruk tidak lagi dipercayai, para filosof mempertanyakan kembali norma-norma dasar bagi kelakukan manusia.
b. Kedua, kita hidup dalam masa transformasi masyarakat yang tanpa tanding. Perubahan itu terjadi dibawah hantaman kekuatan yang mengenai semua segi kehidupan kita, yaitu gelombang modernisasi. Tidak perlu kita mencoba mendefinisikan disini apa yang dimaksud dengan modernisasi. Jelaslah bahwa modernisasi telah terasa sampai kepenjuru tanah air, sampai kepelosok-pelosok yang paling terpencil.
c. Ketiga, tidak mengherankan bahwa proses perubahan social budaya dan moral yang kita alami ini dipergunakan oleh berbagai pihak untuk memancing diari keruh. Mereka menawarkan ediologi-ediologi mereka sebagai obat penyelamat. Etika dapat membuat kita sanggup untuk menghadapi ediologi-ediologi itu dengan kritis dan objektif dan untuk membentuk penilaian sendiri, agar kita tidak terlalu mudah terpancing. Etika juga membantu agar kita jangan naïf atau ekstrem. Kita jangan cepat-cepat memeluk segala pandangan baru, tetapi juga jangan menolak nilai-nilai hanya karena baru dan belum bisa.
d. Keempat, etika juga diperlukan oleh kaum agama yang di satu pihak menemukan dasar kemantapan mereka dalam iman kepercayaan mereka, dilain pihak sekaligus mau berpartisipasi tanpa takut-takut dan dengan tindak menutupi diri dalam semua dimensi kehidupan masyarakat yang sedang berubah itu.
3. Persamaan etika dan etiket
Persamaan antara etika dan etiket adalah sebagai berikut :
a. Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah-istilah ini hanya kita pakai mengenai manusia. Hewan tidak mengenal etika maupun etiket.
b. Baik etika maupun etiket mengatur perilaku manusia secara normative, artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yang harus dilakukan justru karean sifat normatif kedua istilah ini mudah dicampuradukkan.
4. Perbedaan etika dan etiket
Ada beberapa perbedaan sangat penting antara etikadan etiket. Disini kita akan mempelajari sepintas empat macam perbedaan :
a. Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Di antara beberapa cara yang mungkin, etiket menunjukan cara yang tepat, artinya, cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu. Misalnya, jika saya menyerahkan sesuatu kepada atasan, saya harus menyerahkan dengan menggunakan tangan kanan. Dianggap melanggar etiket, bila seseorang menyerahkan sesuatu dengan tangan kiri. Tetapi etika tidak terbatas dengan cara yang dilakukannya suatu perbuatan ; etika memberi norma tentang perbuatan itu sendirietika menyangkut masalah apakahsesuatu perbuatan boleh dilakukan ya atau tidak. Mengambil barang milik orang lain tanpa izin, tidak pernah diperbolehkan. “jangan mencuri” merupakan suatu norma etika. Apakah orang mencuri dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri disini sama sekali tidak relevan. Norma etis tidak terbatas pada cara perbuatan dilakukan, melainkan menyangkut perbuatan itu sendiri.
b. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak ada orang lain hadir atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Misalnya, ada banyak peraturan etiket yang mengatur cara kita makan. Dianggap melanggar etiket, bila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja dan sebagainya. Tapi kalau saya makan sendiri, saya tidak melanggar etiket, bila makan dengan cara demikian. Sebaliknya, etiks selalu berlaku, juga kalau tidak ada saksi mata. Etika tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain. Larangan untuk mencuri selalu berlaku, entah ada orang lain, hadi atau tidak. Barang yang dipinjam harus selalu dikembalikan, juga jika pemiliknya sudah lupa.
c. Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam suatu kebudayaan lain. Contoh yang jelas adalah makan dengan tangan atau tersendawa waktu makan. Lain halnya dengan etika. Etika jauh lebih absolute “jangan mencuri” merupakan prinsip-prinsip etika yang tidak bias ditawar-tawar atau mudah diberi “dispensasi”. Memang benar, ada kesulitan cukup besar mengenai keabsolutan prinsip-prinsip etis yang dibicarakan lagi dalam buku ini. Tapi tidak bias diragukan, relativitas etiket jauh lebih jelas dan jauh lebih mudah terjadi.
d. Jika kita berbicara tentang etiket, kita hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja, sedang etika menyangkut manusia dari segi dalam. Bias saja orang tampil sebagaai “musang berbulu ayam” : dari luar sangat sopan dan halus, tapi didalam penuh kebusukan. Banyak penipu berhasil dengan maksud jahat mereka, justru karena penampilannya begitu halus dan menawan hati, sehingga mudah meyakinkan orang lain. Tidak merupakan kontradiksi, jika seseorang selalu berpegang pada etiket dan sekaligus bersifat munafik. Tapi orang yang etis sifatnya tidak mungkin bersifat munafik, sebab seandainya dia munafik, hal itu dengan sendirinya berarti ia tidak bersikap etis. Disini memang ada kontradiksi. Orang yang bersifat etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik. Sudah jelaslah kiranya bahwa perbedaan terakhir ini paling penting diantara empat perbedaan yang dibahas tadi.
5. Etika dan agama
Ada dua masalah dalam bidang moral agama yang tidak dipecahkan tanpa penggunaan metode etika.
a. Masalah interpretasi terhadap perintah atau hokum yang termuat dalam wahyu.
b. Bagaiman masalah-masalah moral yang baru, yang tidak lansung dibatas dalam wahyu dapat dipecahkan dengan semangat agama itu.
Etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia menjadi baik. Akal budi itu ciptaan ALLAH dan tentu diberikan kepada kita untuk dipergunakan dalam semua dimensi kehidupan. Wahyu tidak berarti bahwa daya piker kita dapat dicutikan dari orang beragama pun diharapkan agar mempergunakan anugerah sang pencipta itu jangan sampai akal budi dikesampingkan dari nilai agama. Itulah sebabnya mengapa justru kaum agama diharapkan benar-benar memakai rasio dan metode-metode etika.
6. Metode etika
Pendekatan kritis adalah salah satu cara pendekatan yang dituntut dalam semua aliran yang pantas disebut etika.
Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran \, melainkan memeriksa kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, norma-norma, dan pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika menurut pertanggung jawaban dan mau mengungkapkan kerancuan. Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral yang dikemukakan, dipertanggung jawabkan etika berusaha untuk menjernihkan masalah moral.
7. Nilai dan moral
Yang dibicarakan tentang nilai pada umumnya tentu berlaku juga untuk nilai moral. Tetapi apakah kekhususkan suatu nilai moral? Apakah yang mengakibatkan suatu nilai menjadi nilai moral? Mari kta mulai dengan menggarisbawahi bahwa dalam arti tertentu nilai moral tidak merupakan suatu kategori nilai tersendiri disamping kategori-kategori nilai yang lain. Nilai moral tidak terpisah dari nilai-nilai jenis lainnya. Setiap nilai dapat memperoleh suatu “bobot moral”, bila diikut sertakan dalam tingkah laku moral. Kejujuran, misalnya, merupakan suatu nilai moral, tapi kejujuran itu sendiri “kosong”, bila tidap diterapkan pada nilai lain, seperti umpamanya nilai ekonomis. Kesetiaan merupakan suatu nilai moral yang lain, tapi harus diterapkan pada nilai manusiawi lebih umum, misalnya, cinta antara suami istri. Jadi, nilai-nilai yang disebut sampai sekarang bersifat “pramoral”. Nilai-nilai itu mendahului tahap moral, tapi bisa mendapat bobot moral, karena diikutsertakan dalam tingkah laku moral. Dibawah ini kita kembali lagi pada sifat khas moral ini.
Walaupun nilai moral biasanya menumpang pada nilai-nilai lain, namun ia tampak sebagai suatu nilai baru, bahkan sebagai nilai yang paling tinggi. Hal itu ingin kami perlihatkan dengan mempelajari ciri-ciri niali moral. Nilai moral mempunyai cirri-ciri berikut ini.
a. Berkaitan dengan tanggung jawab kita
Nilai moral berkaitan dengan pribadi manusia. Tapi hal yang sama dapat dikatakan juga tentang nilai-nilai lain. Yang khusus menandai nilai moral adalah bahwa niali ini berkaitan dengan prbadi manusia yang bertanggung jawab. Nilai-nilai moral mengakiatkan bahwa seseorang bersalah atau tidak bersalah, karena ia bertanggung jawab. Nilai-nilai lain tidak begitu. Bahwa anak saya tidak mempunyai inteligensi tinggi atau tidak cantik, bisa saya sesalkan, tapi atas keadaan itu saya dan anak itu sendiri tidak bertanggung jawab. Bahwa seseorang mempunyai bakat sebagai pemain bulu tangkis atau mempunyai watak yang menyenangkan, tentu merupakan hal yang sangat mengembirakan, tapi keadaan itu sendiri tidak menjadi jasanya., karena tidak termasuk tanggung jawabnya.
b. Berkaitan dengan hati nurani
Semua nulai minta untuk diakui dan diwujudkan. Niali selalu mengandung semacam undangan atau imbauan. Nilai estetis, misalnya, seolah-olah “minta” supaya diwujudkan dalam bentuk lukisan, koposisi music atau cara lain. Dan kalau sudah jadi lukisan “ minta “ untuk dipamerkan dan music “minta” untuk didengarkan. Tapi pada nilai-nilai moral tuntunan ini lebih mendesak dan lebih serius. Mewujudkan nilai-nilai moral merupakan “imbauan” dari hati nurani. Salah satu ciri khas nilai moral adalah bahwa hanya nilai ini menimbulkan “suara” dari hati nurani yang menuduh kita bila meremehkan atau menentang nilai-nilai moral dan memuji kita bila mewujudkan nilai-nilai moral.
8. Mewajibkan
Berhubungan erat dengan cirri tadi adalah cirri berikutnya bahwa nilai-nilai moral mewajibkan kita secara absolute dan dengan tidak bisa ditawar-tawar. Nilai-nilai lainsepatutnya diwujudkan atau seyogyanya diakui. Nilai estetis, umpamanya. Orang yang berpendidikan dan berbudaya akan mengakui serta menikmati nilai estetis yang terwujud dalam sebuah lukisan yang bermutu tinggi. Tapi orang yang bersikap acuh tak acuh terhadap lukisan itu tidak bisa dipersalahkan. Niali estetis tidak secara mutlak harus diterima. Pada kenyataannya kita lihat bahwa music bach atau Mozart bagi banyak orang membosankan saja, biarpun megejawantahkan nilai estetis yang tinggi, sedangkan mereka senang sekali dengan musik pop yang nilai estetisnya tidak seberapa. Padahal, musik bach dan Mozart mempunyai nilai abadi dan music pop pada umumnya sesudah satu atau dua tahun dilupakan sama sekali, karena sudah diganti dengan music pop versu mutakhir. Tapi nilai-nilai moral haru diakui dan haru direalisasikan. Tidak bisa diterima, bila seseorang acuh tak acuh terhadap nilai-nilai ini.
9. Bersifat formal
Disini kami kembali pada awal uraian tentang nilai moral ini. Nilai moral tidak merupakan suatu jenis nilai yang bisa ditempatkan begitu saja di samping jenis-jenis nilai lainnya. Biarpu nilai-nilai moral merupakan nilai-nilai tertinggi yang harus dihayati di atas semua nilai lain, seperti sudah menjadi jelas dari analisis sebelumnya, namun tidak berarti bahwa niali-nilai ini menduduki jenjang teratas dalam suatu hierarki nilai-nilai. Nilai-nilai moral tidak membentuk suatu kawasan khusus yang terpisah dari nilai-nilai lain. Jika kita mewujudkan nilai-nilai moral, kita tida perbuat sesuatu yang lain dari biasa.
10. Kepribadian dalam etika
a. Konsep individu dan pribadi
Kata indivu berasal dari kata latin invidualis, terjemahan dari kata yunanai hormone, yang artinya kesatuan yang tidak dapat dibagi. Definisi pribadi bermacam-macam, ada yang berdasarkan biologi, psiko-analisis dan sosiologi.
b. Konsep totalitas atau keseluruhan / integrasi, struktur, homeostatis (keseimbangan dan pertumbuhan proses jiwa
c. Kesadaran etik pribadi memuncak alam konflik kata hati
Yang dimaksud etik pribadi adalah keaktifan dalam jiwa yang menuai baik jahaat, yang menetukan ukuran-ukuran dan yang memimpin kelakuan dalaam bahasa sehari-hari yang menntukan norma-norma kelakuan.
d. Peran kata hati alam keseluruhan pribadi
Artinya hanya dalam bentuk konflik yang hebat, tetapi itdak ada dalam kelakuan, dalam keputusan paling sukar daln paling nyata dalam kehidupan yang kita namakan kata hati tidaklah lain dari pada konsentrasi kesadaran.
e. Peran dan nilai-nilai sebagai tenaga pendorong kelakuan
f. Peningakatan jiwa dan perkembangan nilai-nilai
g. Kesatuan pribadi
h. Tempat ego dan kata hati dalam berbagai konflik dalam pribadi
11. Beberapa pendapat dan aliran dalam etika
a. Ukuran baik dan buruk
Dalam etika sebagai filsafah tentang tingkah laku, antara lain dibicarakan apakah ukuran baik dan buruknya kelakuna manusia. Yang dicari adalah ikuran yang bersifat umum yang berlaku bagi semua manusia dan tidak hanya berlakuk bagissebagian manusia.
b. Etika deontologist
Istilah “ deontologist” barasal dari yunani yang berarti “kewajiban” (duty) karena itu etika deontology menekan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik.
c. Etika teleologis
Etika teleologis justru mengukur baik buruknya suatu tindakan itu, atau berdaasarkan kaibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Suatu tindakan dinilai baik, jika bertujuan mencapai sesuatu yang baik, atau jiwa akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.
d. Universalisme
Universal berarti umum, universalisme sebagai suatu ajaran etik berarti sesuatu itu dapat danilai baik buruk bila dapat memberikan kepada banyak orang.
e. Intuisioisme dan alterisme
Dari kata intuition ilham, bisikan kalbu paham ini berpendapat bahwa penilaian atas baik buruknya susila dan tidak susila itu dapat diketahui dengan cara intuisi yang merupakan suatu petimbangan rasa yang timbul dari bisikan kalbu.
f. Hodenisme
Dari bahasa grif : hedone yang berarti kesenangan, pleasure. Istilah ini mula-mula digunakan oleh Jeremy betham pada tahun 1781. Prinsip dari aliran ini menganggap bahwa sesuatu itu dianggap baik, sesuai dengan kesenangan yang didatangkannya.
g. Eudemonisme
Dalam bahasa grik : eudaemonistmos yang berarti happy / bahagia. Istilah ini mula-mula digunakan dari aristoteles. Prinsip ajaran aliran ini menilai baik / tidak baik sesuatu itu, dinilai dari ada / tidaknya kebahagiaan yang didatangkannya.
h. Altruisme
Asal kata alteri yang berarti orther, orang lain aliran merupakan lawan dari egois. Altruisme adalah suatu paham / aliran yang prinsipnya mengutamakan kepentingan orang lain sebagai lawan dari kepentingan diri sendiri.
i. Tradisionalisme
Asal kata dari tradition yang berarti kebahagiaan, adat istiadat, tegasnya suatu ajang yang dapat dipindahkan turun temurun dari generasi kegenerasi seterusnya.
12. Peranan etika dalam kehidupan modern
Pluralisme moral terutama dirasakan karena sekarang kita hidup dalam era komunikasi dalam hal ini perkembangan muktahir adalah internet. Bersama dengan menerima informasi sebanyak itu kita berkenalan pula dengan norma. Cirri lain yang memadai situasi etis dizaman kita adalah timbulnya masalah-masalah etis baru , yang terutama disebabkan perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya ilmu-ilmu biomedis. Cirri ketiga adalah suatu kepedulian etis yang tampak diseluruh dunia dengan melewati perbatasan Negara. Globalisasi tidak saja merupakan gejala di bidang ekonomi tetapi juga dibidang moral.
Gejala paling mencolok tentang kepedulian etis adalah deklarasi universal tentang hak-hak asasi manusia yang di proklamasikan oleh perserikatan bangsa-bangsa pada 10 desember 1948. Proklamasi ini pernah disebut kejadian etis yang paling penting dalam abad ke-20, deklarasi tersebut tidak merupakan pertanyaan hak-hak yang pertama dalam sejarah, tapi merupakan pertanyaan pertama yang diterima secara global karena diakui oleh semua anggota PBB. Dan tanpa memandang isinya hal ini sudah merupakan suatu fenomena yang luar biasa.
Situasi moral dalam dunia modern ini mengajak kita member prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang.
B. Etika Profesi Keperawatan
1. Definisi Etika Profesi
Etik atau ethics bersal dari bahasa yunani, yaitu etos yang artinya adat, kebiasaan, perilaku, atau karakter. Sedangkan menurut kamus Webster, etik adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral. Dari pengertian di atas, etika adalaah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaiman sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu : a) baik dan buruk; dan b) kewajiban dan tanggung jawab.
2. Defnisi Etika Keperawatan
Keperawatan merupakan salah satu profesi yang mempunyai bidang garap pada kesejahteraan manusia, yaitu dengan memberikan bantuan pada individu yang sehat maupun yang sakit untuk dapat menjalankan fungsi hidup sehari-harinya. Karena bidang garap keperawatan adalah manusia , maka diperlukan suatu aturan yang menata hubungan perawat dengan pasien, mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi.
Salah satu aturan yang mengatur hubungan antara perawat-pasien adalah etika. Istilah etika dan moral sering digunakan secara bergantian. Secara falsafah kedua istilah ini memiliki perbedaan (ladd, 1987, lih. Pada Megan, 1989). Perbedaan antara etika dan moral hanya terletak pada dasar linguistiknya saja. Etika berasal dari bahasa Yunani ethikos-yang berarti adat istiadat atau kebiasaan, sedangkan moralitas berasal dari bahasa latin, yang juga berarti adat istiadat atau kebiasaan. Sumber lain mengatakan bahwa moral mempunyai arti tuntunan perilaku dan keharusan masyrakat, sedangkan etika mempunyai arti prinsip-prinsip dibelakang keharusan tersebut (Thomson dan Thomson, 1981 ; lih Doheny, Cook, stopper, 1982).
Dalam oxford advanced learner’s dictionary of current English, AS hornby mengartikan etika sebagai system dari prinsip-prinsip moral atau aturan-aturan perilaku. Sedangkan moral berarti prinsip-prinsip yang berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk.
Definisi yang lebih jelas dikemukakan oleh Curtin, yaitu etika merupakan suatu disiplin yang diawali dengan menerapkan prinsip-prinsip untuk mendeterminasi perilaku yang baik terhada suatu situasi yang dihadapi (MacPhail, 1988).
Berkaitan dengan etika dan moral, terdapat pula istilah etiket yang merupakan cara atau aturan yang sopan dalam berhubungan social. Sedangkan etiket professional berarti perilaku yang diharapkan bagi setiap anggota profesi untuk bertindak dengan kapasitas profesionalnya (Tabbner, 1981).
Etika dan moral merupakan sumber dalam merumuskan standard an prinsip-prinsip yang menjadi penuntun dalam berperilaku serta membuat keputusan untuk melindungi hak-hak manusia. Etika diperlukan oleh semua profesi termasuk juga keperawatan, yang mendasari prinsip-prinsip suatu profesi dan tercermin dalam standar praktik profesi (Doheny, Cook, Stoper, 1982).
3. Kegunaan Etika Profesi Dalam Praktek
Profesi adalah suatu moral community (masyarakat moral) yang emiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama. Mereka yang memebntuk suatu profesi disatukan juga karena latar belakang pendidikan yang sama dan bersama-sama memilki keahlian yang tertutup bagi orang lain. Dengan demikian profesi menjadi suatu kelompok yang mempunyai kekuasaan tersendiri dan Karena itu mempunyai tanggung jawab khusus. Karena memiliki monopoli atas suatu keahlian tertentu, selalu ada bahaya profesi menutup diri bagi orang dari luar dan menjadi suatu kalangan yang sukar ditembus. Bagi klien yang mepergunakan jasa profesi tertentu keadaan seperti itu dapat mengakibatkan kecurigaan jangan-jangan ia dipermainkan. Kode etik dapat mengimbangi segi negative profesi ini. Dengan adanya kode etik kepercayaan masyarakat akan suatu profesi dapat diperkuat, karena setiap klien mempunyai kepastian bahwa kepentingannya akan terjamin. Kode etik ibarat kompas yang menunjukan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral profesi tiu dimata masyarakat.
Dalam kontek itu etika terapan memegang peranan penting. Kode etik bisa dilihat sebagai produk etika terapan, sebab dihasilkan berkat penerapan pemikiran etis atas suatu wilayah tertentu, yaitu profesi. Tapi setelah kode etik itu ada, pemikiran etis tidak berhenti. Kode etik tidak menggantikan pemikiran etis, tapi sebaliknya selalu didampingi oleh refleksi etis. Kode etik yag sudah ada, sewaktu-waktu harus dinilai kembali dan, jika perlu, direvisi atau disesuaikan. Hal itu bisa mendesak karena situasi yang berubah. Dalam dekade-dekade terakhir ini timbulnya komputerisasi, misalnya, bagi banyak profesi menciptakan suatu situasi baru yang menimbulkan implikasi-implikasi etis yang baru pula. Kode etik bisa diubah juga atau dibuat baru, jika sebelumnya tidak ada, setelah terjadi penyalahgunaan yang meresahkan masyarakat dan membingungkan profesi itu sendiri. Ini terbukti suatu cara ampuh untuk memulihkan kembali kepercayaan masyarakat yang sedang tergoncang sebuah contoh konkret yang dapat menjelaskan maksudnya. Akhir-akhir ini dibeberapa Negara hubungan para dokter dan industry farmasi diatur dengan kode etik. Hal itu dianggap perlu, setelah dalam rangka promosi obat-obatan industri farmasi itu mulai memberikan hadiah kepada dokter.
4. Fungsi Etika Keperawatan
Etika sebagai suatu ilmu, merupakaan salah satu cabang dari filsafat. Sifatnya praktis, normative dan fungsional, sehingga dengan demikian merupakan suatu ilmu yang lansung berguna dalampergaulan hidup sehari-hari, etika juga dapat menjadi asas dan menjiwai norma-norma dalam kehidupan, disamping sekaligus memberika penilaian terhadap corak perbuatan seseorang sebagai manusia.
Dalam percakapan sehari-hari kita sering dengar :
a. Perbuatan si A itu tidak susila. Masa tidak berbusana ditengah orang banyak
b. Si B itu seorang yang immoral, anak tirinya sendiri diperkosanya.
c. Sekolahnya memang sudah tinggi, tetapi saying kelakuannya non etis, kurang sopan, dan sebagainya.
Contoh percakapan ini memperlihatkan, bahwa istila-istilah : etik, etika, moral, susila yang kesemuanya itu menyaangkut penilaian terhadap baik buruknya perbuatan atau tingakah laku seseorang, digunakan secara berganti dalam pengertian yang sama.
Telah dijelaskan terdahulu, bahwa etika itu dapat dipelajari oleh siapa saja. Hanya perlu diketahui , bahwa sebenarnya terdapat suatu perbedaan antara belajar etika dengan pelajaran-pelajaran lainnya. Satu contoh : seorang yang mempelajari bahasa misalnya, sampai mencapaai titel doktor, professor yang dimilikinya, tetapi tidak atau belum merupakan pengakuan atau jaminan terhadap tingkah-tingkah sebagai individu.
C. Kode Etik Profesi Keperawatan
1. Definisi kode etik
Kode etik adalah tatanan ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia hidup dalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan / prinsip-prinsip yang menen tukan tingkah laku yang benar (baik-buruk, kewajiban, dan tanggung jawab) secara hokum dan undang-undang yang membedakan benar / salah secara moralitas.
2. Definisi kode etik keperawatan
Kode etik keperawwatan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat.
Kode etik keperawatan mencakup 2 hal penting, yaitu etik dalam hal perilaku manusiawi
3. Tujuan kode etik keperawatan
Upaya perawat dalam menjalankan setiap tugas dan fungsinya, dapat menghargai dan menghormati maratabat manusia.
Tujuan kode etik keperawataan secara umum adalah menciptakan dan mempertahankan kepercayaan klien kepada perawat, kepercayaan diantara sesama perawat, dan kepercayaan masyarakat kepada profesi keperawatan.
Tujuan K.E.K antara lain, merupakan :
a. Dasar dalam mengatur hubungan antara perawat-klien teman sebaya-masyarakat dan unsure profesinya dengan profesi lain diluar profesi keperawatan.
b. Standar untuk mengatasi masalah yang dilakukan oleh praktisi keperawatan yang tidak mengindahkan dedikasi moral dalam pelaksanaan tugasnya.
c. Untuk mempertahankan bila praktisi yang dalam menjalankan tugasnya diperlakukan secara tidak adil oleh institusi maupun masyarakat.
d. Dasar dalam menyusun kurikulum pendidikan keperawatan agar dapat menghasilkan lulusan yang berorientasi pada sikap professional keperawatan.
e. Memberikan pemahaman kepada masyarakat pengguna tenaga keperawatan akan pentingnya sikap prifesional dalam melaksanakan tugas praktik keperawatan.
4. Beberapa Kode Etik Keperawatan
a. Kode etik perawat international
1) Konsep etik dalam keperawatan
Tanggung jawab utama perawat ada 4 lingkup : meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan dan mencegah kekambuhan.
Kebutuhan keperawatan bersifat universal. Keperawatan tetap menghargai hidup dan hak manusia serta tidak membedakan status kewarganegaraan, suku, keyakinan, warna kulit, usia, jenis kelamin, politik, maupun social.
Pelayanan keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat serta mengkoordinasikan asuhan keperawatan dengan berbagai pihak terkait.
b. Perawat dan klien
1) Tanggung jawab utama perawat adalah pada klien yang membutuhkan asuhan keperawatan.
2) Dalam memberikan keperawatn, perawat menghargai kepercayaan, nilai-nilai dan kebiasaan individu.
3) Perawat memegang rahasia informasi individu dan menggunakan pertimbangan / keputusan dalam mendiskusikan informasi tersebut.
c. Perawat dan praktik
1) Perawat memegang tanggung jawab pribadi terhadap praktik keperawatan dan terhadap pemertahan kompetensi dengan pendidikan berkelanjutan.
2) Perawat tetap mempertahankan standar asuhan keperawatan yang tinggi disesuaikan dengan situasi tertentu yang ada.
3) Perawat menggunakan keputusan / pertimbangn kompetensi dalam menerima atau mendelegasikan suatu tanggung jawab.
4) Perawat dalam bertindak secara professional tetap mempertahankan standar tingkah laku pribadi yang mencerminkan ciri khas keprofesiannya.
d. Perawat dan masyarakat
Perawat mengadakan sambung rasa dengan anggota masyarakat tentang tanggung jawabnya terhadap pemenuhan kebutuhan kesehatan dan social masyarakat.
e. Perawat dan teman sejawat
Perawat mempertahankan kerjasama yang baik dengan teman sejawat keperawatan dan profesi kesehatan lain.
Perawat melakukan tindakan yang tepaat untuk melindungi individu sewaktu perawatan individu tersebut terancam bahaya oleh teman sejawat atau pihak lain.
f. Perawat dan profesi
Perawat mempunyai peran utama dalam mendeterminasikan dan melaksanakan standar praktik keperawatan dan pendidikan keperawatan sesuai yang dihadapi.
Perawat berperan aktif dalam mengembangkan inti pengetahuanprofesional.
Perawat berprasangka melalui organisasi profesi, dan berpartisipasi dalam menentukan dan mempertahankan kondisi social dan ekonomi keperawatan yang pantas.
b. Kode etika keperawatan Indonesia
Sebagai profesi yang ikut serta mengusahakan tercapainya kesejahteraan fisik material dan mental spiritual untuk mahluk insani dalam wadah Negara Republik Indonesia, maka kehidupan profesi perawatan di Indonesia selalu berpedoman kepada sumber asalnya yaitu kebutuhan masyarakat Indonesia akan pelayanan kesehatan.
Warga perawatan di Indonesia menyadari bahwa kebutuhan akan perawatan bersifat universal bagi orang seorang, keluarga dan masyarakat dan oleh karenanya pelayanan yang dipersembahkan oleh para perawat adalah selalu berdasarkan kepada cita-cita yang luhur, niat yang murni untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia tanpa membedakan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan agama yang dianut serta kedudukn social.
Dalam melaksanakan tugas pelayana keperawatan kepada orang seorang, keluarga dan masyarakat, cakupan tanggung jawab perawat Indonesia adalah menigkatkan derakad kesehatan, mencegah terjadinya penyakit, memulihkan kesehatan, serta mengurangi dan menghilangkan penderitaan yang semua ini dilaksanakan atas dasar pelayanan perawatan paripurna.
Dalam melaksanakan tugas profesionalnya yang berdaya guna dan berhasilguna, par perawat mampu dan ikhlas mempersembahkan pelayanan yang bermutu dengan memelihara dan menigkatkan integritas sifat-sifat pribadi yang tinggi dengan ilmu serta keterampilan perawatan yang memadai dengan kesadaran bahwa pelayanan yang dipersembahkan adalah merupakan bagian dari upaya kesehatan serta menyeluruh.
Dengan bimbingan Tuhan Yang Maha Esa dalam melaksanakan tugas pengabdian, untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa dan tanah air, Persatuan Perawat Nasional Indonesia menyadari bahwa Perawat Indonesia yang berjiwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 merasa terpanggil untuk menunaikan karyanya dalam bidang keperawatan dengan penuh rasa tanggung jawab berpedoman kepada dasar-dasar seperti tertera di bawah ini:
D. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Masyarakat, Keluarga dan Penderita.
TERHADAP MASYARAKAT, KELUARGA, DAN PENDERITA
1. Perawat dalam rangka pengabdiannya senantiasa berpedoman kepada tanggung jawab yang pangkal tolaknya bersumber dari adanya kebutuhan akan perawat untuk orang seorang, keluarga dan mayarakat.
2. Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya dalam bidang perawatan senantiasa memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelansungan hidup beragama dari orang seorang, keluarga penderita, keluarganya dan masyarakat.
3. Perawat dalam melaksanakan kewajibannya bagi orang seorang dan masyarakat senantiasa dilandasi rasa tulus ikhlas sesuai dengan martabat dan tradisi luhur perawatan.
4. Perawat senantiasa menjadi hubungan kerjasama yang baik dengan orang seorang dan masyarakat dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya-upaya kesejahteraan umumnya sebagai bagian dari tugas kewajiban masyarakat.
BAB II
TANGGUNG JAWAB PERAWAT TERHADAP TUGAS
5. Perawat senantiasa memlihara mutu pelayanan perawatan yang tinggi disertai professional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan perawatan sesaui dengan kebutuhan orang seorang atau penderita, keluarga, dan masyarakat.
6. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan dengan tugas yang dipercaya kepadanya.
7. Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan keterampilan perawatan untuk tujuan yang bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan.
8. Perawat dalam menunaikan tugas dan kewajibannya senantiasa berusaha dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, keagamaan, warna kulit, jenis kelamin, aliran politik yang dianut serta kedudukan social.
9. Perawat senantiasa mengutamakan perlindungan perlindungan dan keselamatan penderita dalam melaksanakan tugas perawatn serta dengan matang mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau mengalih tugaskan tanggung jawabyang ada hubungannya dengan perawatan.
BAB III
TANGGUNG JAWAB PERAWAT TERHADAP SESAMA PERAWAT
DAN PROFESI KEGIATAN LAIN
10. Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antara perawat dan dengan kedehatan lainnya baik dalam memlihara keserasian suasana lingkungan kerjaa maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
11. Perawat senantiasa menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan, daan pengalamannya kepada sesama perawat serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari profesi bidang perawatan.
BAB IV
TANGGUNG JAWAB PERAWAT TERHADAP PROFESI PERAWATAN
12. Perawat selalu berusaha meningkatkan kemampuan professional secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan perawatan.
13. Perawat selalu menjunjung tinggi nama baik profesi perawataan dengan menunjukan peri / tingkah laku dan sifat-sifat pribadi yang tinggi.
14. Perawat senantiasa berperan dalam menetukan pembakuan pendidikan dan pelayanan perawatan serta menrapkan dalam kegiatan-kegiatan pelayanan dan pendidikn perawatan.
15. Perawat selalu bersama-sama membina dan memelihara mutu organisasi profesi perawatan sebagai saran pengabdian.
BAB V
TANGGUNG JAWAB PERAWAT TERHADAP PEMERINTAH, BANGSA,
DAN TANAH AIR
16. Perawat senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai kebijakan yang digariskan oleh pemerintah dalam bidang kesehatan dan perawatan.
17. Perawat senantiasa berperan secara aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada pemerintah dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan dan perawatan kepada masyarakat.
BAB IV
KEPUTUSAN MORAL DAN TEORI MORAL DALAM KEPERAWATAN
A. PENGERTIAN MORAL
Moral berasal dari kata latin mores yang berarti adat dan kebiasaan kata moris memepunyai sinonim : Mus, Moris, Manner, Morals (Bp. F 1993 : 24 poespordjo, 1986 : 2)
Dalam bahasa Indonesia moral berarti ahlak atatu kesulitan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalaam hidup.
Menurut kamus umu bahasa inndonesia (Marudin, 2001) moral berarti ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap kewajiban dan sebagainya : ahlak, budi pekerti, susila sedangkan bermoral adalah mempunyai pertimbangan baik dan buruk, berahlak baik.
Menurut Immanuel kant (magin siseno, 1992) moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar, atau aturan hukum Negara, agama atau adat istiadat, konsep kant tersebut dikembangkan dan dakritis oleh Hege, hegel mengemukakan bahwa konsep moralitas yang dikemukakan oleh kant “abstrak” karena tidak memperhatikan bahwa manusia sama dengan otonomi. Jadi suara hatinya selalu sudah bergerak dalam ruangan yang mewadahi tuntutan moral.
Menurut hegel, aoabila perbedaan kehidupan bermasyarakat didasarkan berdasarkan tatanan nomatif yang rasional dan menghormati kebebasan, tidak perluan subjek, ia dapat mengandalkan tatanan normative itu boleh “ikut-ikutan dengan pandangan serta tatanan moral masyarakat tetapi tidak berseberngan dengan suara hatinya.
Jenis moral
Menurut tarumingkeng (2001) jenis moral adalah :
1. Moral realism (moral berdasarkan kondisi yang nyata/ realitas)
2. Moral luck ( moral yang dipengaruhi oleh faktor keberuntungan)
3. Moral relativism (moral yang bersifat relative)
4. Moral rational (moral berdasarkan penggunaan akal sehat atau prosedur raasional)
5. Moral sceptism (moral yang menunjukan sikap-sikap ragu-ragu karena tidak memberikan penilaian berdasarkan pengetahuan)
6. Moral personhood (moral yang ditentukan berdasarkan kesadaran perasaan dan tindakan pribadi atau merupakan, bagian dari moral masyarakat, moral masyarakatmenyangkut semua yang memerlukan pertimbangan moral dalam hak-hak dan kewajiban.
Landasan moral perilaku perawat (menurut tarumingkeng 2001)
1. Otonomi : mandiri dan bersedia menanggung resiko bertanggung gugat terhadap keputusan dan tindakan
2. Beneficence : tiap keputusan dibuat berdasarkan keinginan untuk melakukan yang terbaik dan tindakan merugikan klien.
3. Adil : tidak mendiskriminasikan klien, memperlakukan berdasarkan keunikan klien.
4. Fioelity : "caring” berusaha menepati janji, memberikan harapan yang , memadai, komitmen spiritual klien.
Dasar nilai moral universal pada praktek keperawatan
1. Penghormatan untuk orang lain
2. Otonomi (keputusan sendiri)
3. Kemurahan hati (melakukan dengan baik)
4. Non maleficence (menghindari masalah)
5. Kejujuran (mengatakan kejujuran)
6. Menyimpan rahasia (menghormati informasi yang menjadi hak)
7. Kesetiaan (menjaga janji)
8. Keadilan (memperlakukan secara adil)
Norma-norma moral adalah tolak ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik buruknya bukan sebagai perilaku peran tertentu terbatas.
Ada norma-norma khusus yang berlaku dalam bidang dan situasi khusus misalnya : peraturan tata tertib dirumah sakit hanya berlaku selama kita dirumah sakit.
Norma-norma umum ada tiga macam : norma-norma sopan santun, norma-norma hukum,dan norma-norma moral, norma-norma sopan santun menyangkut sifat-sifat lahiriah manusia. Meskipun sikap lahiriah dapat mengungkapkan sikap hati karena itu dapat mempunyai kualitas moral, namun sikap lahiriah sendiri tidak bersifat moral. Orang yang melanggar kesopanan karena kurang mengetahuitata karma.
Begitu pula halnya norma-norma hokum, setiap masyarakat mengenal hokum, setiap masyarakat mengenal hokum. Norma-norma hokum ialah norma-norma yang dituntut dengan tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu demi keselamatan dan kesejahteraan umum. Norma hokum ialah norma yang tidak dibiarkan dilanggar: orang yang melanggar hokum, pasti akan dikenai hukuman sebagai sangsi, tetapi norma hokum tidak sama dengan norma moral. Bisa terjadi bahwa demi tuntutan suara hati, jadi demi kesadaran moral, kita harus melanggar hokum, kalaupun kemudian dihukum hal itu tidak berarti bahwa kita ini orang yang buruk.
Norma moral adalah tolak ukur yang dipakai masyrakat untuk mengukur kebaikan seseorang, maka dengan norma-norma moral kita betu-betul dinilai, itu sebab penilaian moral selalu berbobot kita tidak dilihat dari salah satu segi, melainkan sebagai manusia. Apakah sebagai seorang perawat yang baik, warga Negara yang selalu taat dan selalu bicara sopan belum mencukupi untuk menetukan apakah di betu-betul seorang perawat yang baik.
Kemudian kita memeriksa etika pengembangan diri. Etika itu jelas membuat sesuatu yang hakiki bagi segenap program moral pengembangan diri memang merupakan tanggung jawab kita. Tetapi kita juga melihat bahwa prinsip itu tidak mencukupi orang yang memikirkan pengembangan diri malahan tidak berkembang karena ia hany berkisar sekitar dirinya sendiri. utilitarisme menetapkan prinsip tanggung jawab universal sebagai dasarnya, manusia wajib untuk mempertanggung jawabkan akibat-akibat tindakannya terhadap semua yang terkena olehnya , tetapi utilitarisme mempunyaikekurangan yang fatal : ia tidak dapat keadilan dan hormat terhadap hak-hak asasi manusia. Dan demikianlah tidak menjamin martabat manusia.
B. Tiga prinsip dasar
a. Prinsip sifat baik
Kelemahan dari utilitarisme adalah bahwa ia diam tentang kewajiban untuk selalu bertindak dengan adil. Tetapi bahwa kita harus selalu bertanggung jawab terhadap akibat rindakan-tindakan kita, bahwa kita hendaknya jangan merugikan siapa saja, jadi bahwa sikap yang dituntut dari kita sebagai dasar dalam hubungan dengan siapa adalah sikap yang positif dan baik.
Dengan demikian prinsip moral dasar pertama dapat kita sebut prinsip sikap baik prinsip itu mendahului dan mendasaari prinsip semua prinsip moral lain. Jadi prinsip sikap baik bukan hanya sebuah prinsip yang kita pahami secara rasional , melainkan juga mengungkapkan rasa syukur.
Allhamdulillah suatu kecondongan yang memang sudah ada dalam watak manusia . sebagai prinsip dasar etika prinsip sikap baik menyangkut sikap dasar manusia yang mendasari segala sikap konket, tindakan dan kelakuannya , bagaiman sikap baik itu harus dinyatakan secara konkret tergantung dari apa yang baik dalam situasi konkret itu. Maka prinsip ini menuntut masing-masing baik yang bersangkutan.
b. Prinsip keadilan
Apakah prinsip sikap baik adalah satu-satunya prinsip moral dasar ?
Dari pemeriksaan terhadap utilitarisme kita telah melihat bahwa masih ada prinsip lain yang tidak termuat dalam utilitarisme yaitu prinsip keadilan. Bahwa keadilan tidak sam dengan sikap baik dapat dipahami pada sebuah contoh : untuk memberikan makanan pada seorang ibu gelandangan yang menggendong anak, apakah saya sudah mengambil sebuah blek susu dari supermarket tanpa membayar dengan pertimbangan bahwa kerugian dari supermarket itu amat kecil. Sedangkan bagi ibu itu sebuah blek susu dapat berarti banyak, tapi kecuali betul-betul sama sekali tidak ada jalan lain untuk anak ibu itu dapat makan, kiranya kita harus mengatakan bahwa dengan segala maksud baik itu kita tetap tidak boleh mencuri. Mencuri melanggar hak puhak ketiga tidak dapat dibenarkan.
Prinsip kebaikan hanya menegaskan agar kita bersikap baik terhadap siapa saja. Aritoteles berpendapat, “waktu ia bicara tentang etika , ia membuat catatan bahwa hanya orang yang tahu apa itu etika (dalam arti: tuntutan untuk berlaku dengan baik), dapat belajar etika. Begitu pula hanya orang yang sudah tahu apa itu keadilan , dapat belajar tentang keadilan”. Maka disini suatu faham keadilan sederhana harus mencukupi. Adil pada hakikatnya berarti bahwa kita memberikan pada siapa saja yang menjadi haknya. Secara singkat keadilan menuntut agar kita jangan mau mencapai tujuan-tujuan termasuk yang baik dengan melanggar hak seseorang.
c. Prinsip hormat terhadap diri sendiri
Prinsip ketiga ini mengajarkan bahwa manusia waajib untuk selalu memperlakukan diri sebagai sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri, prinsip ini berdasarkan paham bahwa manusia adalah person. Pusat berpengertian dan berkehendak, yang memiliki kebebasan dan suara hati mahluk berakal budi. Maka manusia juga wajib memperlakukan dirinya sendiri dengan hormat. Prinsip ini mempunyai dua arah. pertama dituntut agar kita tidak membiarkan diri diperas, diperalat, diperbudak. Yang kedua , kita jangan sampai membiarkan diri terlantar berarti bahwa kita menyia-nyiakan bakat-bakat dan kemampuan yang dipercaya kepada kita.
Oleh karena itu sikap altruisme (altruisme adalah lawannya egoism, sikap orang yang seakan-akan sama sekali tidak memikirkan dirinya sendiri, melainkan melakukan segala apa bagian orang lain) secara psikologis sebenarnya merugikan.
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kebaikan dan keadilan yang kita tunjukan kepada orang lain, perlu dimbangi dengan sikap yang menghormati dari kita sendiri sebagai mahluk yang bernilai kepada dirinya sendiri.
d. Hubungan antara tiga prinsip dasar
Secara kesimpulan dapat dikatakan bahwa prinsip keadilan dan hormat kepada diri sendiri merupakan syarat pelaksanaan sikap baik. Sedangkan prinsip sikap baik menjadi dasaar mengap sorang bersedia untuk bersikap adil. Dalam kehidupan nyata sikap dan tindakan kita hendaknya sesuai denan tiga prinsip dasar, tapi bagaiman prinsip=-prinsip tersebut terjadi tabrakan antara dua prinsip, tidak dapat diputuskan secara teoritis belaka. Kita harus ingat apa yang harus kita pelajari “etika situasi” yaitu bahwa perimbangan-pertimbangan moral yang teoritis tidak pernah mencukupi untuk menetuka seratus persen apa yang harus dilakukan seseorang dalam situasi konkret. Dalam bahasa para ahli etika dikaatakan bahwa norma-norma dan prinsip-prinsip moral hanya berlaku prima facie, artinya sejauh tidak ada pertimbangan tambahan yang menuntut penilaian khusus.
Akan tetapi ada sebuah prinsip atau patokan yang dapat sedikit membantu kita apabila kita ingin mengatur berbagai sudut yang masuk kedalam pertimbangan tentang kewajiban dan tanggung jawab yaitu prinsip keseimbangan dan proposionalitas. Prinsip ini mengatakan bahwa antara yang dikorbankan dan yang diutamakan harus ada keseimbangan bobot.
e. Dua tingkatan realitas
Prinsip ini mencerminkan suatu keyakinan sangat umum dalam filsafat barat yang mengutamakan manusia terhadap alam lain : sebagai mahluk yang berakal budi atau ber-logos (daya fikir bahasa yunani) manusia berpartisipasi kepada keterbatasan Ilahi dengan oleh karena itu merupakan nilai pada dirinya sendiri.
C. KONSEP MORAL DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN
Praktik keperawatan termasuk etika keperawatan mempunyai berbagai dasar penting seperti advokasi, akuntabilitas, loyalitas, kepedulian rasa haru dan menghormati sesame manusia (fry 1991 : lih, Creasia 1991)
1. Advokasi
Advokasi menurut ikatan keperawatan amerika/ ANA (1985) adalah melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompetan dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapa pun Fry (1987) mendefinisikan advokat sebagai dukungan aktif terhadap setiap hal yang memiliki penyebab / dampak penting.
Gadow (1983 : lih, megan, 1989) advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan yang melibatkan bantuaan perawat secara aktif kepada individu untuk secara bebas menetukan nasibnya sendiri.
Pada dasarnya peran perawat sebagai advokat pasien adalah member informasi dan memberi bantuan kepada pasien, member informasi berarti memberi menyediakanpenjelasan informasi sesuai yang dibutuhkan pasien dalam menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus menghargai pasien sebagai individu yang memiliki berbagai karakteristik.
2. Akutibilitas
Akuntibilitas mengandung arti dapat mempertanggung jawabkan suatu tindaakan yang dilakukan dan dapat menerima konsekuensi dari tindakan tersebut (Kozir Erb, 1991)
Fry (1990) mengatakan bahwa akuntabilitas mengandung dua komponen utama yakni, tanggung jawab dan tanggung gugat, yang berarti bahwa tindakan yang dilakukan perawat dilihat dari praktik keperawatan, kode etik dapat dibenarkan atau absan.
3. Loyalitas
Loyalitas merupakan konsep yang berbagai segi meliputi : simpati, peduli dan hubungan timbale balikterhadap pihak professional behubungan dengan perawat (Jameton, 1984 Fry, 1991 :lih cresia, 1991) loyalitas merupakan elemen pembentuk kombinasi manusia yang mempertahankan dan memperkuat anggota masyarakat keperawatan dalam mencapai tujuan.
Untuk mencapai kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan hubungan dengan berbagai pihak yang harmonis , maka aspek loyalitas harus dipertahankan olehsetiap perawat baik loyalitas baik loyalitas terhadap pasien, teman sejawat, rumah sakit maupun profesi untuk mewujudkan ini (AR, Tabbner, 1981 : lih Creasia, 1991) mengajukan berbagai argumentasi.
a. Masalah pasien tidak boleh didiskusikan dengan pasien lain dan perawat harus bijaksana bila informasi dari pasien harus didiskusikan secara professional
b. Perawat harus menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat (celotehan) dan berbagai persoalan yang berkaitan yang berkaitan dengan pasien, rumah sakit atau pekerja rumah sakit, harus didiskusikan dengan umum (terbuka dengan masyrakat)
c. Teman sejawat menghargai dan memberikan bantuan kepada teman sejawat, kegagalan dalam melakukan hal ini dapat menurnkan penghargaan dan kepercayaan kepada masyarakat
d. Pandangan masyarakat terhadap profesi keperawatan ditentukan oleh kelakuan anggota profesi (perawat), perawat harus menunjukan loyalitasnya terhadap profesi dengan berlaku secara tepat pada saat bertugas.
Jenjang perkembangan dari ajaran moral sampai kode etik
a. Ajaran moral :ajaran tentang bagaimana manusia harus hidup dan berbuat agar menjadi manusia yang baik
b. Moral : system moral atau konsesus social tentang motivaasi perilaku dan perbuatan tertentu dinilai dari baik atau buruk
c. Falsafah moral : falsafah atau penalaran moral yang menjelaskan mengapa perbuatan tertentu dinilai baik, sedangkan perbuatan lain buruk
BAB V
RUANG LINGKUP ETIKA KEPERAWATAN
A. ETIKA HUBUNGAN TIM KEPERAWATAN
Tim keperawatan terdiri dari semua individu yang terlibat dalam pemberian asuhan keperawatan kepada pasien. Komposisi anggota tim kesehatan bervariasi, tergantung pada tenaga keperawatan yang ada, sensus pasien, jenis unit keperawatan, dan program pendidikan keperawataan yang berafiliasi / bekerja sama (grippando, 1977).
Dalam kerja sama dengan sesame tim, semua perawat harus berprinsip dan ingat bahwa fokus dan semua upaya yang dilakukan adalah mengutamakan kepentingan pasien serta kualitas asuhan keperawatan. Untuk itu, semua perawat harus mampu mengadakan komunikasi secara efektif.
Karena latar belakang pendidikan, jenis pekerjaan maupun kemampuan perawat cukup bervariasi, maka dalam pemberian tugas asuhan keperawatan, perawat dibagi dalam beberpa kategori, misalnya perawat pelaksana, kepala bangsal, kepala unit perawatan, kepala seksi perawatan (supervisor), dan kepala bidang keperawatan. Dalam memberikan asuhan keperawatan, setiap anggota harus mampu mengkomunikasikaan dengan perawat anggita lain, dimana permasalahan etis dapat didiskusikan dengan sesama perawat atu atasannya.
B. HUBUNGAN KERJA PERAWAT DENGAN PAIEN / KLIEN
Seorang pasien dalam situasi menjadi pasien mempunyai tujuan tertent. Seorng perawat dalam menjadi perawat juga mempunyai tujuan tertentu. Kondisi yang dihadapi pasien merupakan penentu peran perawat terhadap pasien (husted dan husted, 1990).
Untuk menjelaskan peran perawat secara umum dapat digunakan kerangka yang mengacu pada pandangan dasar Hildegard E. peplav, tentang hubungan perawat-pasien, yang merupakan suatu teori yang mendasari nilai dan martabat manusia, dengan pengembangan rasa percaya, pengukuran pemecahan masalah (problem solving), dan kolaborasi.
Dalam konteks hubungan perawat pasien, perawat dapat berperan sebagai konselor pada saat pasien mengungkapkan kejadian dan perasaan tentang penyakitnya. Perawat dapat pula berperan sebagai pengganti orang tua (terutama pada pasien anak), sudara kandung, atau teman bagi pasien dalaam mengungkapkan perasaan-perasaannya.
Pada dasarnya hubungan antara perawat-pasien berdasarkan pada sifat alamiah perawat dan pasien. Dalam interaksi perawat-pasien, peran yang dimiliki masing-masing membentuk suatu kesepakatan atau persetujuan di mana pasien mempunyai peran dan hak sebagai pasien dan perawat mempunyai peran dan hak sebagai perawat.
Dalam konteks hubungan perawat-pasien maka setiap hubungan harus didahului dengan kontrak dan kesepakatan bersama, dimana pasien mempunyai peran sebagai pasien dan perawat sebagai perawat. Kesepakatan ini menjadi parameter bagi perawat dalam memutuskan setiap tindakan etis.
C. HUBUNGAN KERJA PERAWAT DENGAN TEMAN SEJAWAT
Sebagai anggota profesi keperawatan, perawat harus dapar bekerja sama dengan teman sesame perawat demi meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terhadap pasien / klien. Perawat, dalam menjalankan tugasnya, harus dapat membina hubugan baik dengan semua perawat yang ada di lingkungan kerjanya. Dalam membina hubungan tersebut, sesama perawat harus terdapat rasa saling menghargai dan tenggang rasa yang tinggi agar tidak terjebak dalam sikap saling ciruga dan benci.
Tunjukkan sikap selalu memupuk rasa persaudaraan dengan silih asuh, silih asih, dan silih asah.
i. Silih asuh dimaksudkan adalah bahwa sesame perawat dapat saling membimbing, menasihati, menghormati, dan mengingatkan bila sejawat melakukan kesalahan atau kekeliruan, sehingga terbina hubungan kerja yang serasi.
ii. Silih asih dimakdsudkan bahwa setiap perawat dalam menjalankan tugasnya dapat saling mengahargai satu sama lain, saling kasih-mengasihi sebagai sesama anggota profesi, saling bertenggang rasa dan bertoleransi yang tinggi ssehingga tidak terpengaruh oleh hasutan yang dapat membuat sikap saling curiga dan benci.
iii. Silih asah dimaksudkan bahwa perawat yang merasa lebih pandai / tahu dalam hal ilmu pengetahuan, dapat membagi ilmu yang dimilikinya kepada rekan sesama perawat tanpa pemrih.
Contoh kasus :
Paulina, A. M. K, seorang perawat lulusan salah satu akademi keperawatan, baru saja bertugas disalah satu rumah sakit disuatu kabupaten (RS tipe C). Di rumah sakit tersebut, tenaganya sangat terbatas. Pada umumnya, tenaga yang ada adalah lulusan sekolah perawat kesehatan (SPK). Sedangkan lulusan akper hanya dua orang. Kepala bidang keperawatan dijabat oleh luliusan SPK yang sudah 20 tahun bertugas disana.
Kedatangan paulina cukup membuat perawat kurang menyenanginya karena paulina sering dipanggil oleh Direktur untuk berdiskusi tentang bagaimana menigkatkan mutu asuhan keperawatan dirumah sakit tersebut.
Dalam rangka membina hubungan antar perawat yang ada, baik dengan lulusan SPK maupun lulusan AKPER, perlu adanya sikap saling menghargai dan saling toleransi sehingga paulina dapat mengadakan pendekatan yang baik kepada Kepala Bidang Keperawatan dan juga perawat-perawat lain yang ada.
Bagitu pula kepala bidang keperawatan, yang ada dalam hal ini menjabat sebagai manager utama bidang keperawatan, harus dapat menunjukan sikap yang bijaksana, walaupun terdapat kesenjangan dari segi pendidikan. Namun, pengalaman 20 tahun yang ia miliki cukup membuatnya libh matang sebagai seorang manajer. Ia tidak perlu merasa tersaingi ataupun merasakan adanya ancaman terhadap jabatannya.
Dengan demikian, hubungan yang baik dan rasa saling menghargai dan menghormati antar perawat akan dapat terbina.
D. HUBUNGAN KERJA PERAWAT DENHAN PROFESI LAIN YANG TERKAIT
Dalam melaksanakan tugasnya, perawat tidak dapat bekerja tanpa berkolaborasi dengan profesi lain. Profesi lain tersebut diantaranya adalah dokter, ahli gizi, tenaga laboratorium, tebaga rontgen, dan sebagainya. Setiap tenaga profesi tersebut mempunyai tanggung jawab terhadap kesehatan pasien, hanya pendekatan saja yang berbeda disesuaikan dengan profesinya masing-masing.
Dalam menjalankan tugasnya, setiap profesi dituntut untuk mempertahankan kode etik profesi masing-masing. Kelancaran tugas masing-masing profesi tergantung dari ketaatannya dalam menjalankan dan mempertahankan kode etikprofesinya.
Bila setiap profesi telah dapat saling menghargai, maka hubngan kerja sama akan dapaat terjalin dengan baik, walaupunpada pelaksanaannya sering juga terjadi konflik-konflik etis.
Contoh kasus :
Perawat ranti, S.Kp. adalah lulusan Fakultas Ilmu Keperawatan yang bertugas diruang ICU rumah sakit tipe B. dalam menjalankan tugasnya, ranti sangat berdisiplin dan teliti terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan pasien. Oleh Karena itulah, ranti sangan dipercaya oleh dokter jaga yang bernama dr. alex.
Bila ranti berrtugas dengan waktu yang bersamaan dengan dr. alex, ranti selalu mendapat pesan bahwa dr. alex tidak dapat hadir dan diberi petunjuk atau protocol bila terjadi perubahan kondisi pasiennya dan ranti diwajibkan melapor melalui telepon atau ponselnya.
Dalam hal ini, seharusnya ranti dan dr. alex mempunyai tanggung jawab yang berbeda baik dalam menjalankan tugasnya maupun tanggung jawab terhadap pasien. Walaupun ranti dapat menjalankan tugasny dengan baik, akan tetapi, terjadi konflik-konflik dalam nilai-nilai pribadinya, apakah ia perlu menjelaskan pada dr. alex bahwa tanggung jawab tuga mereka berbeda, dan tidak dapat dilimpahkan begitu saja padanya tanpa alasan yang dapat dipertanggung jawabkan atau apakah perlu melaporkan kepada pihak rumah sakit bahwa dr.alex sering tidak hadir untuk menjalankan tugasnya sebagai dokter jaga.
Hal ini perlu dipertimbangkan dengan matang agar kerja perawat dan dokter tersebut dapaat tetap terjalin dengan bik dan dapat berperan sesuai profesinya masing-masing.
E. HUBUNGAN KERJA PERAWAT DENGAN INSTITUSI TEMPAT PERAWAT BEKERJA
Seorang perawat yang telah menyelesaikan pendidikan, baik tingkat akademi maupun tingkat sarjana, memerlukan suatu pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya baik di bidang pengetahuan, keterampilan, maupun profesionalisme.
Memperoleh pekerjaan yang benar- benar sesuai dengan kemampuan standar yang telah digariskan oleh pendidikan yang telah diikutinya sangatlah sulit karena besarnya persaingan antara jumlah tenaga yang ada dengan sedikitnyaa jumlah lahan tempat bekerja. Oleh karena itu, banyak yang beranggapan bahwa yang penting bekerja dulu, sedangkan masalah penempatan kerja sesuai atau tidak, akan dipikirkan kemudian.
Hal ini sangat berpengaruh terhadap motivasi untuk bekerja. Bila pekerjaan yang diberikan sesuai dengan keinginan dan kemampuan, maka motivasi kerja akan meningkat, tetapi bila pekerjaan yang didapatkan tidak sesuai dengan keinginan dan cita-cita, maka akan terjadi penurunan motivasi kerja yang menjurus terjadinya konflik antara nilai-nilai sebagai perawat dengan kebijakan institusi tempaat bekerja.
Kamis, 02 April 2009
Infeksi Oleh Vibrio Cholera
Kata Pengantar
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Infeksi Oleh Vibrio Cholera”
Penyusunan makalah ini dalam rangka penugasan Mikrobiologi & Parasitologi. Dalam penyusunan makalah ini penulis masih banyak kekurangan dan kekhilafan baik materi, tata bahasa dan isi ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis, tapi dengan bantuan dan bimbingan dari Bapak Bambang Riyadi makalah ini dapat diselesaikan. Penulis juga menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan dengan ini penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Penulis juga berharap semoga amal baik yang telah diberikan mendapatkan imbalan yang sesuai dari Allah SWT, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Pontianak, Juni 2008
Penulis
Daftar Pustaka
Kata Pengantar………………………………………………………… ..1
Daftar Pustaka………………………………………………………….. .2
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang…………………………………………………... 4
B. Tujuan Penulisan………………………………………………… 5
C. Ruang Lingkup…………………………………………………... 6
D. Metode Penulisan………………………………………………... 6
E. Sistematika Penulisan……………………………………………. 7
Bab II Landasan Teoritis............................................................................8
Bab IV Penutup
A. Kesimpulan……………………………………………………... 23
B. Saran……………………………………………………………. 24
Daftar Pustaka…………………………………………………………..25
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Penyakit saluran pencernaan akut yang disebabkan oleh bakteri dan ditandai gejala dalam bentuknya yang berat dengan onset yang tiba-tiba, diare terus menerus, cair seperti air cucian beras, tanpa sakit perut, disertai muntah dan mual di awal timbulnya penyakit. Pada kasus-kasus yang tidak diobati dengan cepat dan tepat dapat terjadi dehidrasi, asidosis, kolaps, hipoglikemi pada anak serta gagal ginjal. Infeksi tanpa gejala biasanya lebih sering terjadi daripada infeksi dengan gejala, terutama infeksi oleh biotipe El Tor; gejala ringan dengan hanya diare, umum terjadi, terutama dikalangan anak-anak. Pada kasus berat yang tidak diobati (kolera gravis), kematian bisa terjadi dalam beberapa jam, dan CFR-nya bisa mencapai 50 %. Dengan pengobatan tepat, angka ini kurang dari 1 %.
Diagnosa ditegakkan dengan mengisolasi Vibrio cholera dari serogrup O1 atau O139 dari tinja. Jika fasilitas laboratorium tidak tersedia, Cary Blair media transport dapat digunakan untuk membawa atau menyimpan spesimen apus dubur (Rectal Swab).
Untuk diagnosa klinis presumtif cepat dapat dilakukan dengan mikroskop medan gelap atau dengan visualisasi mikroskopik dari gerakan vibrio yang tampak seperti shooting stars atau bintang jatuh, dihambat dengan antisera serotipe spesifik yang bebas bahan pengawet. Untuk tujuan epidemiologis, diagnosa presumtif dibuat berdasarkan adanya kenaikan titer antitoksin dan antibodi spesifik yang bermakna. Di daerah non-endemis, organisme yang diisolasi dari kasus indeks yang dicurigai sebaiknya dikonfirmasikan dengan pemeriksaan biokimiawi dan pemeriksaan serologis yang tepat serta dilakukan uji kemampuan organisme untuk memproduksi toksin kolera atau untuk mengetahui adanya gen toksin. Pada saat terjadi wabah, sekali telah dilakukan konfirmasi laboratorium dan uji sensitivitas antibiotik, maka terhadap semua kasus yang lain tidak perlu lagi dilakukan uji laboratorium.
Berdasarkan uraian diatas maka penyaji merasa tertarik untuk untuk menyajikan makalah dalam bab ini.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
a. Meningkatkan pengetahuan tentang pengertian Infeksi Oleh Vibrio Cholera.
b. Mendapatkan gambaran yang jelas tentang Proses Vibrio Cholera.
c. Memberi saran dan alternatif pemecahan masalah terkait permaslahan Vibrio Cholera.
C. Ruang Lingkup
Karena luas nya permasalah tentang infeksi dan banyaknya literatur yang berkebaan dengan proses infeksi maka penulis hanya membatasi penulisan tentang proses Vibrio Cholera.
D. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu memberi gambaran tentang proses Vibrio Cholera yang dilakukan dengan cara :
a. Studi perpustakaan yaitu dengan pendekatan teoritis untuk mendapatkan dasar-dasar ilmiah yang berhubungan dengan permasalahan dalam makalah ini.
b. Browsing melalui layananan internet untuk menambah literatur yang ada.
E. Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun secara sistematis yang terdiri dari beberapa bab yaitu :
Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari Latar belakang, Tujuan penulisan, Ruang lingkup, Metode Penulisan, Sistematika Penulisan.
Bab II : Landasan teoritis yang berisikan tentang pembahasan Vibrio Cholera.
Daftar Pustaka
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Identifikasi
Penyakit saluran pencernaan akut yang disebabkan oleh bakteri dan ditandai gejala dalam bentuknya yang berat dengan onset yang tiba-tiba, diare terus menerus, cair seperti air cucian beras, tanpa sakit perut, disertai muntah dan mual di awal timbulnya penyakit. Pada kasus-kasus yang tidak diobati dengan cepat dan tepat dapat terjadi dehidrasi, asidosis, kolaps, hipoglikemi pada anak serta gagal ginjal. Infeksi tanpa gejala biasanya lebih sering terjadi daripada infeksi dengan gejala, terutama infeksi oleh biotipe El Tor; gejala ringan dengan hanya diare, umum terjadi, terutama dikalangan anak-anak. Pada kasus berat yang tidak diobati (kolera gravis), kematian bisa terjadi dalam beberapa jam, dan CFR-nya bisa mencapai 50 %. Dengan pengobatan tepat, angka ini kurang dari 1 %.
Diagnosa ditegakkan dengan mengisolasi Vibrio cholera dari serogrup O1 atau O139 dari tinja. Jika fasilitas laboratorium tidak tersedia, Cary Blair media transport dapat digunakan untuk membawa atau menyimpan spesimen apus dubur (Rectal Swab).
Untuk diagnosa klinis presumtif cepat dapat dilakukan dengan mikroskop medan gelap atau dengan visualisasi mikroskopik dari gerakan vibrio yang tampak seperti shooting stars atau bintang jatuh, dihambat dengan antisera serotipe spesifik yang bebas bahan pengawet. Untuk tujuan epidemiologis, diagnosa presumtif dibuat berdasarkan adanya kenaikan titer antitoksin dan antibodi spesifik yang bermakna. Di daerah non-endemis, organisme yang diisolasi dari kasus indeks yang dicurigai sebaiknya dikonfirmasikan dengan pemeriksaan biokimiawi dan pemeriksaan serologis yang tepat serta dilakukan uji kemampuan organisme untuk memproduksi toksin kolera atau untuk mengetahui adanya gen toksin. Pada saat terjadi wabah, sekali telah dilakukan konfirmasi laboratorium dan uji sensitivitas antibiotik, maka terhadap semua kasus yang lain tidak perlu lagi dilakukan uji laboratorium
B. Penyebab Penyakit.
Vibrio cholera serogrup O1 terdiri dari dua biotipe yaitu Vibrio klasik dan Vibiro El Tor dan yang terdiri dari serotipe Inaba, Ogawa dan Hikojima (jarang ditemui). Vibrio cholera O139 juga menyebabkan kolera tipikal. Gambaran klinis dari penyakit yang disebabkan oleh Vibrio cholera O1 dari kedua biotipe dan yang disebabkan oleh Vibrio cholera O139 adalah sama karena enterotoksin yang dihasilkan oleh organisme ini hampir sama. Pada setiap kejadian wabah atau KLB, tipe organisme tertentu cenderung dominan, saat ini biotipe El Tor adalah yang paling sering ditemukan. Di kebanyakan daerah di India dan Bangladesh, sebagian besar dari kejadian kolera disebabkan oleh Vibrio cholera O139 dan Vibrio cholera O1 dari biotipe klasik ditemukan di Bangladesh selama dekade lalu. Beberapa jenis Vibrio yang secara biokimiawi tidak dapat dibedakan satu sama lain, tetapi tidak menggumpal dengan antisera Vibrio cholera serogrup O1 (strain non-O1, dahulu di kenal sebagai Vibrio yang tidak menggumpal (NAGs) atau juga dikenal sebagai “Non Cholera Vibrio” (NCVsJ) sekarang dimasukkan ke dalam spesies Vibrio cholera. Beberapa strain kolera memproduksi enterotoksin tetapi kebanyakan tidak. Sebelum tahun 1992, strain non-O1 diketahui sebagai penyebab diare sporadis dan jarang menyebabkan KLB dan tidak pernah sebagai penyebab wabah yang menelan korban banyak. Namun pada akhir tahun 1992 wabah kolera dengan dehidrasi berat terjadi di India dan Bangladesh dengan jumlah korban yang sangat banyak. Organisme penyebabnya adalah serogrup baru dari Vibrio cholera O139, yang menghasilkan toksin kolera yang sama dengan O1 tetapi berbeda, pada struktur lipo polisakaridanya (LPS) dan berbeda dalam kemampuan memproduksi antigen kapsuler. Gambaran klinis dan epidemiologis dari penyakit yang disebabkan oleh organisme ini dengan ciri khas kolera, dan harus dilaporkan sebagai kolera. Wabah oleh strain O-139 yang mempunyai faktor virulensi yang sama seperti Vibrio cholera O1 El Tor, faktor ini nampaknya diperoleh dari hilangnya bagian gen yang menyandikan (Encode) antigen lipo polisakarida dari O1 strain El Tor di ikuti dengan bersatunya sebagian besar fragmen dari DNA baru yang menyandikan (encoding) enzim yang memungkinkan terjadinya sintesa dari liposakarida dan kapsul dari O 139. Melaporkan Infeksi Vibrio cholera O1 non-toksikogenik atau infeksi Vibrio cholera non O1, selain O139 sebagai, kolera, adalah laporan yang tidak akurat dan membingungkan.
C. Distribusi penyakit.
Selama abad 19, pandemi kolera menyebar berulang kali dari delta Sungai Gangga di India ke seluruh dunia. Sampai dengan pertengahan abad ke 20, penyakit ini terbatas hanya terjadi di Asia, kecuali kejadian wabah kolera yang menelan banyak korban di Mesir pada tahun 1947. Selama setengah abad terakhir abad ke 20 gambaran epidemiologis kolera ditandai dengan 3 ciri utama.
1). Terjadinya pandemi ke 7 kolera yang disebabkan oleh Vibrio cholera O1 El Tor, dengan korban yang sangat banyak.
2). Diketahui adanya reservoir lingkungan dari kolera, salah satunya adalah di sepanjang pantai teluk Meksiko di AS.
3). Munculnya untuk pertama kali ledakan wabah besar dari Cholera gravis yang disebabkan oleh organisme Vibrio cholera dari serogrup selain O1, (Vibrio cholera O139).
Sejak tahun 1961, Vibrio cholera dari biotipe El Tor telah menyebar dari Indonesia melalui sebagian besar Asia ke Eropa Timur. Pada tahun 1970, biotipe ini masuk ke Afrika bagian barat dan menyebar dengan cepat di benua itu dan menjadi endemis di sebagian besar negara Afrika. Beberapa kali KLB kolera telah terjadi di semenanjung Iberia dan Itali pada tahun 1970 an.
Kolera El Tor kembali ke Benua Amerika di tahun 1991, sesudah menghilang selama satu abad dan menyebabkan ledakan-ledakan wabah sepanjang pantai Pasifik di Peru. Dari Peru, kolera dengan cepat menyebar ke negara-negara tetangga, dan pada tahun 1994, kira-kira 1 juta kasus kolera tercatat terjadi di Amerika Latin. Perlu di catat, walaupun manifestasi klinis penyakit ini sama beratnya dengan yang terjadi di bagian lain di dunia, namun keseluruhan CFR kolera di Amerika Latin bisa ditekan tetap rendah (sekitar 1%) kecuali di pedesaan di pegunungan Andes dan wilayah Amazona dimana fasilitas pelayanan kesehatan sangat jauh.
Perlu dicatat secara spesifik bahwa telah terjadi KLB kolera El Tor diantara pengungsi Rwanda di Goma, Zaire, pada bulan Juli tahun 1994 dengan 70.000 penderita dan 12.000 orang diantaranya tewas dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Secara keseluruhan, 384.403 penderita dan 10.692 kematian akibat kolera dilaporan ke WHO pada tahun 1994 oleh 94 negara. CFR global pada tahun 1994 adalah 2,8 % yang bervariasi dari 1% di AS, 1,3 % di Asia dan 5 % di Afrika.
Variasi angka ini mencerminkan perbedaan dalam sistim pelaporan dan akses terhadap pengobatan yang tepat, tidak menggambarkan virulensi dari organisme penyebab.
Kecuali untuk dua kasus kolera yang didapatkan karena infeksi dilaboratorium, dibelahan bumi bagian Barat tidak ditemukan penderita kolera indigenous sejak tahun 1911 sampai dengan 1973, pada saat itu di Texas ditemukan penderita dengan V. cholerae El Tor Inaba sebagai penyebab, dimana sumbernya tidak diketahui.
Pada tahun 1978 dan awal 1990 an ditemukan secara sporadis penderita dengan infeksi V. cholerae El Tor Inaba di Louisiana dan Texas.
Timbulnya kasus-kasus kolera diatas disepanjang Gulf Coast Amerika selama bertahun-tahun disebabkan oleh satu strain indigenous yang berasal dari reservoir lingkungan dari V. cholerae O1 El Tor Inaba disepanjang pantai teluk Mexico.
Pada bulan Oktober 1992, KLB kolera terjadi secara serentak di beberapa daerah di Negara Bagian Tamilnadu, India. Strain yang diisolasi dari KLB ini tidak menggumpal dengan antisera O1, begitu pula strain ini pada pemeriksaan laboratorium tidak dapat diidentifikasi dengan panel standar antisera dari Vibrio cholera 138 non O1. Serogrup baru, yang disebut O 139 Bengal menyebar dengan cepat ke seluruh negara bagian dan kawasan sekitarnya, dalam beberapa bulan menyebabkan ratusan ribu orang terserang. Selama periode wabah, V. cholerae O139 menggantikan strain V. cholerae O1 pada hampir semua pasien yang dirawat di rumah sakit dan dari sampel yang diambil dari air permukaan. Wabah terus menyebar sepanjang tahun 1994 dengan penderita kolera O139 yang dilaporkan dari 11 negara di Asia. Strain baru ini diperkirakan menyebar ke benua lain melalui para pelancong yang terinfeksi didaerah tujuan wisata, tetapi tidak dilaporkan adanya penyebaran sekunder diluar Asia. Bahwa wabah O139 yang terjadi di Asia pada awal tahun 1990-an dipercaya sebagai awal terjadinya pandemi ke 8 dari kolera. Namun O139 bukan hanya tidak menyebar dan menyebabkan wabah di Afrika dan Amerika Selatan tetapi ia juga menghilang dengan cepat baik di India maupun Bangladesh. Dan bahkan menghilang dari daerah dimana strain ini berasal dan pernah menyebar. Kalaupun ditemukan dibagian lain didunia, O139 sebagai penyebab tidak lebih dari 5 – 10 % dari seluruh kasus kolera. Kolera O 139 di masa yang akan datang diduga dapat menyebabkan wabah yang sangat besar di bagian lain di dunia dan karenanya membutuhkan surveilans internasional yang terus menerus.
Semenjak kolera kembali menyerang Amerika Latin pada tahun 1990 an, para pelancong yang terserang kolera meningkat dengan tajam. Dengan menggunakan metode bakteriologis yang canggih (media TCBS) berbagai studi prospektif telah dilakukan dan membuktikan bahwa insiden kolera yang menyerang para pelancong di AS dan yang menyerang turis Jepang cukup tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.
D. Reservoir
Reservoirnya adalah : Manusia; pengamatan yang dilakukan di AS, Bangladesh dan Australia selama lebih dari 2 dekade menunjukkan adanya reservoir lingkungan, dimana vibrio diduga hidup pada copepoda dan zooplankton yang hidup diperairan payau dan muara sungai.
E. Cara penularan
Masuk melalui makanan atau air minum yang terkontaminasi secara langsung atau tidak langsung oleh tinja atau muntahan dari orang yang terinfeksi. El Tor dan O139 dapat bertahan di air dalam jangka waktu yang lama. Pada saat wabah El Tor sekala besar terjadi di Amerika Latin pada tahun 1991, penularan yang cepat dari kolera terjadi melalui air yang tercemar karena sistem PAM perkotaan yang tidak baik, air permukaan yang tercemar, sistem penyimpanan air dirumah tangga yang kurang baik. Makanan dan minuman pada saat itu diolah dengan air yang tercemar dan di jual oleh pedagang kaki lima, bahkan es dan air minum yang dikemaspun juga tercemar oleh vibrio cholerae. Biji-bijian yang dimasak dengan saus pada saat wabah itu terbukti berperan sebagai media penularan kolera. Vibrio cholerae yang dibawa oleh penjamah makanan dapat mencemari salah satu dari jenis makanan yang disebutkan diatas yang apabila tidak disimpan dalam lemari es dalam suhu yang tepat, dapat meningkatkan jumlah kuman berlipat ganda dalam waktu 8 – 12 jam. Sayuran dan buah-buahan yang dicuci dan dibasahi dengan air limbah yang tidak diolah, juga menjadi media penularan. Terjadinya wabah maupun munculnya kasus sporadis sering disebabkan oleh karena mengkonsumsi seafood mentah atau setengah matang. Air yang tercemar sering berperan sebagai media penularan seperti yang terjadi pada KLB di Guam, Kiribati, Portugal, Itali dan Ekuador. Pada kejadian lain, seperti di AS, kasus sporadis kolera justru timbul karena mengkonsumsi seafood mentah atau setengah matang yang ditangkap dari perairan yang tidak tercemar.
Sebagai contoh Kasus kolera yang muncul di Louisiana dan Texas menyerang orang-orang yang mengkonsumsi kerang yang diambil dari pantai dan muara sungai yang diketahui sebagai reservoir alami dari Vibrio cholera O1 serotipe Inaba, muara sungai yang tidak terkontaminasi oleh air limbah. Kolera klinis didaerah endemis biasanya ditemukan pada kelompok masyarakat ekonomi lemah.
F. Masa inkubasi
Dari beberapa jam sampai 5 hari, biasanya 2 – 3 hari.
G. Masa penularan
Diperkirakan selama hasil pemeriksaan tinja masih positif, orang tersebut masih menular, berlangsung sampai beberapa hari sesudah sembuh. Terkadang status sebagai carrier berlangsung hingga beberapa bulan. Berbagai jenis antibiotika diketahui efektif terhadap strain infektif (misalnya tetrasiklin untuk strain O139 dan kebanyakan strain O1). Pemberian antibiotika memperpendek masa penularan walaupun sangat jarang sekali, ditemukan infeksi kandung empedu kronis berlangsung hingga bertahun-tahun pada orang dewasa yang secara terus menerus mengeluarkan vibrio cholerae melalui tinja.
H. Kekebalan dan Kerentanan
Resistensi dan kerentanan seseorang sangat bervariasi achlorhydria, lambung meningkatkan risiko terkena penyakit, sedangkan bayi yang disusui terlindungi dari infeksi. Kolera gravis biotipe El Tor dan Vibrio cholera O139 secara bermakna lebih sering menimpa orang-orang dengan golongan darah O. Infeksi oleh V. cholerae O1 atau O139 meningkatkan titer antibodi penggumpalan maupun antibodi terhadap toksin dan meningkatkan daya tahan terhadap infeksi. Serum antibodi terhadap Vibrio Cholera bisa dideteksi sesudah terjadi infeksi oleh O1 (namun uji spesifik, sensitif dan prosedur pemeriksaan yang dapat dipercaya seperti untuk O1 saat ini tidak ada untuk infeksi O139). Adanya serum antibodi terhadap vibrio cholerae ini sebagai bukti adanya perlindungan terhadap kolera O1. Studi lapangan menunjukkan bahwa infeksi klinis awal oleh Vibrio cholera O1 dari biotipe klasik memberikan perlindungan terhadap infeksi biotipe klasik maupun El Tor; sebaliknya infeksi klinis awal oleh biotipe El Tor memberikan perlindungan jangka panjang namun sangat rendah dan terbatas terhadap infeksi El Tor saja. Di daerah endemis, kebanyakan orang memperoleh antibodi pada awal masa beranjak dewasa. Infeksi oleh strain O1 tidak memberi perlindungan terhadap infeksi O 139 dan sebaliknya. Studi eksperimental yang dilakukan pada sukarelawan, menunjukkan bahwa infeksi klinis awal oleh Vibrio cholera O139 memberikan proteksi yang cukup bermakna terhadap diare karena infeksi Vibrio cholera O139.
I. Cara – cara pemberantasan
1. Tindakan pencegahan
a. Pemberian Imunisasi aktif dengan vaksin mati whole cell, yang diberikan secara parenteral kurang bermanfaat untuk penanggulangan wabah maupun untuk penanggulangan kontak. Vaksin ini hanya memberikan perlindungan parsial (50%) dalam jangka waktu yang pendek (3 – 6 bulan) di daerah endemis tinggi tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi asimptomatik; oleh karena itu pemberian imunisasi tidak direkomendasikan. Dua jenis Vaksin oral yang memberikan perlindungan cukup bermakna untuk beberapa bulan terhadap kolera yang disebabkan oleh strain O1, kini tersedia di banyak negara. Pertama adalah vaksin hidup (strain CVD 103 – HgR, dosis tunggal tersedia dengan nama dagang Orachol® di Eropa dan Mutacol di Kanada, SSV1); yang lainnya adalah vaksin mati yang mengandung vibrio yang diinaktivasi ditambah dengan subunit B dari toksin kolera, diberikan dalam 2 dosis (Dukoral, SBL). Sampai dengan akhir tahun 1999, vaksin-vaksin ini belum mendapat lisensi di AS.
b. Tindakan pencegahan yang melarang atau menghambat perjalanan orang, pengangkutan bahan makanan atau barang tidak dibenarkan.
B. Pengawasan penderita, kontak atau lingkungan sekitarnya
1). Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Laporan kasus kolera umumnya diwajibkan sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation,1969). Edisi beranotasi Ketiga (Third Annotated Edition, 1983), dan IHR yang di perbarui dan di cetak ulang pada tahun 1992, WHO, Geneva; kelas 1 (lihat tentang pelaporan penyakit menular). Saat ini sedang dilakukan revisi terhadap IHR.
2). Isolasi : perawatan di rumah sakit dengan memperlakukan kewaspadan enterik di perlukan untuk pasien berat; isolasi ketat tidak diperlukan. Untuk penderita yang tidak begitu berat, dapat di perlakukan sebagai penderita rawat jalan, diberi rehidrasi oral dan antibiotika yang tepat. Ruang perawatan kolera yang penuh sesak dengan penderita dapat di operasikan tanpa perlu khawatir dapat menimbulkan ancaman penularan kepada petugas kesehatan dan pengunjung asalkan prosedur cuci tangan secara efektif serta prosedur kebersihan perorangan di laksanakan dengan baik. Pemberantasan terhadap lalat juga perlu dilakukan.
3). Disinfeksi serentak : Dilakukan terhadap tinja dan muntahan serta bahan-bahan dari kain (linen, seperti sprei, sarung bantal dan lain-lain) serta barang-barang lain yang digunakan oleh penderita, dengan cara di panaskan, diberi asam karbol atau disinfektan lain. Masyarakat yang memiliki sistem pembuangan kotoran dan limbah yang modern dan tepat, tinja dapat langsung dibuang ke dalam saluran pembuangan tanpa perlu dilakukan disinfeksi sebelumnya. Pembersihan menyeluruh.
4). Karantina :Tidak diperlukan.
5). Manajemen kontak : Lakukan surveilans terhadap orang yang minum dan mengkonsumsi makanan yang sama dengan penderita kolera, selama 5 hari setelah kontak terakhir. Jika terbukti kemungkinan adanya penularan sekunder didalam rumah tangga, anggota rumah tangga sebaiknya di beri pengobatan kemoprofilaksis; untuk orang dewasa adalah tetrasiklin (500 mg 4 kali sehari) atau doksisiklin (dosis tunggal 300 mg) selama 3 hari, kecuali untuk strain lokal yang diketahui atau diduga resisten terhadap tetrasiklin. Anak-anak juga bisa diberikan tetrasiklin (50mg/kg/hari dibagi ke dalam 4 dosis) atau doksisiklin (dosis tunggal 6 mg/kg) selama 3 hari, dengan pemberian tetrasiklin dalam waktu yang singkat, tidak akan terjadi noda pada gigi. Pengobatan profilaktik alternatif yang bisa digunakan untuk strain V. cholerae O1 yang resisten terhadap tetrasiklin adalah: Furazolidon (Furoxone®) (100 mg 4 kali sehari untuk orang dewasa dan untuk anak-anak 1.25 mg/kg 4 kali sehari), eritromisin (dosis anak-anak 40 mg/kg sehari dibagi ke dalam 4 dosis dan untuk orang dewasa 250 mg, 4 kali sehari); TMP-SMX (320 mg TMP dan 1600 mg SMX dua kali sehari untuk orang dewasa dan 8 mg/kg TMP dan 40 mg/kg SMX sehari dibagi ke dalam 2 dosis untuk anak-anak); atau siprofloksasin (500 mg dua kali sehari untuk orang dewasa). TMP-SMX tidak bermanfaat untuk infeksi V. cholerae O139 karena strain ini resisten pada obat-obat antimikroba jenis ini. Kemoprofilaksis masal untuk semua anggota masyarakat tidak pernah di lakukan karena dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotika. Imunisasi terhadap kontak tidak dianjurkan.
6). Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi : Lakukan investigasi terhadap kemungkinan sumber infeksi berasal dari air minum dan makanan yang terkontaminasi. Makanan yang dikonsumsi 5 hari sebelum sakit harus di tanyakan. Pencarian dengan cara mengkultur tinja untuk kasus-kasus yang tidak dilaporan hanya disarankan dilakukan terhadap anggota rumah tangga atau terhadap orang-orang yang kemungkinan terpajan dengan satu sumber (Common source) didaerah yang sebelumnya tidak terinfeksi.
7). Pengobatan spesifik : Ada tiga cara pengobatan bagi penderita Kolera : 1). Terapi rehidrasi agresif. 2). Pemberian antibiotika yang efektif. 3). Pengobatan untuk komplikasi. Dasar dari terapi kolera adalah rehidrasi agresif melalui oral dan intravena yang dilakukan untuk memperbaiki kekurangan cairan dan elektrolit, juga untuk mengganti cairan akibat diare berat yang sedang berlangsung. Antibiotika yang tepat adalah terapi tambahan yang sangat penting terhadap pemberian cairan, karena pemberian antibiotika dapat mengurangi volume dan lamanya diare dan dengan cepat mengurangi ekskresi dari vibrio sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penularan sekunder. Akhirnya pada saat terapi rehidrasi cukup efektif, dan penderita tertolong dari renjatan hipovolemik dan tertolong dari dehidrasi berat, penderita dapat mengalami komplikasi seperti hipoglikemi yang harus di ketahui dan di obati dengan segera. Jika hal diatas dilakukan dengan baik maka angka kematian (CFR) bahkan pada ledakan KLB di negara berkembang dapat ditekan dibawah 1 %.
Untuk memperbaiki dehidrasi, asidosis dan hipokalemia pada penderita dengan dehidrasi ringan hingga sedang cukup dengan hanya memberikan larutan rehidrasi oral (Oralit) yang mengandung glukosa 20g/l (atau sukrosa 40 gr/l atau dengan air tajin 50g/L), NaCl (3.5 g/L), KCl (1.5 g/L); dan trisodium sitrat dihidrat (2.9 g/L) atau NaHCO3 (2.5 g/L). Kehilangan cairan pada penderita dengan dehidrasi ringan hingga sedang di perbaiki dengan rehidrasi oral sebagai pengganti cairan, diberikan lebih dari 4 – 6 jam, agar jumlah yang diberikan dapat mengganti cairan yang diperkirakan hilang (kira-kira 5 % dari berat badan untuk dehidrasi ringan dan 7 % pada dehidrasi sedang). Kehilangan cairan yang berlangsung terus dapat digantikan dengan memberikan, selama lebih dari 4 jam, cairan per oral sebanyak 1.5 kali dari volume tinja yang hilang selama 4 jam sebelumnya.
Penderita yang menderita renjatan sebaiknya diberi rehidrasi intra vena cepat dengan larutan multielektrolit seimbang yang mengandung kira-kira 130 mEq/L Na+, 25 - 48 mEq/L bikarbonat, asetat atau ion laktat, dan 10-15 mEq/L K+. Larutan yang sangat bermanfaat antara lain Ringer’s laktat atau Larutan Pengobatan Diare dari WHO (4 gr NaCl, 1 g KCl, 6.5 gr natrium asetat dan 8 gr glukosa/L) dan “Larutan Dacca” (5 g NaCL, 4 gr NaHCO3, dan 1 g KCL/L), yang dapat dibuat ditempat pada keadaan darurat. Penggantian cairan awal sebaiknya diberikan 30ml/kg BB pada jam pertama untuk bayi dan pada 30 menit pertama untuk penderita berusia diatas 1 tahun, dan sesudahnya pasien harus di nilai kembali. Sesudah dilakukan koreksi terhadap sistem cairan tubuh yang kolaps, kebanyakan penderita cukup diberikan rehidrasi oral untuk melengkapi penggantian 10 % defisit awal cairan dan untuk mengganti cairan hilang yang sedang berlangsung.
Antibiotika yang tepat dapat memperpendek lamanya diare, mengurangi volume larutan rehidrasi yang dibutuhkan dan memperpendek ekskresi vibrio melalui tinja. Orang dewasa diberi tetrasiklin 500 mg 4 kali sehari dan anak anak 12.5 mg/kg 4 kali sehari selama 3 hari. Pada saat Strain V. cholerae yang resisten terhadap tetrasiklin sering ditemukan, maka pengobatan dilakukan dengan pemberian antimikroba alternatif yaitu TMP-SMX (320 mg trimethoprim dan 1600 mg sulfamethoxazol dua kali sehari untuk orang dewasa dan 8 mg/kg trimethoprim dan 40 mg/kg sulfamethoxazol sehari dibagi dalam 2 dosis untuk anak-anak, selama 3 hari); furazolidon (100 mg 4 kali sehari untuk orang dewasa dan 1.25 mg/kg 4 kali sehari untuk anak-anak, selama 3 hari); atau eritromisin (250 mg 4 kali sehari untuk orang dewasa dan 10 mg/kg 3 kali sehari untuk anak-anak selama 3 hari). Siprofloksasin, 250 mg sekali sehari selama 3 hari, juga merupakan regimen yang baik untuk orang dewasa. V. cholerae strain O139 resisten terhadap TMP-SMX. Oleh karena ditemukan strain O139 atau O1 yang mungkin resisten terhadap salah satu dari antimikroba ini, maka informasi tentang sensitivitas dari strain lokal terhadap obat-obatan ini perlu diketahui, jika fasilitas untuk itu tersedia, informasi ini digunakan sebagai pedoman pemilihan terapi antibiotika yang tepat.
C. Penanggulangan wabah.
1). Berikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat di daerah risiko tinggi untuk segera mencari pengobatan bila sakit.
2). Sediakan fasilitas pengobatan yang efektif
3). Lakukan tindakan darurat untuk menjamin tersediaanya fasilitas air minum yang aman. Lakukan klorinasi pada sistem penyediaan air bagi masyarakat, walaupun diketahui bahwa sumber air ini tidak terkontaminasi. Lakukan klorinasi atau masaklah air yang akan di minum, dan air yang akan dipakai untuk mencuci alat-alat masak dan alat-alat untuk menyimpan makanan kecuali jika tersedia air yang telah di klorinasi dengan baik dan terlindungi dari kontaminasi.
4). Lakukan pengawasan terhadap cara-cara pengolahan makanan dan minuman yang sehat. Setelah diolah dan dimasak dengan benar, lindungi makanan tersebut dari kontaminasi oleh lalat dan penanganan yang tidak saniter; makanan sisa sebaiknya di panaskan sebelum dikonsumsi. Orang yang menderita diare sebaiknya tidak menjamah atau menyediakan makanan dan minuman untuk orang lain. Makanan yang disediakan pada upacara pemakaman korban kolera mungkin tercemar dan selama wabah berlangsung makanan di tempat seperti ini sebaiknya dihindari.
5). Lakukan investigasi dengan sungguh-sungguh dengan desain sedemikian rupa untuk menemukan media dan lingkungan yang memungkinkan terjadinya penularan menurut variable orang, tempat dan waktu serta buatlah rencana penanggulangan yang memadai.
6). Sediakan fasilitas pembuangan sampah dan limbah domestik sesuai dengan syarat kesehatan.
7). Pemberian imunisasi dengan suntikan vaksin kolera Whole cell tidak dianjurkan.
8). Pada saat situasi wabah relatif mulai tenang, vaksin kolera oral dapat diberikan sebagai tambahan terhadap upaya penanggulangan wabah kolera. Namun, vaksin ini sebaiknya tidak digunakan pada saat suasana masih panik atau pada saat terjadi kekurangan persediaan air yang parah yang dapat mempengaruhi penyediaan terapi rehidrasi oral.
D. Implikasi bencana : risiko terjadinya KLB sangat tinggi di daerah di suatu daerah endemis kolera, apabila didaerah tersebut orang berkumpul bersama dalam jumlah besar tanpa penanganan makanan yang baik serta tanpa tersedianya fasilitas sanitasi yang memadai.
E. Tindakan internasional :
1). Pemerintah suatu negara harus segera melaporkan kepada WHO dan negara tetangga melalui media elektronika apabila pertama kali ditemukan penderita kolera yang disebabkan oleh V. cholerae O1 atau O139 dari suatu daerah/wilayah yang sebelumnya bebas dari kolera. Tidak perduli apakah kasus itu adalah kasus import ataukah bukan. Di AS, para klinisi dan ahli mikrobiologi melaporkan setiap kasus yang di curigai sebagai kolera kepada ahli epidemiologis negara bagian; dan departemen kesehatan negara bagian tersebut akan melaporkan kasus ini ke CDC, Atlanta. CDC kemudian akan mengkonfirmasikan kasus ini dan selanjutnya melaporkan ke WHO.
2). Tindakan dan prosedur untuk mencegah penularan yang di terapkan pada kapal laut, pesawat udara dan angkutan darat yang datang dari daerah terjangkit kolera tercantum dalam Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation) 1996, Edisi beranotasi ke tiga (Third Annotated Edition, 1983), di perbaharui dan di cetak ulang pada tahun 1992 oleh WHO di Genewa. IHR saat ini sedang direvisi, diharapkan edisi revisi ini bias selesai pada tahun 2005.
3). Pelancong internasional: Imunisasi dengan suntikan vaksin kolera whole cell tidak direkomendasikan oleh WHO bagi mereka yang mengadakan perjalanan dari suatu negara ke negara di manapun di dunia dan secara resmi tidak ada satu negarapun yang mensyaratkan pemberian imunisasi ini. Imunisasi dengan vaksin oral dianjurkan bagi mereka yang akan mengadakan perjalanan dari negara maju ke negara endemis ataupun kenegara yang sedang mengalami wabah kolera. Di negara-negara ini dimana vaksin oral telah memperoleh ijin beredar, imunisasi dianjurkan untuk diberikan kepada pelancong yang diketahui mempunyai faktor risiko, seperti mereka dengan hipoklorhidria (sebagai akibat dari gastrektomi ataupun pengobatan) atau kepada mereka yang menderita penyakit jantung (misalnya aritmia), orang tua ataupun mereka dengan golongan darah O. Sejak akhir tahun 1999, vaksin ini tidak lagi di ijinkan beredar di AS.
Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation) menyatakan bahwa : “orang yang melakukan perjalanan internasional, dan datang dari daerah terjangkit kolera yang masih dalam masa inkubasi serta orang yang menunjukkan gejala kolera, harus menyerahkan tinjanya untuk dilakukan pemeriksaan”.
BAB III
PENUTUP
A. Penutup
Penyakit saluran pencernaan akut yang disebabkan oleh bakteri dan ditandai gejala dalam bentuknya yang berat dengan onset yang tiba-tiba, diare terus menerus, cair seperti air cucian beras, tanpa sakit perut, disertai muntah dan mual di awal timbulnya penyakit. Pada kasus-kasus yang tidak diobati dengan cepat dan tepat dapat terjadi dehidrasi, asidosis, kolaps, hipoglikemi pada anak serta gagal ginjal. Infeksi tanpa gejala biasanya lebih sering terjadi daripada infeksi dengan gejala, terutama infeksi oleh biotipe El Tor; gejala ringan dengan hanya diare, umum terjadi, terutama dikalangan anak-anak. Pada kasus berat yang tidak diobati (kolera gravis), kematian bisa terjadi dalam beberapa jam, dan CFR-nya bisa mencapai 50 %. Dengan pengobatan tepat, angka ini kurang dari 1 %.
Diagnosa ditegakkan dengan mengisolasi Vibrio cholera dari serogrup O1 atau O139 dari tinja. Jika fasilitas laboratorium tidak tersedia, Cary Blair media transport dapat digunakan untuk membawa atau menyimpan spesimen apus dubur (Rectal Swab).
Untuk diagnosa klinis presumtif cepat dapat dilakukan dengan mikroskop medan gelap atau dengan visualisasi mikroskopik dari gerakan vibrio yang tampak seperti shooting stars atau bintang jatuh, dihambat dengan antisera serotipe spesifik yang bebas bahan pengawet. Untuk tujuan epidemiologis, diagnosa presumtif dibuat berdasarkan adanya kenaikan titer antitoksin dan antibodi spesifik yang bermakna. Di daerah non-endemis, organisme yang diisolasi dari kasus indeks yang dicurigai sebaiknya dikonfirmasikan dengan pemeriksaan biokimiawi dan pemeriksaan serologis yang tepat serta dilakukan uji kemampuan organisme untuk memproduksi toksin kolera atau untuk mengetahui adanya gen toksin. Pada saat terjadi wabah, sekali telah dilakukan konfirmasi laboratorium dan uji sensitivitas antibiotik, maka terhadap semua kasus yang lain tidak perlu lagi dilakukan uji laboratorium
B. Saran
Berdasarkan uraian kesimpulan diatas maka agen infeksius menyerang pada saat tubuh kita mengalami kelemahan atau pada saat tubuh mempunyai imun yang menurun. Untuk itu penulisa menyarankan kepada semua pembaca untuk memulai pola hidup sehat dengan banyak berolah raga kemudian makan-makanan yang bergizi. Makan-makanan yang bergizi tidaklah harus dengan yang mewah-mewah namun harus dengan cara penyajian yang baik dan benar agar kadar gizi yang dibutuhkan tubuh tidak hilang.
Daftar Pustaka
Baratawidjaja, Karnen Garna. 1991. IMUNOLOGI DASAR. FKUI: Jakarta.
Pusat Pendidikan. 1989. IMUNOLOGI. Balai Kesehatan RI: Jakarta.
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Infeksi Oleh Vibrio Cholera”
Penyusunan makalah ini dalam rangka penugasan Mikrobiologi & Parasitologi. Dalam penyusunan makalah ini penulis masih banyak kekurangan dan kekhilafan baik materi, tata bahasa dan isi ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis, tapi dengan bantuan dan bimbingan dari Bapak Bambang Riyadi makalah ini dapat diselesaikan. Penulis juga menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan dengan ini penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Penulis juga berharap semoga amal baik yang telah diberikan mendapatkan imbalan yang sesuai dari Allah SWT, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Pontianak, Juni 2008
Penulis
Daftar Pustaka
Kata Pengantar………………………………………………………… ..1
Daftar Pustaka………………………………………………………….. .2
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang…………………………………………………... 4
B. Tujuan Penulisan………………………………………………… 5
C. Ruang Lingkup…………………………………………………... 6
D. Metode Penulisan………………………………………………... 6
E. Sistematika Penulisan……………………………………………. 7
Bab II Landasan Teoritis............................................................................8
Bab IV Penutup
A. Kesimpulan……………………………………………………... 23
B. Saran……………………………………………………………. 24
Daftar Pustaka…………………………………………………………..25
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Penyakit saluran pencernaan akut yang disebabkan oleh bakteri dan ditandai gejala dalam bentuknya yang berat dengan onset yang tiba-tiba, diare terus menerus, cair seperti air cucian beras, tanpa sakit perut, disertai muntah dan mual di awal timbulnya penyakit. Pada kasus-kasus yang tidak diobati dengan cepat dan tepat dapat terjadi dehidrasi, asidosis, kolaps, hipoglikemi pada anak serta gagal ginjal. Infeksi tanpa gejala biasanya lebih sering terjadi daripada infeksi dengan gejala, terutama infeksi oleh biotipe El Tor; gejala ringan dengan hanya diare, umum terjadi, terutama dikalangan anak-anak. Pada kasus berat yang tidak diobati (kolera gravis), kematian bisa terjadi dalam beberapa jam, dan CFR-nya bisa mencapai 50 %. Dengan pengobatan tepat, angka ini kurang dari 1 %.
Diagnosa ditegakkan dengan mengisolasi Vibrio cholera dari serogrup O1 atau O139 dari tinja. Jika fasilitas laboratorium tidak tersedia, Cary Blair media transport dapat digunakan untuk membawa atau menyimpan spesimen apus dubur (Rectal Swab).
Untuk diagnosa klinis presumtif cepat dapat dilakukan dengan mikroskop medan gelap atau dengan visualisasi mikroskopik dari gerakan vibrio yang tampak seperti shooting stars atau bintang jatuh, dihambat dengan antisera serotipe spesifik yang bebas bahan pengawet. Untuk tujuan epidemiologis, diagnosa presumtif dibuat berdasarkan adanya kenaikan titer antitoksin dan antibodi spesifik yang bermakna. Di daerah non-endemis, organisme yang diisolasi dari kasus indeks yang dicurigai sebaiknya dikonfirmasikan dengan pemeriksaan biokimiawi dan pemeriksaan serologis yang tepat serta dilakukan uji kemampuan organisme untuk memproduksi toksin kolera atau untuk mengetahui adanya gen toksin. Pada saat terjadi wabah, sekali telah dilakukan konfirmasi laboratorium dan uji sensitivitas antibiotik, maka terhadap semua kasus yang lain tidak perlu lagi dilakukan uji laboratorium.
Berdasarkan uraian diatas maka penyaji merasa tertarik untuk untuk menyajikan makalah dalam bab ini.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
a. Meningkatkan pengetahuan tentang pengertian Infeksi Oleh Vibrio Cholera.
b. Mendapatkan gambaran yang jelas tentang Proses Vibrio Cholera.
c. Memberi saran dan alternatif pemecahan masalah terkait permaslahan Vibrio Cholera.
C. Ruang Lingkup
Karena luas nya permasalah tentang infeksi dan banyaknya literatur yang berkebaan dengan proses infeksi maka penulis hanya membatasi penulisan tentang proses Vibrio Cholera.
D. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu memberi gambaran tentang proses Vibrio Cholera yang dilakukan dengan cara :
a. Studi perpustakaan yaitu dengan pendekatan teoritis untuk mendapatkan dasar-dasar ilmiah yang berhubungan dengan permasalahan dalam makalah ini.
b. Browsing melalui layananan internet untuk menambah literatur yang ada.
E. Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun secara sistematis yang terdiri dari beberapa bab yaitu :
Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari Latar belakang, Tujuan penulisan, Ruang lingkup, Metode Penulisan, Sistematika Penulisan.
Bab II : Landasan teoritis yang berisikan tentang pembahasan Vibrio Cholera.
Daftar Pustaka
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Identifikasi
Penyakit saluran pencernaan akut yang disebabkan oleh bakteri dan ditandai gejala dalam bentuknya yang berat dengan onset yang tiba-tiba, diare terus menerus, cair seperti air cucian beras, tanpa sakit perut, disertai muntah dan mual di awal timbulnya penyakit. Pada kasus-kasus yang tidak diobati dengan cepat dan tepat dapat terjadi dehidrasi, asidosis, kolaps, hipoglikemi pada anak serta gagal ginjal. Infeksi tanpa gejala biasanya lebih sering terjadi daripada infeksi dengan gejala, terutama infeksi oleh biotipe El Tor; gejala ringan dengan hanya diare, umum terjadi, terutama dikalangan anak-anak. Pada kasus berat yang tidak diobati (kolera gravis), kematian bisa terjadi dalam beberapa jam, dan CFR-nya bisa mencapai 50 %. Dengan pengobatan tepat, angka ini kurang dari 1 %.
Diagnosa ditegakkan dengan mengisolasi Vibrio cholera dari serogrup O1 atau O139 dari tinja. Jika fasilitas laboratorium tidak tersedia, Cary Blair media transport dapat digunakan untuk membawa atau menyimpan spesimen apus dubur (Rectal Swab).
Untuk diagnosa klinis presumtif cepat dapat dilakukan dengan mikroskop medan gelap atau dengan visualisasi mikroskopik dari gerakan vibrio yang tampak seperti shooting stars atau bintang jatuh, dihambat dengan antisera serotipe spesifik yang bebas bahan pengawet. Untuk tujuan epidemiologis, diagnosa presumtif dibuat berdasarkan adanya kenaikan titer antitoksin dan antibodi spesifik yang bermakna. Di daerah non-endemis, organisme yang diisolasi dari kasus indeks yang dicurigai sebaiknya dikonfirmasikan dengan pemeriksaan biokimiawi dan pemeriksaan serologis yang tepat serta dilakukan uji kemampuan organisme untuk memproduksi toksin kolera atau untuk mengetahui adanya gen toksin. Pada saat terjadi wabah, sekali telah dilakukan konfirmasi laboratorium dan uji sensitivitas antibiotik, maka terhadap semua kasus yang lain tidak perlu lagi dilakukan uji laboratorium
B. Penyebab Penyakit.
Vibrio cholera serogrup O1 terdiri dari dua biotipe yaitu Vibrio klasik dan Vibiro El Tor dan yang terdiri dari serotipe Inaba, Ogawa dan Hikojima (jarang ditemui). Vibrio cholera O139 juga menyebabkan kolera tipikal. Gambaran klinis dari penyakit yang disebabkan oleh Vibrio cholera O1 dari kedua biotipe dan yang disebabkan oleh Vibrio cholera O139 adalah sama karena enterotoksin yang dihasilkan oleh organisme ini hampir sama. Pada setiap kejadian wabah atau KLB, tipe organisme tertentu cenderung dominan, saat ini biotipe El Tor adalah yang paling sering ditemukan. Di kebanyakan daerah di India dan Bangladesh, sebagian besar dari kejadian kolera disebabkan oleh Vibrio cholera O139 dan Vibrio cholera O1 dari biotipe klasik ditemukan di Bangladesh selama dekade lalu. Beberapa jenis Vibrio yang secara biokimiawi tidak dapat dibedakan satu sama lain, tetapi tidak menggumpal dengan antisera Vibrio cholera serogrup O1 (strain non-O1, dahulu di kenal sebagai Vibrio yang tidak menggumpal (NAGs) atau juga dikenal sebagai “Non Cholera Vibrio” (NCVsJ) sekarang dimasukkan ke dalam spesies Vibrio cholera. Beberapa strain kolera memproduksi enterotoksin tetapi kebanyakan tidak. Sebelum tahun 1992, strain non-O1 diketahui sebagai penyebab diare sporadis dan jarang menyebabkan KLB dan tidak pernah sebagai penyebab wabah yang menelan korban banyak. Namun pada akhir tahun 1992 wabah kolera dengan dehidrasi berat terjadi di India dan Bangladesh dengan jumlah korban yang sangat banyak. Organisme penyebabnya adalah serogrup baru dari Vibrio cholera O139, yang menghasilkan toksin kolera yang sama dengan O1 tetapi berbeda, pada struktur lipo polisakaridanya (LPS) dan berbeda dalam kemampuan memproduksi antigen kapsuler. Gambaran klinis dan epidemiologis dari penyakit yang disebabkan oleh organisme ini dengan ciri khas kolera, dan harus dilaporkan sebagai kolera. Wabah oleh strain O-139 yang mempunyai faktor virulensi yang sama seperti Vibrio cholera O1 El Tor, faktor ini nampaknya diperoleh dari hilangnya bagian gen yang menyandikan (Encode) antigen lipo polisakarida dari O1 strain El Tor di ikuti dengan bersatunya sebagian besar fragmen dari DNA baru yang menyandikan (encoding) enzim yang memungkinkan terjadinya sintesa dari liposakarida dan kapsul dari O 139. Melaporkan Infeksi Vibrio cholera O1 non-toksikogenik atau infeksi Vibrio cholera non O1, selain O139 sebagai, kolera, adalah laporan yang tidak akurat dan membingungkan.
C. Distribusi penyakit.
Selama abad 19, pandemi kolera menyebar berulang kali dari delta Sungai Gangga di India ke seluruh dunia. Sampai dengan pertengahan abad ke 20, penyakit ini terbatas hanya terjadi di Asia, kecuali kejadian wabah kolera yang menelan banyak korban di Mesir pada tahun 1947. Selama setengah abad terakhir abad ke 20 gambaran epidemiologis kolera ditandai dengan 3 ciri utama.
1). Terjadinya pandemi ke 7 kolera yang disebabkan oleh Vibrio cholera O1 El Tor, dengan korban yang sangat banyak.
2). Diketahui adanya reservoir lingkungan dari kolera, salah satunya adalah di sepanjang pantai teluk Meksiko di AS.
3). Munculnya untuk pertama kali ledakan wabah besar dari Cholera gravis yang disebabkan oleh organisme Vibrio cholera dari serogrup selain O1, (Vibrio cholera O139).
Sejak tahun 1961, Vibrio cholera dari biotipe El Tor telah menyebar dari Indonesia melalui sebagian besar Asia ke Eropa Timur. Pada tahun 1970, biotipe ini masuk ke Afrika bagian barat dan menyebar dengan cepat di benua itu dan menjadi endemis di sebagian besar negara Afrika. Beberapa kali KLB kolera telah terjadi di semenanjung Iberia dan Itali pada tahun 1970 an.
Kolera El Tor kembali ke Benua Amerika di tahun 1991, sesudah menghilang selama satu abad dan menyebabkan ledakan-ledakan wabah sepanjang pantai Pasifik di Peru. Dari Peru, kolera dengan cepat menyebar ke negara-negara tetangga, dan pada tahun 1994, kira-kira 1 juta kasus kolera tercatat terjadi di Amerika Latin. Perlu di catat, walaupun manifestasi klinis penyakit ini sama beratnya dengan yang terjadi di bagian lain di dunia, namun keseluruhan CFR kolera di Amerika Latin bisa ditekan tetap rendah (sekitar 1%) kecuali di pedesaan di pegunungan Andes dan wilayah Amazona dimana fasilitas pelayanan kesehatan sangat jauh.
Perlu dicatat secara spesifik bahwa telah terjadi KLB kolera El Tor diantara pengungsi Rwanda di Goma, Zaire, pada bulan Juli tahun 1994 dengan 70.000 penderita dan 12.000 orang diantaranya tewas dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Secara keseluruhan, 384.403 penderita dan 10.692 kematian akibat kolera dilaporan ke WHO pada tahun 1994 oleh 94 negara. CFR global pada tahun 1994 adalah 2,8 % yang bervariasi dari 1% di AS, 1,3 % di Asia dan 5 % di Afrika.
Variasi angka ini mencerminkan perbedaan dalam sistim pelaporan dan akses terhadap pengobatan yang tepat, tidak menggambarkan virulensi dari organisme penyebab.
Kecuali untuk dua kasus kolera yang didapatkan karena infeksi dilaboratorium, dibelahan bumi bagian Barat tidak ditemukan penderita kolera indigenous sejak tahun 1911 sampai dengan 1973, pada saat itu di Texas ditemukan penderita dengan V. cholerae El Tor Inaba sebagai penyebab, dimana sumbernya tidak diketahui.
Pada tahun 1978 dan awal 1990 an ditemukan secara sporadis penderita dengan infeksi V. cholerae El Tor Inaba di Louisiana dan Texas.
Timbulnya kasus-kasus kolera diatas disepanjang Gulf Coast Amerika selama bertahun-tahun disebabkan oleh satu strain indigenous yang berasal dari reservoir lingkungan dari V. cholerae O1 El Tor Inaba disepanjang pantai teluk Mexico.
Pada bulan Oktober 1992, KLB kolera terjadi secara serentak di beberapa daerah di Negara Bagian Tamilnadu, India. Strain yang diisolasi dari KLB ini tidak menggumpal dengan antisera O1, begitu pula strain ini pada pemeriksaan laboratorium tidak dapat diidentifikasi dengan panel standar antisera dari Vibrio cholera 138 non O1. Serogrup baru, yang disebut O 139 Bengal menyebar dengan cepat ke seluruh negara bagian dan kawasan sekitarnya, dalam beberapa bulan menyebabkan ratusan ribu orang terserang. Selama periode wabah, V. cholerae O139 menggantikan strain V. cholerae O1 pada hampir semua pasien yang dirawat di rumah sakit dan dari sampel yang diambil dari air permukaan. Wabah terus menyebar sepanjang tahun 1994 dengan penderita kolera O139 yang dilaporkan dari 11 negara di Asia. Strain baru ini diperkirakan menyebar ke benua lain melalui para pelancong yang terinfeksi didaerah tujuan wisata, tetapi tidak dilaporkan adanya penyebaran sekunder diluar Asia. Bahwa wabah O139 yang terjadi di Asia pada awal tahun 1990-an dipercaya sebagai awal terjadinya pandemi ke 8 dari kolera. Namun O139 bukan hanya tidak menyebar dan menyebabkan wabah di Afrika dan Amerika Selatan tetapi ia juga menghilang dengan cepat baik di India maupun Bangladesh. Dan bahkan menghilang dari daerah dimana strain ini berasal dan pernah menyebar. Kalaupun ditemukan dibagian lain didunia, O139 sebagai penyebab tidak lebih dari 5 – 10 % dari seluruh kasus kolera. Kolera O 139 di masa yang akan datang diduga dapat menyebabkan wabah yang sangat besar di bagian lain di dunia dan karenanya membutuhkan surveilans internasional yang terus menerus.
Semenjak kolera kembali menyerang Amerika Latin pada tahun 1990 an, para pelancong yang terserang kolera meningkat dengan tajam. Dengan menggunakan metode bakteriologis yang canggih (media TCBS) berbagai studi prospektif telah dilakukan dan membuktikan bahwa insiden kolera yang menyerang para pelancong di AS dan yang menyerang turis Jepang cukup tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.
D. Reservoir
Reservoirnya adalah : Manusia; pengamatan yang dilakukan di AS, Bangladesh dan Australia selama lebih dari 2 dekade menunjukkan adanya reservoir lingkungan, dimana vibrio diduga hidup pada copepoda dan zooplankton yang hidup diperairan payau dan muara sungai.
E. Cara penularan
Masuk melalui makanan atau air minum yang terkontaminasi secara langsung atau tidak langsung oleh tinja atau muntahan dari orang yang terinfeksi. El Tor dan O139 dapat bertahan di air dalam jangka waktu yang lama. Pada saat wabah El Tor sekala besar terjadi di Amerika Latin pada tahun 1991, penularan yang cepat dari kolera terjadi melalui air yang tercemar karena sistem PAM perkotaan yang tidak baik, air permukaan yang tercemar, sistem penyimpanan air dirumah tangga yang kurang baik. Makanan dan minuman pada saat itu diolah dengan air yang tercemar dan di jual oleh pedagang kaki lima, bahkan es dan air minum yang dikemaspun juga tercemar oleh vibrio cholerae. Biji-bijian yang dimasak dengan saus pada saat wabah itu terbukti berperan sebagai media penularan kolera. Vibrio cholerae yang dibawa oleh penjamah makanan dapat mencemari salah satu dari jenis makanan yang disebutkan diatas yang apabila tidak disimpan dalam lemari es dalam suhu yang tepat, dapat meningkatkan jumlah kuman berlipat ganda dalam waktu 8 – 12 jam. Sayuran dan buah-buahan yang dicuci dan dibasahi dengan air limbah yang tidak diolah, juga menjadi media penularan. Terjadinya wabah maupun munculnya kasus sporadis sering disebabkan oleh karena mengkonsumsi seafood mentah atau setengah matang. Air yang tercemar sering berperan sebagai media penularan seperti yang terjadi pada KLB di Guam, Kiribati, Portugal, Itali dan Ekuador. Pada kejadian lain, seperti di AS, kasus sporadis kolera justru timbul karena mengkonsumsi seafood mentah atau setengah matang yang ditangkap dari perairan yang tidak tercemar.
Sebagai contoh Kasus kolera yang muncul di Louisiana dan Texas menyerang orang-orang yang mengkonsumsi kerang yang diambil dari pantai dan muara sungai yang diketahui sebagai reservoir alami dari Vibrio cholera O1 serotipe Inaba, muara sungai yang tidak terkontaminasi oleh air limbah. Kolera klinis didaerah endemis biasanya ditemukan pada kelompok masyarakat ekonomi lemah.
F. Masa inkubasi
Dari beberapa jam sampai 5 hari, biasanya 2 – 3 hari.
G. Masa penularan
Diperkirakan selama hasil pemeriksaan tinja masih positif, orang tersebut masih menular, berlangsung sampai beberapa hari sesudah sembuh. Terkadang status sebagai carrier berlangsung hingga beberapa bulan. Berbagai jenis antibiotika diketahui efektif terhadap strain infektif (misalnya tetrasiklin untuk strain O139 dan kebanyakan strain O1). Pemberian antibiotika memperpendek masa penularan walaupun sangat jarang sekali, ditemukan infeksi kandung empedu kronis berlangsung hingga bertahun-tahun pada orang dewasa yang secara terus menerus mengeluarkan vibrio cholerae melalui tinja.
H. Kekebalan dan Kerentanan
Resistensi dan kerentanan seseorang sangat bervariasi achlorhydria, lambung meningkatkan risiko terkena penyakit, sedangkan bayi yang disusui terlindungi dari infeksi. Kolera gravis biotipe El Tor dan Vibrio cholera O139 secara bermakna lebih sering menimpa orang-orang dengan golongan darah O. Infeksi oleh V. cholerae O1 atau O139 meningkatkan titer antibodi penggumpalan maupun antibodi terhadap toksin dan meningkatkan daya tahan terhadap infeksi. Serum antibodi terhadap Vibrio Cholera bisa dideteksi sesudah terjadi infeksi oleh O1 (namun uji spesifik, sensitif dan prosedur pemeriksaan yang dapat dipercaya seperti untuk O1 saat ini tidak ada untuk infeksi O139). Adanya serum antibodi terhadap vibrio cholerae ini sebagai bukti adanya perlindungan terhadap kolera O1. Studi lapangan menunjukkan bahwa infeksi klinis awal oleh Vibrio cholera O1 dari biotipe klasik memberikan perlindungan terhadap infeksi biotipe klasik maupun El Tor; sebaliknya infeksi klinis awal oleh biotipe El Tor memberikan perlindungan jangka panjang namun sangat rendah dan terbatas terhadap infeksi El Tor saja. Di daerah endemis, kebanyakan orang memperoleh antibodi pada awal masa beranjak dewasa. Infeksi oleh strain O1 tidak memberi perlindungan terhadap infeksi O 139 dan sebaliknya. Studi eksperimental yang dilakukan pada sukarelawan, menunjukkan bahwa infeksi klinis awal oleh Vibrio cholera O139 memberikan proteksi yang cukup bermakna terhadap diare karena infeksi Vibrio cholera O139.
I. Cara – cara pemberantasan
1. Tindakan pencegahan
a. Pemberian Imunisasi aktif dengan vaksin mati whole cell, yang diberikan secara parenteral kurang bermanfaat untuk penanggulangan wabah maupun untuk penanggulangan kontak. Vaksin ini hanya memberikan perlindungan parsial (50%) dalam jangka waktu yang pendek (3 – 6 bulan) di daerah endemis tinggi tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi asimptomatik; oleh karena itu pemberian imunisasi tidak direkomendasikan. Dua jenis Vaksin oral yang memberikan perlindungan cukup bermakna untuk beberapa bulan terhadap kolera yang disebabkan oleh strain O1, kini tersedia di banyak negara. Pertama adalah vaksin hidup (strain CVD 103 – HgR, dosis tunggal tersedia dengan nama dagang Orachol® di Eropa dan Mutacol di Kanada, SSV1); yang lainnya adalah vaksin mati yang mengandung vibrio yang diinaktivasi ditambah dengan subunit B dari toksin kolera, diberikan dalam 2 dosis (Dukoral, SBL). Sampai dengan akhir tahun 1999, vaksin-vaksin ini belum mendapat lisensi di AS.
b. Tindakan pencegahan yang melarang atau menghambat perjalanan orang, pengangkutan bahan makanan atau barang tidak dibenarkan.
B. Pengawasan penderita, kontak atau lingkungan sekitarnya
1). Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Laporan kasus kolera umumnya diwajibkan sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation,1969). Edisi beranotasi Ketiga (Third Annotated Edition, 1983), dan IHR yang di perbarui dan di cetak ulang pada tahun 1992, WHO, Geneva; kelas 1 (lihat tentang pelaporan penyakit menular). Saat ini sedang dilakukan revisi terhadap IHR.
2). Isolasi : perawatan di rumah sakit dengan memperlakukan kewaspadan enterik di perlukan untuk pasien berat; isolasi ketat tidak diperlukan. Untuk penderita yang tidak begitu berat, dapat di perlakukan sebagai penderita rawat jalan, diberi rehidrasi oral dan antibiotika yang tepat. Ruang perawatan kolera yang penuh sesak dengan penderita dapat di operasikan tanpa perlu khawatir dapat menimbulkan ancaman penularan kepada petugas kesehatan dan pengunjung asalkan prosedur cuci tangan secara efektif serta prosedur kebersihan perorangan di laksanakan dengan baik. Pemberantasan terhadap lalat juga perlu dilakukan.
3). Disinfeksi serentak : Dilakukan terhadap tinja dan muntahan serta bahan-bahan dari kain (linen, seperti sprei, sarung bantal dan lain-lain) serta barang-barang lain yang digunakan oleh penderita, dengan cara di panaskan, diberi asam karbol atau disinfektan lain. Masyarakat yang memiliki sistem pembuangan kotoran dan limbah yang modern dan tepat, tinja dapat langsung dibuang ke dalam saluran pembuangan tanpa perlu dilakukan disinfeksi sebelumnya. Pembersihan menyeluruh.
4). Karantina :Tidak diperlukan.
5). Manajemen kontak : Lakukan surveilans terhadap orang yang minum dan mengkonsumsi makanan yang sama dengan penderita kolera, selama 5 hari setelah kontak terakhir. Jika terbukti kemungkinan adanya penularan sekunder didalam rumah tangga, anggota rumah tangga sebaiknya di beri pengobatan kemoprofilaksis; untuk orang dewasa adalah tetrasiklin (500 mg 4 kali sehari) atau doksisiklin (dosis tunggal 300 mg) selama 3 hari, kecuali untuk strain lokal yang diketahui atau diduga resisten terhadap tetrasiklin. Anak-anak juga bisa diberikan tetrasiklin (50mg/kg/hari dibagi ke dalam 4 dosis) atau doksisiklin (dosis tunggal 6 mg/kg) selama 3 hari, dengan pemberian tetrasiklin dalam waktu yang singkat, tidak akan terjadi noda pada gigi. Pengobatan profilaktik alternatif yang bisa digunakan untuk strain V. cholerae O1 yang resisten terhadap tetrasiklin adalah: Furazolidon (Furoxone®) (100 mg 4 kali sehari untuk orang dewasa dan untuk anak-anak 1.25 mg/kg 4 kali sehari), eritromisin (dosis anak-anak 40 mg/kg sehari dibagi ke dalam 4 dosis dan untuk orang dewasa 250 mg, 4 kali sehari); TMP-SMX (320 mg TMP dan 1600 mg SMX dua kali sehari untuk orang dewasa dan 8 mg/kg TMP dan 40 mg/kg SMX sehari dibagi ke dalam 2 dosis untuk anak-anak); atau siprofloksasin (500 mg dua kali sehari untuk orang dewasa). TMP-SMX tidak bermanfaat untuk infeksi V. cholerae O139 karena strain ini resisten pada obat-obat antimikroba jenis ini. Kemoprofilaksis masal untuk semua anggota masyarakat tidak pernah di lakukan karena dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotika. Imunisasi terhadap kontak tidak dianjurkan.
6). Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi : Lakukan investigasi terhadap kemungkinan sumber infeksi berasal dari air minum dan makanan yang terkontaminasi. Makanan yang dikonsumsi 5 hari sebelum sakit harus di tanyakan. Pencarian dengan cara mengkultur tinja untuk kasus-kasus yang tidak dilaporan hanya disarankan dilakukan terhadap anggota rumah tangga atau terhadap orang-orang yang kemungkinan terpajan dengan satu sumber (Common source) didaerah yang sebelumnya tidak terinfeksi.
7). Pengobatan spesifik : Ada tiga cara pengobatan bagi penderita Kolera : 1). Terapi rehidrasi agresif. 2). Pemberian antibiotika yang efektif. 3). Pengobatan untuk komplikasi. Dasar dari terapi kolera adalah rehidrasi agresif melalui oral dan intravena yang dilakukan untuk memperbaiki kekurangan cairan dan elektrolit, juga untuk mengganti cairan akibat diare berat yang sedang berlangsung. Antibiotika yang tepat adalah terapi tambahan yang sangat penting terhadap pemberian cairan, karena pemberian antibiotika dapat mengurangi volume dan lamanya diare dan dengan cepat mengurangi ekskresi dari vibrio sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penularan sekunder. Akhirnya pada saat terapi rehidrasi cukup efektif, dan penderita tertolong dari renjatan hipovolemik dan tertolong dari dehidrasi berat, penderita dapat mengalami komplikasi seperti hipoglikemi yang harus di ketahui dan di obati dengan segera. Jika hal diatas dilakukan dengan baik maka angka kematian (CFR) bahkan pada ledakan KLB di negara berkembang dapat ditekan dibawah 1 %.
Untuk memperbaiki dehidrasi, asidosis dan hipokalemia pada penderita dengan dehidrasi ringan hingga sedang cukup dengan hanya memberikan larutan rehidrasi oral (Oralit) yang mengandung glukosa 20g/l (atau sukrosa 40 gr/l atau dengan air tajin 50g/L), NaCl (3.5 g/L), KCl (1.5 g/L); dan trisodium sitrat dihidrat (2.9 g/L) atau NaHCO3 (2.5 g/L). Kehilangan cairan pada penderita dengan dehidrasi ringan hingga sedang di perbaiki dengan rehidrasi oral sebagai pengganti cairan, diberikan lebih dari 4 – 6 jam, agar jumlah yang diberikan dapat mengganti cairan yang diperkirakan hilang (kira-kira 5 % dari berat badan untuk dehidrasi ringan dan 7 % pada dehidrasi sedang). Kehilangan cairan yang berlangsung terus dapat digantikan dengan memberikan, selama lebih dari 4 jam, cairan per oral sebanyak 1.5 kali dari volume tinja yang hilang selama 4 jam sebelumnya.
Penderita yang menderita renjatan sebaiknya diberi rehidrasi intra vena cepat dengan larutan multielektrolit seimbang yang mengandung kira-kira 130 mEq/L Na+, 25 - 48 mEq/L bikarbonat, asetat atau ion laktat, dan 10-15 mEq/L K+. Larutan yang sangat bermanfaat antara lain Ringer’s laktat atau Larutan Pengobatan Diare dari WHO (4 gr NaCl, 1 g KCl, 6.5 gr natrium asetat dan 8 gr glukosa/L) dan “Larutan Dacca” (5 g NaCL, 4 gr NaHCO3, dan 1 g KCL/L), yang dapat dibuat ditempat pada keadaan darurat. Penggantian cairan awal sebaiknya diberikan 30ml/kg BB pada jam pertama untuk bayi dan pada 30 menit pertama untuk penderita berusia diatas 1 tahun, dan sesudahnya pasien harus di nilai kembali. Sesudah dilakukan koreksi terhadap sistem cairan tubuh yang kolaps, kebanyakan penderita cukup diberikan rehidrasi oral untuk melengkapi penggantian 10 % defisit awal cairan dan untuk mengganti cairan hilang yang sedang berlangsung.
Antibiotika yang tepat dapat memperpendek lamanya diare, mengurangi volume larutan rehidrasi yang dibutuhkan dan memperpendek ekskresi vibrio melalui tinja. Orang dewasa diberi tetrasiklin 500 mg 4 kali sehari dan anak anak 12.5 mg/kg 4 kali sehari selama 3 hari. Pada saat Strain V. cholerae yang resisten terhadap tetrasiklin sering ditemukan, maka pengobatan dilakukan dengan pemberian antimikroba alternatif yaitu TMP-SMX (320 mg trimethoprim dan 1600 mg sulfamethoxazol dua kali sehari untuk orang dewasa dan 8 mg/kg trimethoprim dan 40 mg/kg sulfamethoxazol sehari dibagi dalam 2 dosis untuk anak-anak, selama 3 hari); furazolidon (100 mg 4 kali sehari untuk orang dewasa dan 1.25 mg/kg 4 kali sehari untuk anak-anak, selama 3 hari); atau eritromisin (250 mg 4 kali sehari untuk orang dewasa dan 10 mg/kg 3 kali sehari untuk anak-anak selama 3 hari). Siprofloksasin, 250 mg sekali sehari selama 3 hari, juga merupakan regimen yang baik untuk orang dewasa. V. cholerae strain O139 resisten terhadap TMP-SMX. Oleh karena ditemukan strain O139 atau O1 yang mungkin resisten terhadap salah satu dari antimikroba ini, maka informasi tentang sensitivitas dari strain lokal terhadap obat-obatan ini perlu diketahui, jika fasilitas untuk itu tersedia, informasi ini digunakan sebagai pedoman pemilihan terapi antibiotika yang tepat.
C. Penanggulangan wabah.
1). Berikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat di daerah risiko tinggi untuk segera mencari pengobatan bila sakit.
2). Sediakan fasilitas pengobatan yang efektif
3). Lakukan tindakan darurat untuk menjamin tersediaanya fasilitas air minum yang aman. Lakukan klorinasi pada sistem penyediaan air bagi masyarakat, walaupun diketahui bahwa sumber air ini tidak terkontaminasi. Lakukan klorinasi atau masaklah air yang akan di minum, dan air yang akan dipakai untuk mencuci alat-alat masak dan alat-alat untuk menyimpan makanan kecuali jika tersedia air yang telah di klorinasi dengan baik dan terlindungi dari kontaminasi.
4). Lakukan pengawasan terhadap cara-cara pengolahan makanan dan minuman yang sehat. Setelah diolah dan dimasak dengan benar, lindungi makanan tersebut dari kontaminasi oleh lalat dan penanganan yang tidak saniter; makanan sisa sebaiknya di panaskan sebelum dikonsumsi. Orang yang menderita diare sebaiknya tidak menjamah atau menyediakan makanan dan minuman untuk orang lain. Makanan yang disediakan pada upacara pemakaman korban kolera mungkin tercemar dan selama wabah berlangsung makanan di tempat seperti ini sebaiknya dihindari.
5). Lakukan investigasi dengan sungguh-sungguh dengan desain sedemikian rupa untuk menemukan media dan lingkungan yang memungkinkan terjadinya penularan menurut variable orang, tempat dan waktu serta buatlah rencana penanggulangan yang memadai.
6). Sediakan fasilitas pembuangan sampah dan limbah domestik sesuai dengan syarat kesehatan.
7). Pemberian imunisasi dengan suntikan vaksin kolera Whole cell tidak dianjurkan.
8). Pada saat situasi wabah relatif mulai tenang, vaksin kolera oral dapat diberikan sebagai tambahan terhadap upaya penanggulangan wabah kolera. Namun, vaksin ini sebaiknya tidak digunakan pada saat suasana masih panik atau pada saat terjadi kekurangan persediaan air yang parah yang dapat mempengaruhi penyediaan terapi rehidrasi oral.
D. Implikasi bencana : risiko terjadinya KLB sangat tinggi di daerah di suatu daerah endemis kolera, apabila didaerah tersebut orang berkumpul bersama dalam jumlah besar tanpa penanganan makanan yang baik serta tanpa tersedianya fasilitas sanitasi yang memadai.
E. Tindakan internasional :
1). Pemerintah suatu negara harus segera melaporkan kepada WHO dan negara tetangga melalui media elektronika apabila pertama kali ditemukan penderita kolera yang disebabkan oleh V. cholerae O1 atau O139 dari suatu daerah/wilayah yang sebelumnya bebas dari kolera. Tidak perduli apakah kasus itu adalah kasus import ataukah bukan. Di AS, para klinisi dan ahli mikrobiologi melaporkan setiap kasus yang di curigai sebagai kolera kepada ahli epidemiologis negara bagian; dan departemen kesehatan negara bagian tersebut akan melaporkan kasus ini ke CDC, Atlanta. CDC kemudian akan mengkonfirmasikan kasus ini dan selanjutnya melaporkan ke WHO.
2). Tindakan dan prosedur untuk mencegah penularan yang di terapkan pada kapal laut, pesawat udara dan angkutan darat yang datang dari daerah terjangkit kolera tercantum dalam Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation) 1996, Edisi beranotasi ke tiga (Third Annotated Edition, 1983), di perbaharui dan di cetak ulang pada tahun 1992 oleh WHO di Genewa. IHR saat ini sedang direvisi, diharapkan edisi revisi ini bias selesai pada tahun 2005.
3). Pelancong internasional: Imunisasi dengan suntikan vaksin kolera whole cell tidak direkomendasikan oleh WHO bagi mereka yang mengadakan perjalanan dari suatu negara ke negara di manapun di dunia dan secara resmi tidak ada satu negarapun yang mensyaratkan pemberian imunisasi ini. Imunisasi dengan vaksin oral dianjurkan bagi mereka yang akan mengadakan perjalanan dari negara maju ke negara endemis ataupun kenegara yang sedang mengalami wabah kolera. Di negara-negara ini dimana vaksin oral telah memperoleh ijin beredar, imunisasi dianjurkan untuk diberikan kepada pelancong yang diketahui mempunyai faktor risiko, seperti mereka dengan hipoklorhidria (sebagai akibat dari gastrektomi ataupun pengobatan) atau kepada mereka yang menderita penyakit jantung (misalnya aritmia), orang tua ataupun mereka dengan golongan darah O. Sejak akhir tahun 1999, vaksin ini tidak lagi di ijinkan beredar di AS.
Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation) menyatakan bahwa : “orang yang melakukan perjalanan internasional, dan datang dari daerah terjangkit kolera yang masih dalam masa inkubasi serta orang yang menunjukkan gejala kolera, harus menyerahkan tinjanya untuk dilakukan pemeriksaan”.
BAB III
PENUTUP
A. Penutup
Penyakit saluran pencernaan akut yang disebabkan oleh bakteri dan ditandai gejala dalam bentuknya yang berat dengan onset yang tiba-tiba, diare terus menerus, cair seperti air cucian beras, tanpa sakit perut, disertai muntah dan mual di awal timbulnya penyakit. Pada kasus-kasus yang tidak diobati dengan cepat dan tepat dapat terjadi dehidrasi, asidosis, kolaps, hipoglikemi pada anak serta gagal ginjal. Infeksi tanpa gejala biasanya lebih sering terjadi daripada infeksi dengan gejala, terutama infeksi oleh biotipe El Tor; gejala ringan dengan hanya diare, umum terjadi, terutama dikalangan anak-anak. Pada kasus berat yang tidak diobati (kolera gravis), kematian bisa terjadi dalam beberapa jam, dan CFR-nya bisa mencapai 50 %. Dengan pengobatan tepat, angka ini kurang dari 1 %.
Diagnosa ditegakkan dengan mengisolasi Vibrio cholera dari serogrup O1 atau O139 dari tinja. Jika fasilitas laboratorium tidak tersedia, Cary Blair media transport dapat digunakan untuk membawa atau menyimpan spesimen apus dubur (Rectal Swab).
Untuk diagnosa klinis presumtif cepat dapat dilakukan dengan mikroskop medan gelap atau dengan visualisasi mikroskopik dari gerakan vibrio yang tampak seperti shooting stars atau bintang jatuh, dihambat dengan antisera serotipe spesifik yang bebas bahan pengawet. Untuk tujuan epidemiologis, diagnosa presumtif dibuat berdasarkan adanya kenaikan titer antitoksin dan antibodi spesifik yang bermakna. Di daerah non-endemis, organisme yang diisolasi dari kasus indeks yang dicurigai sebaiknya dikonfirmasikan dengan pemeriksaan biokimiawi dan pemeriksaan serologis yang tepat serta dilakukan uji kemampuan organisme untuk memproduksi toksin kolera atau untuk mengetahui adanya gen toksin. Pada saat terjadi wabah, sekali telah dilakukan konfirmasi laboratorium dan uji sensitivitas antibiotik, maka terhadap semua kasus yang lain tidak perlu lagi dilakukan uji laboratorium
B. Saran
Berdasarkan uraian kesimpulan diatas maka agen infeksius menyerang pada saat tubuh kita mengalami kelemahan atau pada saat tubuh mempunyai imun yang menurun. Untuk itu penulisa menyarankan kepada semua pembaca untuk memulai pola hidup sehat dengan banyak berolah raga kemudian makan-makanan yang bergizi. Makan-makanan yang bergizi tidaklah harus dengan yang mewah-mewah namun harus dengan cara penyajian yang baik dan benar agar kadar gizi yang dibutuhkan tubuh tidak hilang.
Daftar Pustaka
Baratawidjaja, Karnen Garna. 1991. IMUNOLOGI DASAR. FKUI: Jakarta.
Pusat Pendidikan. 1989. IMUNOLOGI. Balai Kesehatan RI: Jakarta.
Cara Penularan Penyakit Infeksi Oleh Mikroorganisme
Kata Pengantar
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Cara Penularan Penyakit Infeksi Oleh Mikroorganisme”.
Penyusunan makalah ini dalam rangka penugasan Mikrobiologi & Parasitologi. Dalam penyusunan makalah ini penulis masih banyak kekurangan dan kekhilafan baik materi, tata bahasa dan isi ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis, tapi dengan bantuan dan bimbingan dari Bapak Bambang Riyadi makalah ini dapat diselesaikan. Penulis juga menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan dengan ini penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Penulis juga berharap semoga amal baik yang telah diberikan mendapatkan imbalan yang sesuai dari Allah SWT, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Pontianak, Juni 2007
Penulis
Daftar Pustaka
Kata Pengantar………………………………………………………… ..1
Daftar Pustaka………………………………………………………….. .2
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang…………………………………………………... 4
B. Tujuan Penulisan………………………………………………… 5
C. Ruang Lingkup…………………………………………………... 6
D. Metode Penulisan………………………………………………... 6
E. Sistematika Penulisan……………………………………………. 7
Bab II Landasan Teoritis............................................................................8
Bab IV Penutup
A. Kesimpulan……………………………………………………... 23
B. Saran……………………………………………………………. 24
Daftar Pustaka…………………………………………………………..25
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Kesehatan yang baik tergantung sebagian pada lingkungan yang aman. Praktisi atau infeksi yang memantau atau mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja perawatan kesehatan dari penyakit. Klien dalam lingkungan perawatan kesehatan berisiko terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius, meningkatnya panjanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme infeksius, meningkatkan pejanan terhadap jumlah dan prosedur invasif. Dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatori, klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda yang beberapa dari mikroorganisme tersebut dapat saja resisten terhadap banyak antibiotik. Dengan cara mempraktikkan teknik pencegahan dan pengendalian infeksi, perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien.
Dalam semua lingkungan, klien dan keluarga harus mampu mengenali sumber infeksi dan mampu melaksanakan atau melakukan tindakan protektif. Penyuluhan klien harus termasuk informasi mengenai infeksi, cara-cara penularan dan pencegahan.
Petugas perawatan kesehatan dapat melindungi diri mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpajan pada penyakit menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi dari perlindungan barier yang tepat. Penyakit hepatitis B, AIDS dan tubercolosis telah menyebabkan perhatian yang lebih besar pada teknik pengontrolan infeksi.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis merasa tertarik untuk menulis makalah terkait dengan permasalah infeksi dalam makalah ini.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
a. Meningkatkan pengetahuan tentang pengertian Infeksi.
b. Mendapatkan gambaran yang jelas tentang Proses Infeksi.
c. Memberi saran dan alternatif pemecahan masalah terkait permaslahan Infeksi.
C. Ruang Lingkup
Karena luas nya permasalah tentang infeksi dan banyaknya literatur yang berkebaan dengan proses infeksi maka penulis hanya membatasi penulisan tentang proses infeksi nosokomial.
D. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu memberi gambaran tentang proses infeksi nosokomial yang dilakukan dengan cara :
a. Studi perpustakaan yaitu dengan pendekatan teoritis untuk mendapatkan dasar-dasar ilmiah yang berhubungan dengan permasalahan dalam makalah ini.
b. Browsing melalui layananan internet untuk menambah literatur yang ada.
E. Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun secara sistematis yang terdiri dari beberapa bab yaitu :
Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari Latar belakang, Tujuan penulisan, Ruang lingkup, Metode Penulisan, Sistematika Penulisan.
Bab II : Landasan teoritis yang berisikan tentang pembahasan Infeksi Nosokomial.
Daftar Pustaka
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Sehat
Kesehatan yang baik tergantung sebagian pada lingkungan yang aman. Praktisi atau infeksi yang memantau atau mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja perawatan kesehatan dari penyakit. Klien dalam lingkungan perawatan kesehatan berisiko terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius, meningkatnya panjanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme infeksius, meningkatkan pejanan terhadap jumlah dan prosedur invasif. Dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatori, klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda yang beberapa dari mikroorganisme tersebut dapat saja resisten terhadap banyak antibiotik. Dengan cara mempraktikkan teknik pencegahan dan pengendalian infeksi, perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien.
Dalam semua lingkungan, klien dan keluarga harus mampu mengenali sumber infeksi dan mampu melaksanakan atau melakukan tindakan protektif. Penyuluhan klien harus termasuk informasi mengenai infeksi, cara-cara penularan dan pencegahan.
Petugas perawatan kesehatan dapat melindungi diri mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpajan pada penyakit menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi dari perlindungan barier yang tepat. Penyakit hepatitis B, AIDS dan tubercolosis telah menyebabkan perhatian yang lebih besar pada teknik pengontrolan infeksi.
Lingkungan hidup kita mengandung berbagai bahan organik dan anorganik, baik yang hidup seperti bakteri, virus, jamur, parasit, maupun yang mati seperti berbagai debu dalam polusi yang setiap saat dapat masuk kedalam tubuh kita sehingga menimbulkan kerusakan jaringan atau penyakit, selain itu sel badan yang menjadi tua dan sel yang bermutasi menjadi ganas, merupakan bahan yang tidak diingini pula.
Dalam pandangan sekarang, respons imun diperlukan untuk tiga hal, yaitu :
1. Pertahanan
2. Hemeostatis
3. Pengawasan
Yang pertama ditunjukan terhadap infeksi mikroorganissme, yang kedua terhadap eliminasi komponen-komponen tubuh yang sudah tua dan yang ketiga terhadap pengahancuran sel-sel yang bermutasi. Dengan perkataan lain, respons imun dapat diartikan sebagai suatu sistem agar tubuh dapat mempertahankan keseimbangan antara lingkungan diluar dan didalam badan.
Fungsi sistem imun dapat terganggu baik primer maupun sekunder, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan yang dapat bermanifestasi klinis menjadi infeksi silang atau berulang, predisposisi terhadap keganasan dan autoimunitas. Gangguan sistem imun dapat pula berupa pembentukan imunoglobulin E yang berlebihan seperti yang terjadi pada alergi.
Pengetahuan imunologi yang maju telah dapat dikembangkan untuk menerangkan patogenesis serta menegakkan diagnosis berbagai penyakit yang sebelumnya masih kabur. Kemajuan dicapai dalam produksi berbagai vaksin dan obat-obatan yang digunakan untuk memperbaiki fungsi sistem imun dalam memerangi infeksi dan keganasan atau sebaliknya digunakan untuk menekan fungsi sistem imun yang berlebihan pada hipersensitifitas, autoimunitas dan transplantasi.
Selama 25 tahun terakhir kita telah menyaksikan perkembangan yang pesat dalam bidang imunologis, penemuan molekul-molekul yang berperan dalam sistem imun seperti komponen-komponen, interleukin, reseptor sel, gen respons imun yang berhubungan dengan major histocompatibility complex dan sebagainya. Perkembangan tersebut banyak ditunjang oleh kemajuan baik dalam teknik seperti mikroskopi, elektroforesis, radiolabeling, imunoflourensi dan rekombinan DNA, maupun yang mengenai konsep. Hal ini sering membingungkan, sehingga sulit untuk membedakan pepohonan dari hutan.
Kesehatan yang baik tergantung sebagian pada lingkungan yang aman. Praktisi atau infeksi yang memantau atau mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja perawatan kesehatan dari penyakit. Klien dalam lingkungan perawatan kesehatan berisiko terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius, meningkatnya panjanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme infeksius, meningkatkan pejanan terhadap jumlah dan prosedur invasif. Dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatori, klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda yang beberapa dari mikroorganisme tersebut dapat saja resisten terhadap banyak antibiotik. Dengan cara mempraktikkan teknik pencegahan dan pengendalian infeksi, perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien.
Dalam semua lingkungan, klien dan keluarga harus mampu mengenali sumber infeksi dan mampu melaksanakan atau melakukan tindakan protektif. Penyuluhan klien harus termasuk informasi mengenai infeksi, cara-cara penularan dan pencegahan.
Petugas perawatan kesehatan dapat melindungi diri mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpajan pada penyakit menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi dari perlindungan barier yang tepat. Penyakit hepatitis B, AIDS dan tubercolosis telah menyebabkan perhatian yang lebih besar pada teknik pengontrolan infeksi.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis merasa tertarik untuk menulis makalah terkait dengan permasalah infeksi dalam makalah ini.
B. Antigen Sebagai Perlindungan Tubuh
Antigen adalah suatu substansi yang bila memasuki tubuh maupun merangsang sistem imunologik untuk menghasilkan respons imunitas terhadap substansi tersebut. Respon imunitas yang dihasilkan dapat berupa pembentukan antibodi ataupun limfosit sensitfif yang bersifat spesifik.
Antigen dapat berupa partikel, mikroorganisme, sel atau senyawa-senyawa terlarut (misalnya toksin). Untuk dapat bersifat sebagai antigen, bahan-bahan dikenali oleh sistem imunologik melalui struktur makromolekul yang terdapat padapermukaannya, berupa konfigurasi asing bagi tubuh. Konfigurasi asing ini dinamakan epitop atau determinann antigenik. Epitop tersebut akan berikatan dengan reseptor yang sesuai yang terdapat pada permukaan limfosit.
Antigen atau imonosupresi adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan respon imun spesifik pada manusia dan hewan. Perbedaan antara ke-2 istilah tersebut adalah fungsional. Imunogen adalah setiap bahan yang dapat mengikat komponen yang dihasilkan dari respons imun dengan spesifik misalnya antibodi dan limfosit T. Perbedaan tersebut hendaknya dipahami oleh karena banyak bahan yang tidak menimbulkan respons imun, tetapi tidak dapat mengikat komponen sistem imun yang ditimbulkan secara spesifik terhadapnya. Jadi semua imunogen adalah antigen tetapi tidak semua antigen adalah imunogen meskipun hal ini jarang terjadi.
Selain itu antigen harus mempunyai berat molekul yang tinggi. Senyawa yang berat molekulnya kurang dari 6000 jarang sekali dapat bersifat antigen. Senyawa yang bertindak sebagai antigen, sekurang-kurangnya harus mempunyai banyak epitop sehingga mempunyai daya yang tinggi. Epitop tersebut pada virus dapat berupa protein dan asam nukleat pada bakteria berupa epitop dan polisakarida.
Meskipun sel semua spesies mempunyai antigen khas yang spesifik bagi spesies tertentu, tetapi beberapa antigen lebih luas penyebarannya. Kelompok determinan antigenik yang segolongan antigen yang tidak sekerabat dengan penyebaran yang amat luas. Sel-sel semacam itu bila digunakan sebagai antigen, disebut antigen heterofil.a ntigen tersebut dapat merangsang pembentukan antibodi yang mampu bereaksi dengan jaringan berbagai organisme lain.
Misalnya antigen Forssman yang dijumpai pada sejumlah besar spesies hewan dan bakteri. Antibodi terhadap antigen Forssman dalam jumlah besar di dalam darah orang-orang yang menderita penyakit tertentu, seperti Mononukleosis.
Bagian antigen yang dapat menginduksi pembentukan antibodi dan dapat diikat dengan spesifik oleh bagian dari antibodi atau reseptor pada limfosit disebut determinan antigen atau epitop.
Hapten adalah determinan antigen dengan berat molekul yang rendah dan baru menjadi imunogen bila diikat oleh molekul besar (carrier) dan dapat mengikat antibodi. Contoh hapten ialah berbagai golongan antibiotik dan obat lainnya dengan berat molekul yang rendah. Hapten biasanya dikenal dengan oleh sel B sedangakn carrier oleh sel T. Carrier sering digabungkan dengan hapten dalam usaha imunisasi.
Antibodi adalah bahan larut digolongkan dalam protein yang disebut globulin dan sekarang dikenal sebagai imunoglobulin. Dua cirinya yang penting ialah spesifikasi dan aktifitas biologik.
Imunoglubulin (Ig) dibentuk oleh sel plasma yang berasal dari proliferasi sel B akibat adanya kontak dengan antigen. Antibodi yang terbentuk secara spesifik ini akan mengikat antigen baru lainnya yangs sejenis. Bila serum protein tersebut dipisahkan dengan cara elektroforesis, maka imunoglobulin ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin gamma, meskipun ada beberapa imunoglobulin yang juga ditemukan dalam fraksi globulin alfa dan beta.
Enzim papain memecah molekul antibodi (dengan berat molekul 150.000 dalton) dalam fragmen masing-masing dari 45.000 dalton. Dua fragmen tetap memiliki sifat antibodi yang dapat mengikat antigen secara spesifik serta bereaksi dengan determinan antigen dan hapten dan disebut Fab (fragmen antigen binding) dan dianggap univalen.
Semua molekul imunoglobulin mempunyai empat rantai polipeptida dasar yang terdiri atas 2 rantai berat.
Respons imun terjadi terhadap semua golongan bahan kimia seperti hidrat arang, protein dan asam nukleat. Antigen proten alamiah terbanyak adalah protein besar dengan berat molekul lebih dari 40.000 dan kompleks polisakarida mikrobial.
Glikolipid dan lipoprotein dapat juga bersifat imunogenik, tetapi tidak demikian halnya lipid yang dimurnikan. Asam nukleat dapat bertindak sebagai imunogenik dalam penyakit auto imun tertentu, tetapi tidak dalam keadaan normal.
C. Proses Infeksi
Perkembangan infeksi mempengaruhi tingkat asuhan keperawatan yang diberikan. Perawat bertanggung jawab dalam pemberian antibiotik dan memantau respons terhadap reaksi pengobatan. Terapi suportif termasuk pemberian nutrisi secara adekuat dan istirahat untuk memperkuat pertahanan terhadap respons infeksius.
Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampau menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan, infeksi disebut asimptomatik. Penyakit timbul jika patogen berbiak dan menyebabkan perubahan pada jaringan normal. Jika penyakit infeksi dapat ditularkan langsung dari satu orang ke orang lain, penyakit ini merupakan penyakit menular atau contagius.
D. Proses Infeksi
Perkembangan infeksi mempengaruhi tingkat asuhan keperawatan yang diberikan. Perawat bertanggung jawab dalam pemberian antibiotik dan memantau respons terhadap reaksi pengobatan. Terapi suportif termasuk pemberian nutrisi secara adekuat dan istirahat untuk memperkuat pertahanan terhadap respons infeksius.
E. Penularan Penyakit
1. Melalaui Inhalasi
Saluran napas merupakan tempat masuk dan penggandaan awal bagi banyak mikroba. Tiga golongan mikroba utama adalah bakteri, virus dan jamur. Banyak kuman yang digolongkan berdasarkan morfologi dan ciri pertumbuhannya menimbulkan penyakit yang sangat beragam. Misalnya penyakit karena bakteri seperti pertusis (batuk rejan) tubercolosis, difteri.
Salah satu tanda umum infeksi bakteri adalah leukositosis yang umumnya jenis polimorfonuklear (ditempat infeksi atau dalam darah). Pada tubercolosis, respons jaringannya sangat berbeda, mirip reaksi terhadap jamur, sedangkan pada difteri banyaknya toksin bakterial memberi gambaran keracunan sistemik, bukan tanda radang setempat.
Virus bahkan menunjukan gambaran klinis yang lebih beragam lagi, yang berhubungan dengan aneka sindrom, dari ringan sampai berat (diluar sistem pernapasan). Sindrom klinis tertentu seperti bronkitis, pneumonia atau meningitis aseptik dapat ditimbulkan oleh sembarangan virus yang sama sekali tidak ada kaitannya satu dengan yang lainnya. Penyakit karena virus biasanya akut dan sembuh sendiri. Leukositosisnya dari jenis monoklear, bukan polimorfonuklear. Jamur yang menyebabkan penyakit sistemik akan menghasilkan reaksi jaringan setempat yang kurang lebih sama, dengan tujuan mengisolasi dan memfagositosis yang dilakukan oleh sel-sel monuklear.
Selama berada di saluran, agens-agens infeksi di atas dapat ditularkan melalui sputum, liur, dan cairan hidung, terutama kalau bersin atau batuk. Butiran cairan yang telah mengering sekalipun masih dapat menularkan organisme tersebut.
Adapun penyakit yang menular melalui saluran napas adalah :
a. Influenza
Influenza adalah penyakit infeksi akut saluran napas yang ditandai oleh demam, menggigil, malaise (lesu, lelah, lemah), sakit kepala dan nyeri otot. Umumnya disertai batuk pilek, laringitis dan serak. Penyakit ini sembuh sendiri, demamnya hanya berlangsung selama tiga hari dan sembuh total dalam satu minggu.
b. Parotitis Epidemika (Mumps)
Bagian yang terinfeksi virus adalah kelenjar parotis. Ditandai demam, pembengkakan dan nyeri tekan dari satu atau kedua kelenjar parotis. Diikuti pembengkakan kelenjar sublingual atau submandubular. Pembengkakakan ini mencapai puncaknya dalam 2 hari dan menetap selama 7 sampai 10 hari, meskipun sudah tidak demam lagi. Virusnya dapat menjalar ke ovarium atau testis. Bila sampai demikian dapat ditimbulkan orchitis (radang testis) bilateral, maka yang bersangkutan dapat menjadi steril.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penularan infeksi virus kelenjar parotis meliputi penularan infeksi yang termasuk didalammya adalah reservoar, sumber dan rute penularan, masa inkubasi, masa dapat menular, dan imunitas individu, dan pengobatan serta pencegahan parotitis.
Tidak ada yang spesifik, mencegah kemungkinan timbulnya orchitis dapat diberikan globulin hiperimun segera setelah awitan parotis
c. Rubeola (measles, campak, morbili)
Campak adalah penyakit pada anak (terutama ditandai dengan demam sedang atau ringan, batuk, pilek, dan iritasi pada konjungtiva (seperti flu). Pasien tampak lebih sakit dari flu biasa. Dalam 3 sampai 4 hari timbul ruam khas (eksternal) mulai dari muka. Dalam 24-48 jam ruam ini menyebar ke leher, dada, dan batuknya menghebat, disertai sesak napas. Pada mukosa mulut (pipi dan langit-langit) tampak bintik-bintik (enentema) yang disebut bintik koplik yang sering kali sudah dapat dilihat sebelum timbul eksantema pada kulit dan merupakan dasar pertama untuk diagnosis klinik. Dalam 7 sampai 10 hari ruam (eksterma) ini mulai meggelap dan warnanya menjadi kecoklatan. Demam dan batuknya dengan cepat mereda.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penularan campak meliputi penularan infeksi yang termasuk di dalamnya adalah reservoar, sumber dan rute penularan, masa inkubasi, masa dapat menular, imunitas individu dan pengobatan serta pecegahan campak.
Tidak ada yang spesifik. Antibiotika diberi dengan maksud mencegah infeksi bakteri sekunder atau mengobati komplikasi seperti bronkitis, bronkopneumonia (BP) dan ensefalomielitis. Pencegahan dengan imunisasi MMR dosis tunggal saat berumur 1 tahun.
d. Rubella (Campak Jerman)
Gejalanya lebih ringan dari campak biasa. Ruam yang timbul lebih ringan dan mereda 2-3 hari. Virus ini dapat melalui plasenta, karena itu sangat berbahaya selama trisemester 1 kehamilan, yaitu saat organ-organ tubuh dibentuk.
Individu tersebut dapat mengalami abortus atau bayi lahir mati, dan bila bayi lahir cukup bulan, sering dengan satu atau lebih anomali, seperti kelamin, jantung, pembengkakan hati dan limpa disertai gangguan fungsi, tuli, katarak, retardasi mental, atau cedera otak lainnya.
Hal-hal yang perlu dalam penularan rubella meliputi penularan infeksi yang termasuk didalamnya adalah reservoar, sumber dan rute penularan, masa inkubasi, masa dapat menular dan imunitas individu dan pengoabatan serta pencegahan rubella.
Tidak ada yang spesifik. Pencegahan dengan imunisasi MMR, dianjurkan untuk anak berusia antara 1-12 tahun.
e. Herpes Zoster dan Varicella
Varicella (cacat cair) adalah terutama penyakit anak yang sangat menular, ditandai dengan demam, malaise dan erupsi vesikuler yang mungkin gatal di kulit. Herpes zoster adalah radang yang sakit dari radiks dan ganglia posterior, ditandai dengan kelompok-kelompok vesikel pada kulit (unilateral). Secara morfolofis, vesikel ini identik dengan vesikel pada vericella, namun gambaran klinisnya berbeda jauh dari varicella.
Virus varicella memasuki tubuh melalui mukosa jalan napas, dan menempati sel-sel dari kulit. Gejala demam dan malaise pertama kali muncul 12 sampai 14 hari setelah terpapar. Lesi-lesi ini mula-mula terdapat di badan.
BAB III
PENUTUP
A. Penutup
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Kesehatan yang baik tergantung sebagian pada lingkungan yang aman. Praktisi atau infeksi yang memantau atau mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja perawatan kesehatan dari penyakit. Klien dalam lingkungan perawatan kesehatan berisiko terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius, meningkatnya panjanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme infeksius, meningkatkan pejanan terhadap jumlah dan prosedur invasif. Dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatori, klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda yang beberapa dari mikroorganisme tersebut dapat saja resisten terhadap banyak antibiotik. Dengan cara mempraktikkan teknik pencegahan dan pengendalian infeksi, perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien.
Dalam semua lingkungan, klien dan keluarga harus mampu mengenali sumber infeksi dan mampu melaksanakan atau melakukan tindakan protektif. Penyuluhan klien harus termasuk informasi mengenai infeksi, cara-cara penularan dan pencegahan.
Petugas perawatan kesehatan dapat melindungi diri mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpajan pada penyakit menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi dari perlindungan barier yang tepat. Penyakit hepatitis B, AIDS dan tubercolosis telah menyebabkan perhatian yang lebih besar pada teknik pengontrolan infeksi.
Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampau menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan, infeksi disebut asimptomatik. Penyakit timbul jika patogen berbiak dan menyebabkan perubahan pada jaringan normal. Jika penyakit infeksi dapat ditularkan langsung dari satu orang ke orang lain, penyakit ini merupakan penyakit menular atau contagius.
B. Saran
Berdasarkan uraian kesimpulan diatas maka agen infeksius menyerang pada saat tubuh kita mengalami kelemahan atau pada saat tubuh mempunyai imun yang menurun. Untuk itu penulisa menyarankan kepada semua pembaca untuk memulai pola hidup sehat dengan banyak berolah raga kemudian makan-makanan yang bergizi. Makan-makanan yang bergizi tidaklah harus dengan yang mewah-mewah namun harus dengan cara penyajian yang baik dan benar agar kadar gizi yang dibutuhkan tubuh tidak hilang.
Daftar Pustaka
Baratawidjaja, Karnen Garna. 1991. IMUNOLOGI DASAR. FKUI: Jakarta.
Pusat Pendidikan. 1989. IMUNOLOGI. Balai Kesehatan RI: Jakarta.
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Cara Penularan Penyakit Infeksi Oleh Mikroorganisme”.
Penyusunan makalah ini dalam rangka penugasan Mikrobiologi & Parasitologi. Dalam penyusunan makalah ini penulis masih banyak kekurangan dan kekhilafan baik materi, tata bahasa dan isi ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis, tapi dengan bantuan dan bimbingan dari Bapak Bambang Riyadi makalah ini dapat diselesaikan. Penulis juga menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan dengan ini penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Penulis juga berharap semoga amal baik yang telah diberikan mendapatkan imbalan yang sesuai dari Allah SWT, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Pontianak, Juni 2007
Penulis
Daftar Pustaka
Kata Pengantar………………………………………………………… ..1
Daftar Pustaka………………………………………………………….. .2
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang…………………………………………………... 4
B. Tujuan Penulisan………………………………………………… 5
C. Ruang Lingkup…………………………………………………... 6
D. Metode Penulisan………………………………………………... 6
E. Sistematika Penulisan……………………………………………. 7
Bab II Landasan Teoritis............................................................................8
Bab IV Penutup
A. Kesimpulan……………………………………………………... 23
B. Saran……………………………………………………………. 24
Daftar Pustaka…………………………………………………………..25
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Kesehatan yang baik tergantung sebagian pada lingkungan yang aman. Praktisi atau infeksi yang memantau atau mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja perawatan kesehatan dari penyakit. Klien dalam lingkungan perawatan kesehatan berisiko terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius, meningkatnya panjanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme infeksius, meningkatkan pejanan terhadap jumlah dan prosedur invasif. Dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatori, klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda yang beberapa dari mikroorganisme tersebut dapat saja resisten terhadap banyak antibiotik. Dengan cara mempraktikkan teknik pencegahan dan pengendalian infeksi, perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien.
Dalam semua lingkungan, klien dan keluarga harus mampu mengenali sumber infeksi dan mampu melaksanakan atau melakukan tindakan protektif. Penyuluhan klien harus termasuk informasi mengenai infeksi, cara-cara penularan dan pencegahan.
Petugas perawatan kesehatan dapat melindungi diri mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpajan pada penyakit menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi dari perlindungan barier yang tepat. Penyakit hepatitis B, AIDS dan tubercolosis telah menyebabkan perhatian yang lebih besar pada teknik pengontrolan infeksi.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis merasa tertarik untuk menulis makalah terkait dengan permasalah infeksi dalam makalah ini.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
a. Meningkatkan pengetahuan tentang pengertian Infeksi.
b. Mendapatkan gambaran yang jelas tentang Proses Infeksi.
c. Memberi saran dan alternatif pemecahan masalah terkait permaslahan Infeksi.
C. Ruang Lingkup
Karena luas nya permasalah tentang infeksi dan banyaknya literatur yang berkebaan dengan proses infeksi maka penulis hanya membatasi penulisan tentang proses infeksi nosokomial.
D. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu memberi gambaran tentang proses infeksi nosokomial yang dilakukan dengan cara :
a. Studi perpustakaan yaitu dengan pendekatan teoritis untuk mendapatkan dasar-dasar ilmiah yang berhubungan dengan permasalahan dalam makalah ini.
b. Browsing melalui layananan internet untuk menambah literatur yang ada.
E. Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun secara sistematis yang terdiri dari beberapa bab yaitu :
Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari Latar belakang, Tujuan penulisan, Ruang lingkup, Metode Penulisan, Sistematika Penulisan.
Bab II : Landasan teoritis yang berisikan tentang pembahasan Infeksi Nosokomial.
Daftar Pustaka
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Sehat
Kesehatan yang baik tergantung sebagian pada lingkungan yang aman. Praktisi atau infeksi yang memantau atau mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja perawatan kesehatan dari penyakit. Klien dalam lingkungan perawatan kesehatan berisiko terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius, meningkatnya panjanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme infeksius, meningkatkan pejanan terhadap jumlah dan prosedur invasif. Dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatori, klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda yang beberapa dari mikroorganisme tersebut dapat saja resisten terhadap banyak antibiotik. Dengan cara mempraktikkan teknik pencegahan dan pengendalian infeksi, perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien.
Dalam semua lingkungan, klien dan keluarga harus mampu mengenali sumber infeksi dan mampu melaksanakan atau melakukan tindakan protektif. Penyuluhan klien harus termasuk informasi mengenai infeksi, cara-cara penularan dan pencegahan.
Petugas perawatan kesehatan dapat melindungi diri mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpajan pada penyakit menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi dari perlindungan barier yang tepat. Penyakit hepatitis B, AIDS dan tubercolosis telah menyebabkan perhatian yang lebih besar pada teknik pengontrolan infeksi.
Lingkungan hidup kita mengandung berbagai bahan organik dan anorganik, baik yang hidup seperti bakteri, virus, jamur, parasit, maupun yang mati seperti berbagai debu dalam polusi yang setiap saat dapat masuk kedalam tubuh kita sehingga menimbulkan kerusakan jaringan atau penyakit, selain itu sel badan yang menjadi tua dan sel yang bermutasi menjadi ganas, merupakan bahan yang tidak diingini pula.
Dalam pandangan sekarang, respons imun diperlukan untuk tiga hal, yaitu :
1. Pertahanan
2. Hemeostatis
3. Pengawasan
Yang pertama ditunjukan terhadap infeksi mikroorganissme, yang kedua terhadap eliminasi komponen-komponen tubuh yang sudah tua dan yang ketiga terhadap pengahancuran sel-sel yang bermutasi. Dengan perkataan lain, respons imun dapat diartikan sebagai suatu sistem agar tubuh dapat mempertahankan keseimbangan antara lingkungan diluar dan didalam badan.
Fungsi sistem imun dapat terganggu baik primer maupun sekunder, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan yang dapat bermanifestasi klinis menjadi infeksi silang atau berulang, predisposisi terhadap keganasan dan autoimunitas. Gangguan sistem imun dapat pula berupa pembentukan imunoglobulin E yang berlebihan seperti yang terjadi pada alergi.
Pengetahuan imunologi yang maju telah dapat dikembangkan untuk menerangkan patogenesis serta menegakkan diagnosis berbagai penyakit yang sebelumnya masih kabur. Kemajuan dicapai dalam produksi berbagai vaksin dan obat-obatan yang digunakan untuk memperbaiki fungsi sistem imun dalam memerangi infeksi dan keganasan atau sebaliknya digunakan untuk menekan fungsi sistem imun yang berlebihan pada hipersensitifitas, autoimunitas dan transplantasi.
Selama 25 tahun terakhir kita telah menyaksikan perkembangan yang pesat dalam bidang imunologis, penemuan molekul-molekul yang berperan dalam sistem imun seperti komponen-komponen, interleukin, reseptor sel, gen respons imun yang berhubungan dengan major histocompatibility complex dan sebagainya. Perkembangan tersebut banyak ditunjang oleh kemajuan baik dalam teknik seperti mikroskopi, elektroforesis, radiolabeling, imunoflourensi dan rekombinan DNA, maupun yang mengenai konsep. Hal ini sering membingungkan, sehingga sulit untuk membedakan pepohonan dari hutan.
Kesehatan yang baik tergantung sebagian pada lingkungan yang aman. Praktisi atau infeksi yang memantau atau mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja perawatan kesehatan dari penyakit. Klien dalam lingkungan perawatan kesehatan berisiko terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius, meningkatnya panjanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme infeksius, meningkatkan pejanan terhadap jumlah dan prosedur invasif. Dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatori, klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda yang beberapa dari mikroorganisme tersebut dapat saja resisten terhadap banyak antibiotik. Dengan cara mempraktikkan teknik pencegahan dan pengendalian infeksi, perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien.
Dalam semua lingkungan, klien dan keluarga harus mampu mengenali sumber infeksi dan mampu melaksanakan atau melakukan tindakan protektif. Penyuluhan klien harus termasuk informasi mengenai infeksi, cara-cara penularan dan pencegahan.
Petugas perawatan kesehatan dapat melindungi diri mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpajan pada penyakit menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi dari perlindungan barier yang tepat. Penyakit hepatitis B, AIDS dan tubercolosis telah menyebabkan perhatian yang lebih besar pada teknik pengontrolan infeksi.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis merasa tertarik untuk menulis makalah terkait dengan permasalah infeksi dalam makalah ini.
B. Antigen Sebagai Perlindungan Tubuh
Antigen adalah suatu substansi yang bila memasuki tubuh maupun merangsang sistem imunologik untuk menghasilkan respons imunitas terhadap substansi tersebut. Respon imunitas yang dihasilkan dapat berupa pembentukan antibodi ataupun limfosit sensitfif yang bersifat spesifik.
Antigen dapat berupa partikel, mikroorganisme, sel atau senyawa-senyawa terlarut (misalnya toksin). Untuk dapat bersifat sebagai antigen, bahan-bahan dikenali oleh sistem imunologik melalui struktur makromolekul yang terdapat padapermukaannya, berupa konfigurasi asing bagi tubuh. Konfigurasi asing ini dinamakan epitop atau determinann antigenik. Epitop tersebut akan berikatan dengan reseptor yang sesuai yang terdapat pada permukaan limfosit.
Antigen atau imonosupresi adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan respon imun spesifik pada manusia dan hewan. Perbedaan antara ke-2 istilah tersebut adalah fungsional. Imunogen adalah setiap bahan yang dapat mengikat komponen yang dihasilkan dari respons imun dengan spesifik misalnya antibodi dan limfosit T. Perbedaan tersebut hendaknya dipahami oleh karena banyak bahan yang tidak menimbulkan respons imun, tetapi tidak dapat mengikat komponen sistem imun yang ditimbulkan secara spesifik terhadapnya. Jadi semua imunogen adalah antigen tetapi tidak semua antigen adalah imunogen meskipun hal ini jarang terjadi.
Selain itu antigen harus mempunyai berat molekul yang tinggi. Senyawa yang berat molekulnya kurang dari 6000 jarang sekali dapat bersifat antigen. Senyawa yang bertindak sebagai antigen, sekurang-kurangnya harus mempunyai banyak epitop sehingga mempunyai daya yang tinggi. Epitop tersebut pada virus dapat berupa protein dan asam nukleat pada bakteria berupa epitop dan polisakarida.
Meskipun sel semua spesies mempunyai antigen khas yang spesifik bagi spesies tertentu, tetapi beberapa antigen lebih luas penyebarannya. Kelompok determinan antigenik yang segolongan antigen yang tidak sekerabat dengan penyebaran yang amat luas. Sel-sel semacam itu bila digunakan sebagai antigen, disebut antigen heterofil.a ntigen tersebut dapat merangsang pembentukan antibodi yang mampu bereaksi dengan jaringan berbagai organisme lain.
Misalnya antigen Forssman yang dijumpai pada sejumlah besar spesies hewan dan bakteri. Antibodi terhadap antigen Forssman dalam jumlah besar di dalam darah orang-orang yang menderita penyakit tertentu, seperti Mononukleosis.
Bagian antigen yang dapat menginduksi pembentukan antibodi dan dapat diikat dengan spesifik oleh bagian dari antibodi atau reseptor pada limfosit disebut determinan antigen atau epitop.
Hapten adalah determinan antigen dengan berat molekul yang rendah dan baru menjadi imunogen bila diikat oleh molekul besar (carrier) dan dapat mengikat antibodi. Contoh hapten ialah berbagai golongan antibiotik dan obat lainnya dengan berat molekul yang rendah. Hapten biasanya dikenal dengan oleh sel B sedangakn carrier oleh sel T. Carrier sering digabungkan dengan hapten dalam usaha imunisasi.
Antibodi adalah bahan larut digolongkan dalam protein yang disebut globulin dan sekarang dikenal sebagai imunoglobulin. Dua cirinya yang penting ialah spesifikasi dan aktifitas biologik.
Imunoglubulin (Ig) dibentuk oleh sel plasma yang berasal dari proliferasi sel B akibat adanya kontak dengan antigen. Antibodi yang terbentuk secara spesifik ini akan mengikat antigen baru lainnya yangs sejenis. Bila serum protein tersebut dipisahkan dengan cara elektroforesis, maka imunoglobulin ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin gamma, meskipun ada beberapa imunoglobulin yang juga ditemukan dalam fraksi globulin alfa dan beta.
Enzim papain memecah molekul antibodi (dengan berat molekul 150.000 dalton) dalam fragmen masing-masing dari 45.000 dalton. Dua fragmen tetap memiliki sifat antibodi yang dapat mengikat antigen secara spesifik serta bereaksi dengan determinan antigen dan hapten dan disebut Fab (fragmen antigen binding) dan dianggap univalen.
Semua molekul imunoglobulin mempunyai empat rantai polipeptida dasar yang terdiri atas 2 rantai berat.
Respons imun terjadi terhadap semua golongan bahan kimia seperti hidrat arang, protein dan asam nukleat. Antigen proten alamiah terbanyak adalah protein besar dengan berat molekul lebih dari 40.000 dan kompleks polisakarida mikrobial.
Glikolipid dan lipoprotein dapat juga bersifat imunogenik, tetapi tidak demikian halnya lipid yang dimurnikan. Asam nukleat dapat bertindak sebagai imunogenik dalam penyakit auto imun tertentu, tetapi tidak dalam keadaan normal.
C. Proses Infeksi
Perkembangan infeksi mempengaruhi tingkat asuhan keperawatan yang diberikan. Perawat bertanggung jawab dalam pemberian antibiotik dan memantau respons terhadap reaksi pengobatan. Terapi suportif termasuk pemberian nutrisi secara adekuat dan istirahat untuk memperkuat pertahanan terhadap respons infeksius.
Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampau menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan, infeksi disebut asimptomatik. Penyakit timbul jika patogen berbiak dan menyebabkan perubahan pada jaringan normal. Jika penyakit infeksi dapat ditularkan langsung dari satu orang ke orang lain, penyakit ini merupakan penyakit menular atau contagius.
D. Proses Infeksi
Perkembangan infeksi mempengaruhi tingkat asuhan keperawatan yang diberikan. Perawat bertanggung jawab dalam pemberian antibiotik dan memantau respons terhadap reaksi pengobatan. Terapi suportif termasuk pemberian nutrisi secara adekuat dan istirahat untuk memperkuat pertahanan terhadap respons infeksius.
E. Penularan Penyakit
1. Melalaui Inhalasi
Saluran napas merupakan tempat masuk dan penggandaan awal bagi banyak mikroba. Tiga golongan mikroba utama adalah bakteri, virus dan jamur. Banyak kuman yang digolongkan berdasarkan morfologi dan ciri pertumbuhannya menimbulkan penyakit yang sangat beragam. Misalnya penyakit karena bakteri seperti pertusis (batuk rejan) tubercolosis, difteri.
Salah satu tanda umum infeksi bakteri adalah leukositosis yang umumnya jenis polimorfonuklear (ditempat infeksi atau dalam darah). Pada tubercolosis, respons jaringannya sangat berbeda, mirip reaksi terhadap jamur, sedangkan pada difteri banyaknya toksin bakterial memberi gambaran keracunan sistemik, bukan tanda radang setempat.
Virus bahkan menunjukan gambaran klinis yang lebih beragam lagi, yang berhubungan dengan aneka sindrom, dari ringan sampai berat (diluar sistem pernapasan). Sindrom klinis tertentu seperti bronkitis, pneumonia atau meningitis aseptik dapat ditimbulkan oleh sembarangan virus yang sama sekali tidak ada kaitannya satu dengan yang lainnya. Penyakit karena virus biasanya akut dan sembuh sendiri. Leukositosisnya dari jenis monoklear, bukan polimorfonuklear. Jamur yang menyebabkan penyakit sistemik akan menghasilkan reaksi jaringan setempat yang kurang lebih sama, dengan tujuan mengisolasi dan memfagositosis yang dilakukan oleh sel-sel monuklear.
Selama berada di saluran, agens-agens infeksi di atas dapat ditularkan melalui sputum, liur, dan cairan hidung, terutama kalau bersin atau batuk. Butiran cairan yang telah mengering sekalipun masih dapat menularkan organisme tersebut.
Adapun penyakit yang menular melalui saluran napas adalah :
a. Influenza
Influenza adalah penyakit infeksi akut saluran napas yang ditandai oleh demam, menggigil, malaise (lesu, lelah, lemah), sakit kepala dan nyeri otot. Umumnya disertai batuk pilek, laringitis dan serak. Penyakit ini sembuh sendiri, demamnya hanya berlangsung selama tiga hari dan sembuh total dalam satu minggu.
b. Parotitis Epidemika (Mumps)
Bagian yang terinfeksi virus adalah kelenjar parotis. Ditandai demam, pembengkakan dan nyeri tekan dari satu atau kedua kelenjar parotis. Diikuti pembengkakan kelenjar sublingual atau submandubular. Pembengkakakan ini mencapai puncaknya dalam 2 hari dan menetap selama 7 sampai 10 hari, meskipun sudah tidak demam lagi. Virusnya dapat menjalar ke ovarium atau testis. Bila sampai demikian dapat ditimbulkan orchitis (radang testis) bilateral, maka yang bersangkutan dapat menjadi steril.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penularan infeksi virus kelenjar parotis meliputi penularan infeksi yang termasuk didalammya adalah reservoar, sumber dan rute penularan, masa inkubasi, masa dapat menular, dan imunitas individu, dan pengobatan serta pencegahan parotitis.
Tidak ada yang spesifik, mencegah kemungkinan timbulnya orchitis dapat diberikan globulin hiperimun segera setelah awitan parotis
c. Rubeola (measles, campak, morbili)
Campak adalah penyakit pada anak (terutama ditandai dengan demam sedang atau ringan, batuk, pilek, dan iritasi pada konjungtiva (seperti flu). Pasien tampak lebih sakit dari flu biasa. Dalam 3 sampai 4 hari timbul ruam khas (eksternal) mulai dari muka. Dalam 24-48 jam ruam ini menyebar ke leher, dada, dan batuknya menghebat, disertai sesak napas. Pada mukosa mulut (pipi dan langit-langit) tampak bintik-bintik (enentema) yang disebut bintik koplik yang sering kali sudah dapat dilihat sebelum timbul eksantema pada kulit dan merupakan dasar pertama untuk diagnosis klinik. Dalam 7 sampai 10 hari ruam (eksterma) ini mulai meggelap dan warnanya menjadi kecoklatan. Demam dan batuknya dengan cepat mereda.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penularan campak meliputi penularan infeksi yang termasuk di dalamnya adalah reservoar, sumber dan rute penularan, masa inkubasi, masa dapat menular, imunitas individu dan pengobatan serta pecegahan campak.
Tidak ada yang spesifik. Antibiotika diberi dengan maksud mencegah infeksi bakteri sekunder atau mengobati komplikasi seperti bronkitis, bronkopneumonia (BP) dan ensefalomielitis. Pencegahan dengan imunisasi MMR dosis tunggal saat berumur 1 tahun.
d. Rubella (Campak Jerman)
Gejalanya lebih ringan dari campak biasa. Ruam yang timbul lebih ringan dan mereda 2-3 hari. Virus ini dapat melalui plasenta, karena itu sangat berbahaya selama trisemester 1 kehamilan, yaitu saat organ-organ tubuh dibentuk.
Individu tersebut dapat mengalami abortus atau bayi lahir mati, dan bila bayi lahir cukup bulan, sering dengan satu atau lebih anomali, seperti kelamin, jantung, pembengkakan hati dan limpa disertai gangguan fungsi, tuli, katarak, retardasi mental, atau cedera otak lainnya.
Hal-hal yang perlu dalam penularan rubella meliputi penularan infeksi yang termasuk didalamnya adalah reservoar, sumber dan rute penularan, masa inkubasi, masa dapat menular dan imunitas individu dan pengoabatan serta pencegahan rubella.
Tidak ada yang spesifik. Pencegahan dengan imunisasi MMR, dianjurkan untuk anak berusia antara 1-12 tahun.
e. Herpes Zoster dan Varicella
Varicella (cacat cair) adalah terutama penyakit anak yang sangat menular, ditandai dengan demam, malaise dan erupsi vesikuler yang mungkin gatal di kulit. Herpes zoster adalah radang yang sakit dari radiks dan ganglia posterior, ditandai dengan kelompok-kelompok vesikel pada kulit (unilateral). Secara morfolofis, vesikel ini identik dengan vesikel pada vericella, namun gambaran klinisnya berbeda jauh dari varicella.
Virus varicella memasuki tubuh melalui mukosa jalan napas, dan menempati sel-sel dari kulit. Gejala demam dan malaise pertama kali muncul 12 sampai 14 hari setelah terpapar. Lesi-lesi ini mula-mula terdapat di badan.
BAB III
PENUTUP
A. Penutup
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Kesehatan yang baik tergantung sebagian pada lingkungan yang aman. Praktisi atau infeksi yang memantau atau mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja perawatan kesehatan dari penyakit. Klien dalam lingkungan perawatan kesehatan berisiko terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius, meningkatnya panjanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme infeksius, meningkatkan pejanan terhadap jumlah dan prosedur invasif. Dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatori, klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda yang beberapa dari mikroorganisme tersebut dapat saja resisten terhadap banyak antibiotik. Dengan cara mempraktikkan teknik pencegahan dan pengendalian infeksi, perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien.
Dalam semua lingkungan, klien dan keluarga harus mampu mengenali sumber infeksi dan mampu melaksanakan atau melakukan tindakan protektif. Penyuluhan klien harus termasuk informasi mengenai infeksi, cara-cara penularan dan pencegahan.
Petugas perawatan kesehatan dapat melindungi diri mereka sendiri dari kontak dengan bahan infeksius atau terpajan pada penyakit menular dengan memiliki pengetahuan tentang proses infeksi dari perlindungan barier yang tepat. Penyakit hepatitis B, AIDS dan tubercolosis telah menyebabkan perhatian yang lebih besar pada teknik pengontrolan infeksi.
Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampau menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan, infeksi disebut asimptomatik. Penyakit timbul jika patogen berbiak dan menyebabkan perubahan pada jaringan normal. Jika penyakit infeksi dapat ditularkan langsung dari satu orang ke orang lain, penyakit ini merupakan penyakit menular atau contagius.
B. Saran
Berdasarkan uraian kesimpulan diatas maka agen infeksius menyerang pada saat tubuh kita mengalami kelemahan atau pada saat tubuh mempunyai imun yang menurun. Untuk itu penulisa menyarankan kepada semua pembaca untuk memulai pola hidup sehat dengan banyak berolah raga kemudian makan-makanan yang bergizi. Makan-makanan yang bergizi tidaklah harus dengan yang mewah-mewah namun harus dengan cara penyajian yang baik dan benar agar kadar gizi yang dibutuhkan tubuh tidak hilang.
Daftar Pustaka
Baratawidjaja, Karnen Garna. 1991. IMUNOLOGI DASAR. FKUI: Jakarta.
Pusat Pendidikan. 1989. IMUNOLOGI. Balai Kesehatan RI: Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)