Kamis, 24 Juni 2010

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI

LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI

A. MASALAH UTAM A

Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi

B. Proses Terjadinya masalah

1. Pengertian dan tanda gejala

Halusinasi adalah gangguan persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadinya pada saat kesadaran individu itu penuh/baik (Stuart dan Suddenn, 1998).

Halusinasi adalah berhubungan dengan alat sensorik spesifik (sebagai contohnya halusinasi dengar, lihat, raba, cium dan kecap), yang harus diidentifikasi dengan jelas lama keadaan dan interprestasi kepentingan halusinasi adalah jelas (Dr. Wijaya Kusuma, 1997).

Tanda dan gejala :

a) Bicara, senyum dan tertawa sendiri

b) Menarik diri dan menghindar dari orang lain

c) Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan tidak nyata

d) Tidak dapat memusatkan perhatian

e) Curiga, bermusuhan, merusaK (diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya), takut

f) Ekspresi muka tegang mudah tersinggung

2. Penyebab masalah utama dan mekanisme

a) Faktor predisposisi

1) Biologis

Abnormalitas otak yang menyebabkan respons neurobiologist yang maladaptif yang baru mulai dipahami. Ini termasuk hal-hal berikut :

- Terdapat lesi pada area frontal, temporal dan limbic paling berhubungan dengan perilaku psikotik

- Beberapa kimia otak dikaitkan dengan skizoprenia. Hasil penelitian menunjukan hal-hal berikut :

(a) Dopamin neurotransmitter yang berlebihan

(b) Ketidakseimbangan antara dopamin dan neurotransmitter

(c) Masalah-masalah pada sistem ressptor dopamin

2) Psikologis

Pada teori psikodinamika untuk terjadinya respons neurobiologik yang maladaptif belum didukung oleh peneliti. Teori psikologik terdahulu menyalahkan keluarga sebagai penyebab gangguan halusinasi.

3) Sosio-kultural

Pada sosiokultural yang banyak menunjang terjadinya skizoprenia dan gangguan psikotik adalah stress yang menumpuk tetapi hal ini tidak menjadi penyebab utama gangguan.

b) Faktor presipitasi

1) Biologis

Stressor biologis yang berhubungan dengan respons neurobiologist yang maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses informasi dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan.

2) Stress lingkungan

Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi dengan stress lingkungan untuk menentukan terjadinya perilaku.

3) Pemicu gejala

Pemicu yang biasanya terdapat pada respons neurobiologist yang maladaptif berhubungan dengan kesehatan, lingkungan, sikap dan perilaku individu.

c) Mekanisme koping

1) Adaptif

- Pemahaman terhadap pengaruh gangguan otak pada perilaku

- Kekuatan dapat meliputi seperti modal inteligensia atau kreativitas yang tinggi

- Dukungan keluarga

- Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi diri sendiri dari pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respons neurobiologik termasuk :

(1) Regresi berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk menanggulangi ansietas

(2) Proyeksi sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi

(3) Menarik diri

d) Rentang respon

Rentang respons neurobiologist

Respons adaptif respons maladaptif

Pikiran logis

pikiran kadang menyimpang

kelainan pikiran

Persepsi akurat

ilusi

Halusinasi

Emosi konsisten Dengan pengalaman

reaksi emosional berlebihan/kurang

Ketidakmampuan untuk mengalami emosi

Perilaku sesuai hubungan sosial

Perilaku ganjil atau tak lazim, menarik diri

Ketidakteraturan, isolasi sosial

3. Akibat dari masalah utama

Pasien yang mengalami perubahan persepsi sensori : halusinasi dapat beresiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai atau membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.

Tanda dan gejala :

Memperlihatkan permusuhan, mendekati orang lain dengan ancaman, memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai, menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan mempunyai rencana untuk melukai.

C. POHON MASALAH

Resiko Mencederai Diri, Orang Lain Dan Lingkungan

Perubahan Sensori Perceptual : Halusinasi

Isolasi Sosial : Menarik Diri

D. MASALAH KEPERAWATAN (DATA YANG PERLU DIKAJI)

1. Masalah keperawatan

a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

b. Perubahan sensori perseptual : halusinasi

c. Isolasi sosial : menarik diri

2. Data yang perlu dikaji

a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Data subjektif :

Pasien mengatakan marah dan jengkel pada orang lain, ingin membunuh, ingin mencakar atau meangacak-acak lingkungannya.

Data objektif :

Pasien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang yang ada disekitarnya.

b. Perubahan sensori perceptual : halusinasi

Data subjektif :

Pasien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata, melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata, mencium bau tanpa stimulus, pasien merasa makan sesuatu, merasa ada sesuatu pada kuatnya, takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar, ingin memukul atau melempar barang-barang.

Data objektif :

Pasien berbicara dan tertawa sendiri, bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu, berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu, disorientasi.

c. Isolasi sosial : menarik diri

Data subjektif :

Pasien mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi, enggang berbicara dengan orang lain, malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi

2. Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri

F. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi

Tujuan umum :

Pasien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Tujuan khusus :

a) Pasien dapat membina hubungan saling percaya

Tindakan :

- Salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak selanjut yang jelas (waktu, tempat, topik)

- Beri kesempatan perasaan

- Empati

- Ajak membicarakan hal-hal yang ada lingkungan

b) Pasien dapat ,mengenai halusinasinya

Tindakan :

- Kontak sering dan singkat

- Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi (verbal dan nonverbal)

- Bantu mengenai halusinasinya dengan menanyakan apakah ada suara yang didengar dan apa yang dikatakan oleh suara itu katakan bahwa perawat percaya pasien mendengar itu, tetapi perawat tidak katakan perawat akan membantu

- Diskusikan tentang situasi yang memunculkan halusinasi, waktu, frekuensi terjadinya serta apa yang dirasakan saat terjadi halusinasi

- Support untuk mengungkapkan perasaan saat terjadi halusinasi

c) Pasien dapat megontrol halusinasinya

Tindakan :

- Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika terjadi halusinasi

- Diskusikan manfaat cara yang digunakan pasien dan cara baru untuk mengontrol halusinasinya

- Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi : bicara dengan orang lain bila muncul halusinasi melakukan kegiatan, mengatakan pada suara tersebut “saya tidak mau dengar”.

- Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih dan beri pujian jika berhasil

- Libatkan pasien dalam TAK stimulasi persepsi

d) Pasien dapat dukungan dari keluarga

Tindakan :

- Berikan pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala, cara, memutus halusinasi, cara merawat, informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan

- Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

e) Pasien dapat menggunakan obat dengan benar

Tindakan :

- Diskusikan tentang dosis, nama, frekuensi, dan efek samping minum obat

- Bantu, menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama, pasien, obat, dosis, cara dan waktu)

- Anjurkan membicarakan efek samping obat yang dirasakan

- Beri reinforcement positif pasien minum obat yang benar

2. Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri

Tujuan umum :

Pasien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal

Tujuan khusus :

a) Pasien dapat membina hubungan saling percaya

Tindakan :

- Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik

- Sapa pasien dengan ramah baik verbal maupun non verbal

- Perkenalkan diri dengan sopan

- Tanyakan nama lengkap pasien dan nama panggilan yang disukai pasien

- Jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan menepati janji

- Tunjukkan sikap empati dan menerima pasien apa adanya

- Beri perhatian kepada pasien dan perhatian kebutuhan dasar pasien

b) Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

Tindakan :

- Diskuksikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien

- Setiap bertemu pasien tindakan dari member penilaian negative

- Utamakan memberikan pujian yang realistik

c) Pasien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

tindakan :

- Rencanakan bersama pasien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan

- Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien

- Beri contoh cara melaksanakan kegiatan yang boleh pasien lakukan

d) Pasien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya

Tindakan :

- Berikan pujian atas keberhasilan pasien

- Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah

e) Pasien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada

Tindakan :

- Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat pasien dengan halusinasi

- Bantu keluarga memberikan dukungan selama pasien dirawat

- Bantu keluarga menyiapkan lingkungan dirumah

E. DAFTAR PUSTAKA

Stuart BW, sundenn. 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.

Selasa, 22 Juni 2010

LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO PERILAKU KEKERASAN


A. MASALAH UTAMA
Resiko Perilaku Kekerasan

B. PROSES TERJADINYA MASALAH
1. Pengertian dan Tanda Gejala
perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain (Iyus Yosep,2007)
kekerasan adalah kekuatan fisik yang digunakan untuk menyerang atau merusak orang lain. tindakan ini merupakan tindakan yang tidak adil dan sering mengakibatkan cedera fisik (Ana Isaqcs,2005).
tanda dan gejala perilaku kekerasan yaitu :
a. muka merah dan tegang
b. pandangan tajam
c. mengatupkan rahang dengan kuat
d. mengepalkan tangan
e. berjalan mondar-mandir
f. bicara kasar
g. suara tinggi, menjerit atau berteriak
h. mengancam secara verbal atau fisik
i. melempar atau memukul benda/orang lain
j. merusak barang atau benda
k. tidak mempunyai kemampuan mencegah/mengontrol perilaku kekerasan

2. Penyebab masalah utama dan mekanisme
a. faktor predisposisi
1) faktor psikologis
frustation aggresion theory, teori yang dikembangkan oleh pengikut Freud ini berawal dari asumsi, bahwa bila usaha seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami hamabatan maka akan timbul dorongan agresif yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku yang dirancang untuk melukai orang atau objek yang menyebabkan frustasi. jadi hampir semua orang yang melakukan tindakan agresif mempunyai riwayat perilaku agresif.
pandangan psikologi lainnya mengenai perilaku agresif, mendukung pentingnya peran dari perkembangan predisposisi atau pengalaman hidup. ini menggunakan pendekatan bahwa manusia mampu memilih mekanisme koping yang sifatnya tidak merusak. beberapa contoh dari pengalaman tersebut :
a) kerusakan otak organik, retardasi mental, sehingga tidak mampu untuk menyelesaikan secara efektif
b) severe emotional deprivation atau rejeksi yang berlebihan pada masa kanak-kanak, atau seduction parental yang mungkin telah merusak hubungan saling percaya (trust) dan harga diri
c) terpapar kekerasan selama dalam keluarga, sehingga membentuk pola pertahanan atau koping

2) faktor sosial budaya
kultural dapat pula mempengaruhi perilaku kekerasan. adanya norma dapat membantu mendefenisikan ekspresi agresif mana yang dapat diterima atau tidak dapat diterima. sehingga dapat membantu individu untuk mengekspresikan marah dengan cara yang agresif.

3) faktor biologis
penelitian neurobiologi mendapatkan bahwa adanya pemberian stimulus elektris ringan pada hipotalamus (yang berada ditengah sistem limbik) binatang ternyata menimbulkan perilaku agresif. perangsangan yang diberkan terutama pada nukleus perifoiniks hipotalamus dapat menyebabkan seekor kucing mengeluarkan cakarnya, mengangkat ekornya, mendesis, bulunya berdiri, menggeram, matanya terbuka lebar, pupil berdilatasi, dan hendak menerkam tikus atau objek yang ada disekitarnya. jadi kerusakan fungsi sistem limbik (untuk emosi dan perilaku), lobus frontal (untuk pemikiran rasional), dan lobus temporal (untuk interpretasi indera penciuman dan memori).
neurotransmitter yang sering dikaitkan dengan perilaku agresif : serotonin, dopamin, norepinephrine, acetilkolinm dan asam amino GABA. faktor-faktor yang mendukung :
a) masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan
b) sering mengalami kegagalan
c) kehidupan yang penuh tindakan agresif
d) lingkungan yang tidak kondusif (bising, padat)

b. faktor presipitasi
secara umum, seseorang dan berespon dengan marah apabila merasa dirinya terancam. ancaman tersebut dapat berupa injury secara psikis atau lebih dikenal dengan adanya ancaman terhadap konsep diri seseorang. ketika seseorang merasa terancam, mungkin dia tidak menyadari sama sekali apa yang menjadi sumber kemarahannya. oleh karena itu, baik perawat maupun klien harus bersama-sama mengidentifikasinya. ancaman dapat berupa internal maupun eksternal. contoh stressor eksternal : serangan secara psikis, kehilangan hubungan yang dianggap bermakna, dan adanya kritikan dari orang lain. sedangkan contoh dari internal : merasa gagal dalam bekerja, merasa kehilangan orang yang dicintai, dan ketakutan terhadap penyakit yang diderita.
bila dilihat dari sudut perawat-klien, maka yang mencetuskan terjadinya perilaku kekerasan terbagi dua yaitu :
1) klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kurang percaya diri
2) lingkungan : ribut, kehilangan orang/objek yang berharga, konflik interaksi sosial

c. mekanisme koping
perawat perlu mengidentifikasikan mekanisme koping klien, sehingga dapat membantu klien untuk mengembangkan mekanissme koping yang konstruktif dalam mengekspresikan marahnya. mekanisme koping yang umum digunakan adalah mekanisme pertahanan ego seperti displacement (dapat mengungkapkan kemarahan pada objek yang salah, misalnya pada saat marah pada dosen, mahasiswa mengungkapkan kemarahan dengan memukul tembok. proyeksi yaitu kemarahan dimana secara verbal mengalihkan kesalahan diri sendiri pada orang lain yan dianggap berkaitan, misalnya pada saat nilai buruk seorang mahasiswa menyalahkan dosennya atau menyalahkan sarana kampus atau menyalahkan admistrasi yang tidak becus mengurus nilai. mekanisme koping yang lainnya adalah represi, dimana individu merasa seolah-olah tidak marah dan tidak kenal, ia tidak mencoba menyampaikannya kepada orang terdekat atau ekpress feeling, sehingga rasa marahnya tidak terungkap dan ditekan sampai ia melupakannya.
perilaku kekerasan biasanya diawali dengan situasi berduka yang berkepanjangan dari seseorang karena ditinggal oleh seseorang yang diangga sangat berpengaruh dalam hidupnya. bila kondisi tersebut tidak berakhir dapat menyebabkan perasaan ketidakmampuan bergaul dengan orang lain ini tidak diatasi akan timbul halusinasi yang menyuruh untuk melakukan tindakan kekerasan dan ini terdapat terhadap resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
selain diakibatkan oleh berduka yang berkepanjangan, dukungan keluarga yang kurang baik untuk menghadapi keadaan klien mempengaruhi perkembangan klien (koping keluarga tidak efektif), hal ini tentunya menyebabkan klien akan sering keluar masuk RS/timbulnya kekambuhan karena dukungan keluarga tidak maksimal.

d. rentang respon
adaptif maladaptif
asertif frutasi pasif agresif amuk/PK

asertif adalah kemarahan atau rasa tidak setuju yang dinyatakan atau diungkapkan tanpa menyakiti orang lain akan memberi kelegaan pada individu dan tidak akan menimbulkan masalah.
frustasi adalah respons yang terjadi akibat mencapai tujuan karena tujuan yang tidak realistis atau hambatan dalam proses pencapaian tujuan. dalam keadaan ini tidak ditemukan alternatif lain. selanjutnya individu merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan dan terlihat pasif.
agresif adalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol. perilaku yang tampak dapat berupa : muka masam, bicara kasar, menuntut, kasar disertai kekerasan.
ngamuk adalah perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. individu dapat merusak diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

3. akibat dari masalah utama
klien dengan perilaku kekerasaan dapat melakukan tindakan-tindakan berbahaya bagi dirinya, orang lain maupun lingkungannya, seperti menyerang orang lain, memecahkan perabot, membakar rumah dan lain-lain. sehingga klien dengan perilaku kekerasaan beresiko untuk mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

C. POHON MASALAH
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan AKIBAT

Resiko Perilaku Kekerasaan CORE PROBLEM

Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah SEBAB



D. MASALAH KEPERAWATAN (DATA YANG PERLU DIKAJI)
1. Resiko Perilaku Kekerasaan
data subjektif :
  • klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang
  • klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah
  • riawayat perilaku kekerasaan atau gangguan jiwa lainnya
data objektif :
  • mata merah, wajah agak merah
  • nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai
  • ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam
  • merusak dan melempar barang-barang
2. Resiko Mencederai Diri Sendiri, Orang Lain dan Lingkungan
data subjekti :
  • klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang
  • klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah
  • riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya
data objektif :
  • muka merah dan tegang
  • pandangan tajam
  • mengatupkan rahang dengan kuat
  • mengepalkan tangan
  • jalan mondar-mandir
  • bicara kasar
  • suara tinggi, menjerit atau berteriak
  • mengancam secara verbal atau fisik
  • melempar atau memukul benda/orang lain
3. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
data subjektif :
  • mengungkapkan ingin diakui jati dirinya
  • mengungkapkan tidak ada lagi yang peduli
  • mengungkapkan tidak bisa apa-apa
  • mengungkapkan dirinya tidak berguna
  • memgkritik diri sendiri
  • perasaan tidak mampu
data objektif :
  • merusak diri sendiri
  • merusak ornag lain
  • ekspresi orang lain
  • menarik diri dari hubungan sosial
  • tampak mudah tersinggung
  • tidak mau makan dan tidak tidur
E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko Perilaku Kekerasaan

F. RENCANA KEPERAWATAN
1. tujuan SP 1 P
a. mengidentifikasi penyebab PK
b. mengidentifikasi tanda dan gejala PK
c. mengidentifikasi PK yang dilakukan
d. mengidentifikasi akibat PK
e. mengajarkan cara mengontrol PK
f. melatih klien cara kontrol PK fisik 1 (nafas dalam)
g. membimbing klien memasukkan dalam jadwal harian

rencana tindakan :
  • bina hubungan saling percaya
  • diskusikan bersama klien penyebab PK
  • diskusikan perasaan klien jika terjadi penyebab PK
  • diskusikan bersama klien PK yang biasa dilakukan klien pada saat marah
  • diskusikan bersama klien akibat PK
  • diskusikan bersama klien cara mengontrol PK
  • latih klien cara kontrol PK dengan fisik 1 (tarik nafas dalam)
2. tujuan SP 2 P
a. mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
b. melatih klien mengontrol PK dengan cara fisik 2 (memukul kasur bantal)
c. menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

rencana tindakan :
  • beri kesempatan kepada klien untuk mempraktekkan latihan nafas dalam
  • bantu klien untuk mensimulasikan cara pukul kasur bantal (role play)
  • identifikasi lagi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi PK
  • beri reinforcement positif atas keberhasilan klien mensimulasikan cara tersebut
3. tujuan SP 3 P
a. mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
b. melatih klien mengontrol PK dengan cara verbal
c. menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

renacana tindakan :
  • beri kesempatan kepada klien untuk mempraktekkan latihan nafas dalam dan pukul kasur bantal
  • bantu klien untuk mensimulasikan cara verbal (role play)
  • identifikasi lagi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi PK
  • beri reinforcement positif atas keberhasilan klien
4. tujuan SP 4 P
a. mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
b. melatih klien mengontrol PK dengan cara spiritual
c. menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

rencana tindakan :
  • beri kesempatan kepada klien untuk mempraktekkan latihan nafas dalam dan pukul kasur bantal dan verbal
  • bantu klien untuk mensimulasikan cara spiritual (role play)
  • beri reinforcement positif atas keberhasilan klien

5. tujuan SP 5 P
a. mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
b. melatih klien mengontrol PK dengan cara minum obat
c. menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

rencana tindakan :
  • beri kesempatan kepada klien untuk mempraktekkan latihan cara fisik, verbal dan spiritual
  • bantu klien untuk mensimulasikan cara minum obat (role play)
  • identifikasi lagi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi PK
  • jelaskan kepada klien bahwa 5 cara mengontrol PK sudah dilakukan sehingga klien dapat melatih cara-cara yang sudah diajarkan
  • beri reinforcement positif atas keberhasilan klien


G. DAFTAR PUSTAKA
Isaacs, Ann. (2004). Keperawatan Keshatan Jiwa dan Psikiatrik, edisi 3. jakarta : EGC
Keliat, Budai Anna. (1991). Marah Akibat Penyakit yang Diderita. jakarta : EGC
Yosep, Iyus. (2007). Keperawatan Jiwa. bandung : Refika Aditama
Yosep, Iyus. (2009). Keperawatan Jiwa, edisi revisi. bandung : Refika Aditama

Sabtu, 05 September 2009

Selasa, 14 Juli 2009

hipertrofi prostat

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Gangguan miksi merupakan keluhan yang sangat menggang-gu penderita. Pada penderita laki-laki usia tua diatas 50 tahun umumnya yang menyebabkan gangguan miksi adalah hiper-trofi prostat. Menurut Blandy pada hakekatnya semua priayang sehat yang berusia diatas 40 tahun cenderung untuk menderita hipertrofi prostat, dan hanya kira-kira 10% dari mereka ini yang akan menampilkan gejala-gejala hipertrofi prostat, disertai dengan gangguan-gangguan miksi kelak di kemudian hari.
Selanjutnya dikatakan bahwa tidak ada satu suku bangsa pun didunia ini yang kebal terhadap penyakit ini, hanya berbeda di dalam jumlah persentase saja. Menurut Brows dkk suku bangsa Negro tercatat dalam persentase kecil, dan penyebab yang pasti dari penyakit ini belum diketahui. Ketidakseimbangan antara hormon estrogen -- androgen dalam darah mungkin memegang peranan penting pada proses terjadinya hipertrofi prostat.
Hiperplasia dari pada lobus prostat, kadang kala mengaki-batkan meningginya tahanan outflowair seni dari leher kandung kemih ke dalam saluran urethra, akibat gangguan mekanisme pembukaan dan pencorongan (funneling) dari leher kandung kemih sewaktu buang air kecil, dan akhirnya mengakibatkan gangguan miksi. Korelasi antara besarnya prostat dengan hebatnya gejala-gejala gangguan miksi dan banyaknya residual urine tidak jelas. Prostat yang besar tidak selalu mengakibatkan gangguan miksi, sebaliknya pada fibrotik prostat dimana prostatnya kecil dapat timbul gangguan miksi yang hebat.

B. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
a. Untuk mengetahui mengenai asuhan keperawatan pada pasien hipertrofi prostat
b. Mengetahui secara jelascmengenai penyakit hipertrofi prostat
c. Mengetahui menambah wawasan mengenai hipertrofi prostat
d. Untuk memenuhi tugas mata ajar ”Keperawatan Medikal Bedah”

C. METODE PENULISAN
Dalam penulisan makalah ini kami menggunakan metode metode deskriptif yaitu metode yang bersifat menjelaskan suatu peristiwa.

D. RUANG LINGKUP PENULISAN
Dalam penulisan makalah ini penulis membatasi ruang lingkup, karena keterbatasan pengetahuan dan waktu dalam penulisan makalah.

E. SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan makalah ini terdiri dari 3 BAB yaitu :
BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan, metode, ruang lingkup, dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan teoritis, yang terdiri dari anatomi fisiologi kelenjar frostat, pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan.
BAB III : Asuhan Keperawatan, yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, dan intervensi keperawatan.
BAB IV : Penutup yag terdiri dari kesimpulan dan saran.













BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Anatomi Kelenjar Prostat
Kelenjar prostat adalah suatu kelenjar fibro muscular yang melingkar Bledder neck dan bagian proksimal uretra. Berat kelenjar prostat pada orang dewasa kira-kira 20 gram dengan ukuran panjang 3.4 cm, Lebar 4.4 cm, Tebal 2.6 cm. Secara embriologis kelenjar prostat terdiri dari 5 lobur yaitu Lobus medius 1 buah, Lobus anterior 1 buah, Lobus posterior 1 buah, Lobus lateral 2 buah Selama perkembangannya lobus medius, lobus anterior dan lobus posterior akan menjadi saru disebut lobus medius. Pada penampang lobus medius kadang-kadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus ini tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil berisi cairan seperti susu, kista ini disebut kelenjar prostat. Pada potongan melintang uretra pada posterior kelenjar prostat terdiri dari Kapsul anatomis, Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler, Jaringan kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok bagian yaitu Bagian luar disebut kelenjar sebenarnya, Bagian tengah disebut kelenjar sub mukosal, lapisan ini disebut juga sebagai adenomatus zone, Di sekitar uretra disebut periuretral gland. Saluran keluar dari ketiga kelenjar tersebut bersama dengan saluran dari vesika seminalis bersatu membentuk duktus ejakulatoris komunis yang bermuara ke dalam uretra. Pada laki-laki remaja prostat belum teraba pada colok dubur, sedangkan pada oran dewasa sedikit teraba dan pada orang tua biasanya mudah teraba. Sedangkan pada penampang tonjolan pada proses hiperplasi prostat, jaringan prostat masih baik. Pertambahan unsur kelenjar menghasilkan warna kuning kemerahan, konsisitensi lunak dan berbatas jelas dengan jaringan prostat yang terdesak berwarna putih ke abu-abuan dan padat. Apabila tonjolan itu ditekan keluar cairan seperti susu. Apabila jaringan fibromuskuler yang bertambah tonjolan berwarna abu-abu, padat dan tidak mengeluarkan cairan sehingga batas tidak jelas. Tonjolan ini dapat menekan uretra dari lateral sehingga lumen uretra menyerupai celah. Terkadang juga penonjolan ini dapat menutupi lumen uretra, tetapi fibrosis jaringan kelenjar yang berangsur-angsur mendesak prostat dan kontraksi dari vesika yang dapat mengakibatkan peradangan.

B. Pengertian Hipertrofi Prostat
Hipertrofi prostat merupakan kelainan yang sering di jumpai di klinik urologi di Indonesia di Jakarta Hipertrofi prostat merupakan kelainan ke dua tersering setelah batu saluran kemih.Umumnya terjadi setelah usia pertengahan akibat perubahan hormonal.Bagian paling dalam prostat membesar dengan terbentuknya adenoma yang tersebar.Pembesaran ini mendesak jaringan prostat yang normal ke arah tepi dan juga menyempitkan uretra.
Hipertrofi psostat adalah pembesaran kelenjar prostat yang biasanya terjadi pada laki-laki pad usia lebih dari 50 tahun.
Hipertrofi prostat merupakan kondisi pertumbuhan kelenjar prostat yang berlebihan. Pembengkakan kelenjar prostat yang cukup besar dapat menekan sampai ke kandung kemih dan uretra sehingga terjadi penyempitan uretra. Keadaan tersebut dapat menghambat (obstruksi) aliran urin dan selanjutnya dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. Selain itu, pembesaran prostat juga dapat membentuk kantong dari kandung kemih sehingga sewaktu buang air seni masih ada yang tertinggal di dalam kandung kemih, urin yang tertinggal ini dapat membentuk batu atau kista.

C. Etiologi
Penyebab dari terjadinya hipertrofi prostat belum diketahui secara pasti. Prostat merupakan alat tubuh yang bergantung kepada endokrin dan dapat pula dianggap undangan(counter part). Oleh karena itu yang dianggap etiologi adalah karena tidak adanya keseimbangan endokrin. Namun menurut Syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 etiologi dari hipertrofi prostat yaitu Adanya hiperplasia periuretral yang disebabkan karena perubahan keseimbangan testosteron dan estrogen, Ketidakseimbangan endokrin, Faktor umur atau usia lanjut, tidak diketahui secara pasti.
D. Manifestasi klinis
Adapun tanda dan gejala hipertrofi prostat yaitu:
1. Kencing sukar dan harus mengedan
2. Kadang-kadang harus meekan dengan tangan di atas perut
3. Tidak merasa puas setelah kencing
4. Sering kencing (polakisuri)
5. Nokturi
6. Akhirnya kencing hanya menetes (dribbling)
7. Kadang-kadang ada hematuri
Gejala pembesaran prostat yang paling menonjol adalah air seni tidak dapat di keluarkan sampai habis, Walaupun penderiata mengedan dengan keras.Bila pembesaran itu sangat besar, akan terjadi retensi urin. Jadi, tidak dapat kencing sama sekali. Akibat mengedan yang keras sebagai usaha untuk mengeluarkan air seni kadang-kadang air seni yang keluar bercampur darah.

E. Patofisiologi

Usia Lanjut

Ketidakseimbangan Hormon
(Estrogen dan testoteron)

Hyperplasia Pd Epitel & Stroma Pd Kelenjar Prostat

Penyempitan Lumen Ureter Protatika

Menghambat Aliran Urina
Tekanan Intravesikal


F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada hipertropi prostat yaitu :
a. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis, gagal ginjal.
b. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu miksi
c. Hernia / hemoroid
d. Karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya batu e. Hematuria f. Sistitis dan Pielonefritis
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
2. Pengukuran Derajat berat Obstruksi
3. Pemeriksaan Pencitraan
4. Radiologis Intravena pylografi,
5. BNO,
6. sistogram, retrograd,
7. USG,
8. Ct Scanning,
9. cystoscopy,
10. foto polos abdomen.
H. Pengobatan Atau Penatalaksanaan
- Prostatektomi Retro Pubis Pembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi kandung kemih tidak dibuka, hanya ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat.
- Prostatektomi Parineal Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum.
- Kateterisasi
- antibiotik atau antiradang, anti-infeksi, menghilangkan pembengkakan,
- peluruh kemih (diuretik),
- meredakan rasa sakit (analgetik)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
- Kaji kulit klien
- Aktivitas seksual
- Pola eliminasi
- Kardiovaskular
- Istirahat & tidur
- TTV
- Kateterisasi yang terpasang pada klien

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Gangguan rasa nyamam: nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter.
Intervensi:
1. Kaji tingkat nyeri dan faktor pencetus timbulnya nyeri
2. Ajarkan kepada klien teknik relaksasi dan distraksi
3. Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi) .
4. Beri ompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah d.
5. Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang)
6. Atur posisi pasien senyaman mungkin,
7. Lakukan perawatan aseptik terapeutik
8. Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat
b. Perubahan pola eliminasi : retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder.
Intervensi:
1. Lakukan irigasi kateter secara berkala atau terus- menerus dengan teknik steril.
2. Atur posisi selang kateter dan urin bag sesuai gravitasi dalam keadaan tertutup.
3. Observasi adanya tanda-tanda shock/hemoragi (hematuria, dingin, kulit lembab, takikardi, dispnea).
4. Mempertahankan kesterilan sistem drainage cuci tangan sebelum dan sesudah menggunakan alat dan observasi aliran urin serta adanya bekuan darah atau jaringan.
5. Monitor urine setiap jam (hari pertama operasi) dan setiap 2 jam (mulai hari kedua post operasi).
6. Ukur intake output cairan g. Beri tindakan asupan/pemasukan oral 2000-3000 ml/hari, jika tidak ada kontra indikasi.
7. Berikan latihan perineal (kegel training) 15-20x/jam selama 2-3 minggu, anjurkan dan motivasi pasien untuk melakukannya.
c. Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan penggunaan kateterisasi
Intervensi :
1. Lakukan irigasi kandung kemih dengan larutan steril.
2. Observasi insisi (adanya indurasi drainage dan kateter), (adanya sumbatan, kebocoran)
3. Lakukan perawatan luka insisi secara aseptik, jaga kulit sekitar kateter dan drainage
4. Monitor balutan luka, gunakan pengikat bentuk T perineal untuk menjamin dressing
5. Monitor tanda-tanda sepsis (nadi lemah, hipotensi, nafas meningkat, dingin)

Sabtu, 18 April 2009

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pada usia lanjut individu akan mengalami perubahan fisik, mental, sosial ekonomi dan spiritual yang mempengaruhi kemampuan fungsional dalam aktivitas kehidupan sehari-hari sehingga menjadikan lansia menjadi lebih rentan menderita gangguan kesehatan baik fisik maupun mental. Berkaitan dengan kategori fisik, diperkirakan sekitar 85% dari kelompok umur 65 tahun atau lebih mempunyai paling tidak satu masalah kesehatan kronis (Healthy People, 1997). Dari berbagai masalah kesehatan itu ternyata gangguan muskuloskeletal menempati urutan kedua 14,5% setelah penyakit kardiovaskuler dalam pola penyakit masyarakat usia lebih dari 55 tahun (Household Survey on Health, Dept. Of Health, 1996). Dan berdasarkan survey WHO di Jawa ditemukan bahwa artritis/reumatisme menempati urutan pertama (49%) dari pola penyakit lansia (Boedhi Darmojo et. al, 1991).

B. Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah
a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Medikal bedah IV
b. Untuk mengetahui lebih lanjut apa yang dimaksud de.
c. Untuk mengetahui komponen-komponen ion yang terdapat didalam cairan elektrolit.
d. Mengetahui pemenuhan kebutuuhan cairan dan elektrolit pada anak

C. Metode penulisan
Metode penulisan makalah ini menggunakan metode argument dan deskripsi yang sesuai dengan literature yang diyakini kebenarannya dan penyajiannya dalam bentuk makalah.


D. Ruang lingkup penulisan
Mengingat luasnya permasalahan maka kelompok membatasi ruang lingkup masalah yaitu asuhan keperawatan pada klien dengan masalah Artritis Reumathoid.

E. Sistematika penulisan
Adapun Sistematika penulisan laporan kasus terdiri dari 4 Bab, yaitu :
Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari : Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan, Ruang Lingkup Penulisan dan Sistematika Penulisan.
Bab II : Tinjauan Teoritis yang terdiri dari : Pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnostik, penatalaksanaan.
Bab III : Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah Artritis Reumathoid.
Bab IV : Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran.
DAFTAR PUSTAKA









BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian
Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris. ( Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal. 165 )
Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi. (Lemone & Burke, 2001 : 1248)
Arthritis rheumatoid adalah penyakit inflamasi non-bakterial yang bersifat sistemik, progresif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris. (pengantar ilmu bedah ortopedi, hal :156 )
Arthritis rheumatoid adalah suatu penyakit inflamasi yang mengenai jaringan ikat sendi, bersifat progresif, simetrik dan sistemik serta cernderung menjadai kronik.
( ilmu penyakit dalam, hal :694)
Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. ( www.Medicastore.com )

B. Etiologi
Penyebab utama penyakit Reumatik masih belum diketahui secara pasti. Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab Artritis Reumatoid, yaitu:
1. Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus.
2. Endokrin
3. Autoimmun
4. Metabolik
5. Faktor genetik serta pemicu lingkungan
Pada saat ini Artritis rheumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikroplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita

C. Patofisiologi
Faktor genetik, infeksi
Sasaran primer Sinovium
Sinovitis Proliferatif



Pelepasan kolagenesa & produksi Pembengkakan, kekakuan
lisozim o/ fagosit pergelangan tangan & sendi jari tangan

Erosi sendi & periartikularis P’katan tekanan sendi distensi serta
putusnya kapsula & ligamentum
Kista dan kolaps sendi Sublaksasi sendi MCP & p’kembangan penyimpangan ulna klasik sering timbul
Hiperekstensi / deformitas fleksi bisa berkembang dlm sendi IP ibu jari tangan, sendi PIP jr tgn, sendi MCP & IP jari tangan

Tenosinovitis, jari tng pelatuk, rupture tendo & sindroma terowongan kaspal lazim di temukan




D. Manifestasi klinik
Ada beberapa gambaran / manifestasi klinik yang lazim ditemukan pada penderita Reumatik. Gambaran klinik ini tidak harus muncul sekaligus pada saat yang bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinik yang sangat bervariasi.
1. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, kurang nafsu makan, berat badan menurun dan demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya.
2. Poliartritis simetris (peradangan sendi pada sisi kiri dan kanan) terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi antara jari-jari tangan dan kaki. Hampir semua sendi diartrodial (sendi yang dapat digerakan dengan bebas) dapat terserang.
3. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam, dapat bersifat umum tetapi terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis (peradangan tulang dan sendi), yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selama kurang dari 1 jam.
4. Artritis erosif merupakan merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan pengikisan ditepi tulang .
5. Deformitas : kerusakan dari struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, pergeseran sendi pada tulang telapak tangan dan jari, deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yang sering dijumpai pada penderita. . Pada kaki terdapat tonjolan kaput metatarsal yang timbul sekunder dari subluksasi metatarsal. Sendi-sendi yang besar juga dapat terserang dan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerakan ekstensi.
6. Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa penderita rematik. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku) atau di sepanjang permukaan ekstensor dari lengan, walaupun demikian tonjolan) ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-nodula ini biasanya merupakan petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat.
7. Manifestasi ekstra-artikular (diluar sendi): reumatik juga dapat menyerang organ-organ lain diluar sendi. Seperti mata: Kerato konjungtivitis siccs yang merupakan sindrom SjÖgren, sistem cardiovaskuler dapat menyerupai perikarditis konstriktif yang berat, lesi inflamatif yang menyerupai nodul rheumatoid dapat dijumpai pada myocardium dan katup jantung, lesi ini dapat menyebabkan disfungsi katup, fenomena embolissasi, gangguan konduksi dan kardiomiopati.



E. Diagnostik
Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis yang simetris yang mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki serta menetap sekurang-kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan nodul subkutan atau gambaran erosi peri-artikuler pada foto rontgen.
Kriteria Artritis rematoid menurut American reumatism Association ( ARA ) adalah:
1. Kekakuan sendi jari-jari tangan pada pagi hari ( Morning Stiffness ).
2. Nyeri pada pergerakan sendi atau nyeri tekan sekurang-kurangnya pada satu sendi.
3. Pembengkakan ( oleh penebalan jaringan lunak atau oleh efusi cairan ) pada salah satu sendi secara terus-menerus sekurang-kurangnya selama 6 minggu.
4. Pembengkakan pada sekurang-kurangnya salah satu sendi lain.
5. Pembengkakan sendi yanmg bersifat simetris.
6. Nodul subcutan pada daerah tonjolan tulang didaerah ekstensor.
7. Gambaran foto rontgen yang khas pada arthritis rheumatoid
8. Uji aglutinnasi faktor rheumatoid
9. Pengendapan cairan musin yang jelek
10. Perubahan karakteristik histologik lapisan sinovia
11. gambaran histologik yang khas pada nodul.
Berdasarkan kriteria ini maka disebut :
Klasik : bila terdapat 7 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu
Definitif : bila terdapat 5 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu.
Kemungkinan rheumatoid : bila terdapat 3 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 4 minggu.

F. Penatalaksanaan
Oleh karena kausa pasti arthritis Reumatoid tidak diketahui maka tidak ada pengobatan kausatif yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Hal ini harus benar-benar dijelaskan kepada penderita sehingga tahu bahwa pengobatan yang diberikan bertujuan mengurangi keluhan/ gejala memperlambat progresifvtas penyakit.
Tujuan utama dari program penatalaksanaan/ perawatan adalah sebagai berikut :
1. Untuk menghilangkan nyeri dan peradangan
2. Untuk mempertahankan fungsi sendi dan kemampuan maksimal dari penderita
3. Untuk mencegah dan atau memperbaiki deformitas yang terjadi pada sendi
4. Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung pada orang lain.
Ada sejumlah cara penatalaksanaan yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut di atas, yaitu :
1. Pendidikan
Langkah pertama dari program penatalaksanaan ini adalah memberikan pendidikan yang cukup tentang penyakit kepada penderita, keluarganya dan siapa saja yang berhubungan dengan penderita. Pendidikan yang diberikan meliputi pengertian, patofisiologi (perjalanan penyakit), penyebab dan perkiraan perjalanan (prognosis) penyakit ini, semua komponen program penatalaksanaan termasuk regimen obat yang kompleks, sumber-sumber bantuan untuk mengatasi penyakit ini dan metode efektif tentang penatalaksanaan yang diberikan oleh tim kesehatan. Proses pendidikan ini harus dilakukan secara terus-menerus.
2. Istirahat
Merupakan hal penting karena reumatik biasanya disertai rasa lelah yang hebat. Walaupun rasa lelah tersebut dapat saja timbul setiap hari, tetapi ada masa dimana penderita merasa lebih baik atau lebih berat. Penderita harus membagi waktu seharinya menjadi beberapa kali waktu beraktivitas yang diikuti oleh masa istirahat.
3. Latihan Fisik dan Termoterapi
Latihan spesifik dapat bermanfaat dalam mempertahankan fungsi sendi. Latihan ini mencakup gerakan aktif dan pasif pada semua sendi yang sakit, sedikitnya dua kali sehari. Obat untuk menghilangkan nyeri perlu diberikan sebelum memulai latihan. Kompres panas pada sendi yang sakit dan bengkak mungkin dapat mengurangi nyeri. Mandi parafin dengan suhu yang bisa diatur serta mandi dengan suhu panas dan dingin dapat dilakukan di rumah. Latihan dan termoterapi ini paling baik diatur oleh pekerja kesehatan yang sudah mendapatkan latihan khusus, seperti ahli terapi fisik atau terapi kerja. Latihan yang berlebihan dapat merusak struktur penunjang sendi yang memang sudah lemah oleh adanya penyakit.
4. Diet/ Gizi
Penderita Reumatik tidak memerlukan diet khusus. Ada sejumlah cara pemberian diet dengan variasi yang bermacam-macam, tetapi kesemuanya belum terbukti kebenarannya. Prinsip umum untuk memperoleh diet seimbang adalah penting.
5. Obat-obatan
Pemberian obat adalah bagian yang penting dari seluruh program penatalaksanaan penyakit reumatik. Obat-obatan yang dipakai untuk mengurangi nyeri, meredakan peradangan dan untuk mencoba mengubah perjalanan penyakit
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Data dasar pengkajian pasien tergantung padwa keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya ( misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal ), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
1. Aktivitas/ istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan.
Tanda : Malaise, Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada sendi.
2. Kardiovaskuler
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
3. Integritas ego
Gejala : Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan. Keputusan dan ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ), Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang lain).
4. Makanan/ cairan
Gejala : Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat: mual, anoreksia, Kesulitan untuk mengunyah ( keterlibatan TMJ )
Tanda : Penurunan berat badan, Kekeringan pada membran mukosa.
5. Hygiene
Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi. Ketergantungan
6. Neurosensori
Gejala : Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.
Gejala : Pembengkakan sendi simetris
7. Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi ).
8. Keamanan
Gejala : Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutaneus. Lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap, Kekeringan pada meta dan membran mukosa.
9. Interaksi social
Gejala : Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain; perubahan peran; isolasi.
10. Penyuluhan/ pembelajaran
Gejala : Riwayat AR pada keluarga ( pada awitan remaja ), Penggunaan makanan kesehatan, vitamin, “ penyembuhan “ arthritis tanpa pengujian. Riwayat perikarditis, lesi katup, fibrosis pulmonal, pleuritis.
Pertimbangan : DRG Menunjukkan rerata lama dirawat : 4,8 hari.
Rencana Pemulanagan: Mungkin membutuhkan bantuan pada transportasi, aktivitas perawatan diri, dan tugas/ pemeliharaan rumah tangga.

B. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Faktor Reumatoid : positif pada 80-95% kasus.
2. Fiksasi lateks: Positif pada 75 % dari kasus-kasus khas.
3. Reaksi-reaksi aglutinasi : Positif pada lebih dari 50% kasus-kasus khas.
4. LED : Umumnya meningkat pesat ( 80-100 mm/h) mungkin kembali normal sewaktu gejala-gejala meningkat
5. Protein C-reaktif: positif selama masa eksaserbasi.
6. SDP: Meningkat pada waktu timbul prosaes inflamasi.
7. JDL : umumnya menunjukkan anemia sedang.
8. Ig ( Ig M dan Ig G); peningkatan besar menunjukkan proses autoimun sebagai penyebab AR.
9. Sinar x dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan ( perubahan awal ) berkembang menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang terjadi secara bersamaan.
10. Scan radionuklida : identifikasi peradangan sinovium
11. Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan irregularitas/ degenerasi tulang pada sendi
12. Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih besar dari normal: buram, berkabut, munculnya warna kuning ( respon inflamasi, produk-produk pembuangan degeneratif ); elevasi SDP dan lekosit, penurunan viskositas dan komplemen ( C3 dan C4 ).
13. Biopsi membran sinovial : menunjukkan perubahan inflamasi dan perkembangan panas.

C. PRIORITAS KEPERAWATAN
1. Menghilangkan nyeri
2. Meningkatkan mobilitas.
3. Meningkatkan monsep diri yang positif
4. mendukung kemandirian
5. Memberikan informasi mengenai proses penyakit/ prognosis dan keperluan pengobatan.

D. TUJUAN PEMULANGAN
1. Nyeri hilang/ terkontrol
2. Pasien menghadapi saat ini dengan realistis
3. Pasien dapat menangani AKS sendiri/ dengan bantuan sesuai kebutuhan.
4. Proses/ prognosis penyakit dan aturan terapeutik dipahami.
E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. NYERI AKUT/ KRONIS
Dapat dihubungkan dengan :
agen pencedera; distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
Dapat dibuktikan oleh :
Keluhan nyeri,ketidaknyamanan, kelelahan. Berfokus pada diri sendiri/ penyempitan focus, Perilaku distraksi/ respons autonomic, Perilaku yang bersifart hati-hati/ melindungi.
Hasil yang diharapkan/ kriteria evaluasi pasien akan:
Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol, Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan. Mengikuti program farmakologis yang diresepkan, Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri.
Intervensi dan Rasional :
a. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal (R/ Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program)
b. Berikan matras/ kasur keras, bantal kecil,. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan (R/Matras yang lembut/ empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi/nyeri)
c. Tempatkan/ pantau penggunaan bantl, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace. (R/ Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan dapat mengurangi kerusakan pada sendi)
d. Dorong untuk sering mengubah posisi,. Bantu untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari gerakan yang menyentak. (R/ Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/ rasa sakit pada sendi)
e. Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun dan/atau pada waktu tidur. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi, dan sebagainya. (R/ Panas meningkatkan relaksasi otot, dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan)
f. Berikan masase yang lembut (R/meningkatkan relaksasi/ mengurangi nyeri)
g. Dorong penggunaan teknik manajemen stres, misalnya relaksasi progresif,sentuhan terapeutik, biofeed back, visualisasi, pedoman imajinasi, hypnosis diri, dan pengendalian napas. (R/ Meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol dan mungkin meningkatkan kemampuan koping)Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu. (R/ Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat)
h. Beri obat sebelum aktivitas/ latihan yang direncanakan sesuai petunjuk. (R/ Meningkatkan realaksasi, mengurangi tegangan otot/ spasme, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi)
i. Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk (mis:asetil salisilat) (R/ sebagai anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas.)
j. Berikan es kompres dingin jika dibutuhkan (R/ Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak selama periode akut)
2. MOBILITAS FISIK,M KERUSAKAN
Dapat dihubungkan dengan :
Deformitas skeletal, Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
Dapat dibuktikan oleh :
Keengganan untuk mencoba bergerak/ ketidakmampuan untuk dengan sendiri bergerak dalam lingkungan fisik. Membatasi rentang gerak, ketidakseimbangan koordinasi, penurunan kekuatan otot/ kontrol dan massa ( tahap lanjut).
Hasil yang diharapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :
Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan kontraktur. Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau konpensasi bagian tubuh. Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas
Intervensi dan Rasional:
a. Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/ rasa sakit pada sendi (R/ Tingkat aktivitas/ latihan tergantung dari perkembangan/ resolusi dari peoses inflamasi)
b. Pertahankan istirahat tirah baring/ duduk jika diperlukan jadwal aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus menerus dan tidur malam hari yang tidak terganmggu.(R/ Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan)
c. Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikiqan juga latihan resistif dan isometris jika memungkinkan (R/ Mempertahankan/ meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum. Catatan : latihan tidak adekuat menimbulkan kekakuan sendi, karenanya aktivitas yang berlebihan dapat merusak sendi)
d. Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan/ bantu tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, mis, trapeze (R/ Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Memepermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Tehnik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit)
e. Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokanter, bebat, brace (R/ Meningkatkan stabilitas ( mengurangi resiko cidera ) dan memerptahankan posisi sendi yang diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor)
f. Gunakan bantal kecil/tipis di bawah leher. (R/ Mencegah fleksi leher)
g. Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan (R/ Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas)
h. Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi, menggunakan pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi roda. (R/ Menghindari cidera akibat kecelakaan/ jatuh)
i. Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi. (R/ Berguna dalam memformulasikan program latihan/ aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam mengidentifikasikan alat)
j. Kolaborasi: Berikan matras busa/ pengubah tekanan. (R/ Menurunkan tekanan pada jaringan yang mudah pecah untuk mengurangi risiko imobilitas)
k. Kolaborasi: berikan obat-obatan sesuai indikasi (steroid). (R/ Mungkin dibutuhkan untuk menekan sistem inflamasi akut)
3. GANGGUAN CITRA TUBUH/ PERUBAHAN PENAMPILAN PERAN
Dapat dihubungkan dengan :
Perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.
Dapat dibuktikan oleh :
Perubahan fungsi dari bagian-bagian yang sakit. Bicara negatif tentang diri sendiri, fokus pada kekuatan masa lalu, dan penampilan. Perubahan pada gaya hidup/ kemapuan fisik untuk melanjutkan peran, kehilangan pekerjaan, ketergantungan pada orang terdekat. Perubahan pada keterlibatan sosial; rasa terisolasi. Perasaan tidak berdaya, putus asa.
Hasil yangdihapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :
Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan keterbatasan. Menyusun rencana realistis untuk masa depan.
Intervensi dan Rasional :
a. Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit, harapan masa depan. (R/Berikan kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/ kesalahan konsep dan menghadapinya secara langsung)
b. Diskeusikan arti dari kehilangan/ perubahan pada pasien/orang terdekat. Memastikan bagaimana pandangaqn pribadi pasien dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek seksual. (R/Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi/ konseling lebih lanjut)
c. Diskusikan persepsi pasienmengenai bagaimana orang terdekat menerima keterbatasan. (R/ Isyarat verbal/non verbal orang terdekat dapat mempunyai pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri)
d. Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan. (R/ Nyeri konstan akan melelahkan, dan perasaan marah dan bermusuhan umum terjadi)
e. Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau terlalu memperhatikan perubahan. (R/ Dapat menunjukkan emosional ataupun metode koping maladaptive, membutuhkan intervensi lebih lanjut)
f. Susun batasan pada perilaku mal adaptif. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping. (R/ Membantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri, yang dapat meningkatkan perasaan harga diri)
g. Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas. (Meningkatkan perasaan harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong berpartisipasi dalam terapi)
h. Bantu dalam kebutuhan perawatan yang diperlukan.(R/ Mempertahankan penampilan yang dapat meningkatkan citra diri)
i. Berikan bantuan positif bila perlu. (R/ Memungkinkan pasien untuk merasa senang terhadap dirinya sendiri. Menguatkan perilaku positif. Meningkatkan rasa percaya diri)
j. Kolaborasi: Rujuk pada konseling psikiatri, mis: perawat spesialis psikiatri, psikolog. (R/ Pasien/orang terdekat mungkin membutuhkan dukungan selama berhadapan dengan proses jangka panjang/ ketidakmampuan)
k. Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk, mis; anti ansietas dan obat-obatan peningkat alam perasaan. (R/ Mungkin dibutuhkan pada sat munculnya depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemapuan koping yang lebih efektif)
4. KURANG PERAWATAN DIRI
Dapat dihubungkan dengan :
Kerusakan muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.
Dapat dibuktikan oleh :
Ketidakmampuan untuk mengatur kegiatan sehari-hari.
Hasil yangdihapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :
Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan individual. Mendemonstrasikan perubahan teknik/ gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri. Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi dan Rasional:.
a. Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4) sebelum timbul awitan/ eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang sekarang diantisipasi. (R/ Mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum dengan melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini).
b. Pertakhankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan. (R/ Mendukung kemandirian fisik/emosional)
c. Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. Identifikasi /rencana untuk modifikasi lingkungan. (R/ Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian, yang akan meningkatkan harga diri)
d. Kolaborasi: Konsul dengan ahli terapi okupasi. (R/ Berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi kebutuhan individual. Mis; memasang kancing, menggunakan alat bantu memakai sepatu, menggantungkan pegangan untuk mandi pancuran)
e. Kolaborasi: Atur evaluasi kesehatan di rumah sebelum pemulangan dengan evaluasi setelahnya. (R/ Mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi karena tingkat kemampuan aktual)
f. Kolaborasi : atur konsul dengan lembaga lainnya, mis: pelayanan perawatan rumah, ahli nutrisi. (R/ Mungkin membutuhkan berbagai bantuan tambahan untuk persiapan situasi di rumah)
5. PENATALAKSANAAN PEMELIHARAAN RUMAH, KERUASAKAN, RESIKO TINGGI TERHADAP
Faktor risiko meliputi :
Proses penyakit degeneratif jangka panjang, sistem pendukung tidak adekuat.
Dapat dibuktikan oleh :
(Tidak dapat diterapkan; adanya tanda dan gejala membuat diagnosa menjadi aktual)
Hasil yangdihapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :
Mempertahankan keamanan, lingkungan yang meningkatkan pertumbuhan. Mendemonstrasikan penggunaan sumber-sumber yang efektif dan tepat.
Intervensi dan Rasional:.
a. Kaji tingkat fungsi fisik (R/ Mengidentifikasi bantuan/ dukungan yang diperlukan)
b. Evaluasi lingkungan untuk mengkaji kemampuan dalam perawatan untuk diri sendiri. (R/ Menentukan kemungkinan susunan yang ada/ perubahan susunan rumah untuk memenuhi kebutuhan individu)
c. Tentukan sumber-sumber finansial untuk memenuhi kebutuhan situasi individual. Identifikasi sistem pendukung yang tersedia untuk pasien, mis: membagi tugas-tugas rumah tangga antara anggota keluarga. (R/ Menjamin bahwa kebutuhan akan dipenuhi secara terus-menerus)
d. Identifikasi untuk peralatan yang diperlukan, mis: lift, peninggian dudukan toilet. (R/ Memberikan kesempatan untuk mendapatkan peralatan sebelum pulang)
e. Kolaborasi: Koordinasikan evaluasi di rumah dengan ahli terapi okupasi. (R/ Bermanfaat untuk mengidentifikasi peralatan, cara-cara untuk mengubah tugas-tugas untuk mengubah tugas-tugas untuk mempertahankan kemandirian)
f. Kolaborasi: Identifikasi sumber-sumber komunitas, mis: pelayanan pembantu rumah tangga bila ada. (R/ Memberikan kemudahan berpindah pada/mendukung kontinuitas dalam situasi rumah).
6. KURANG PENGETAHUAN ( KEBUTUHAN BELAJAR ), MENGENAI PENYAKIT, PROGNOSIS, DAN KEBUTUHAN PENGOBATAN
Dapat dihubungkan dengan : Kurangnya pemajanan/ mengingat.
Kesalahan interpretasi informasi.
Dapat dibuktikan oleh : Pertanyaan/ permintaan informasi, pernyataan kesalahan konsep.
Tidak tepat mengikuti instruksi/ terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.
Hasil yangdihapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :
Menunjukkan pemahaman tentang kondisi/ prognosis, perawatan.
Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk modifikasi gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas dan atau pembatasan aktivitas.
Intervensi dan Rasional:.
a. Tinjau proses penyakit, prognosis, dan harapan masa depan. (R/ Memberikan pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi)
b. Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses sakit melalui diet,obat-obatan, dan program diet seimbang, l;atihan dan istirahat.(R/ Tujuan kontrol penyakit adalah untuk menekan inflamasi sendiri/ jaringan lain untuk mempertahankan fungsi sendi dan mencegah deformitas)
c. Bantu dalam merencanakan jadwal aktivitas terintegrasi yang realistis,istirahat, perawatan pribadi, pemberian obat-obatan, terapi fisik, dan manajemen stres. (R/ Memberikan struktur dan mengurangi ansietas pada waktu menangani proses penyakit kronis kompleks)
d. Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik. (R/ Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung pada ketepatan dosis)
e. Anjurkan mencerna obat-obatan dengan makanan, susu, atau antasida pada waktu tidur. (R/ Membatasi irigasi gaster, pengurangan nyeri pada HS akan meningkatkan tidur dan m,engurangi kekakuan di pagi hari)
f. Identifikasi efek samping obat-obatan yang merugikan, mis: tinitus, perdarahan gastrointestinal, dan ruam purpuruik. (R/ Memperpanjang dan memaksimalkan dosis aspirin dapat mengakibatkan takar lajak. Tinitus umumnya mengindikasikan kadar terapeutik darah yang tinggi)
g. Tekankan pentingnya membaca label produk dan mengurangi penggunaan obat-obat yang dijual bebas tanpa persetujuan dokter. (R/ Banyak produk mengandung salisilat tersembunyi yang dapat meningkatkan risiko takar layak obat/ efek samping yang berbahaya)
h. Tinjau pentingnya diet yang seimbang dengan makanan yang banyak mengandung vitamin, protein dan zat besi. (R/ Meningkatkan perasaan sehat umum dan perbaikan jaringan)
i. Dorong pasien obesitas untuk menurunkan berat badan dan berikan informasi penurunan berat badan sesuai kebutuhan. (R/ Pengurangan berat badan akan mengurangi tekanan pada sendi, terutama pinggul, lutut, pergelangan kaki, telapak kaki)
j. Berikan informasi mengenai alat bantu (R/ Mengurangi paksaan untuk menggunakan sendi dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang dibutuhkan)
k. Diskusikan tekinik menghemat energi, mis: duduk daripada berdiri untuk mempersiapkan makanan dan mandi (R/ Mencegah kepenatan, memberikan kemudahan perawatan diri, dan kemandirian)
l. Dorong mempertahankan posisi tubuh yang benar baik pada sat istirahat maupun pada waktu melakukan aktivitas, misalnya menjaga agar sendi tetap meregang , tidak fleksi, menggunakan bebat untuk periode yang ditentukan, menempatkan tangan dekat pada pusat tubuh selama menggunakan, dan bergeser daripada mengangkat benda jika memungkinkan. ( R: mekanika tubuh yang baik harus menjadi bagian dari gaya hidup pasien untuk mengurangi tekanan sendi dan nyeri ).
m. Tinjau perlunya inspeksi sering pada kulit dan perawatan kulit lainnya dibawah bebat, gips, alat penyokong. Tunjukkan pemberian bantalan yang tepat. ( R: mengurangi resiko iritasi/ kerusakan kulit )
n. Diskusikan pentingnya obat obatan lanjutan/ pemeriksaan laboratorium, mis: LED, Kadar salisilat, PT. ( R; Terapi obat obatan membutuhkan pengkajian/ perbaikan yang terus menerus untuk menjamin efek optimal dan mencegah takar lajak, efek samping yang berbahaya.
o. Berikan konseling seksual sesuai kebutuhan ( R: Informasi mengenai posisi-posisi yang berbeda dan tehnik atau pilihan lain untuk pemenuhan seksual mungkin dapat meningkatkan hubungan pribadi dan perasaan harga diri/ percaya diri.).
p. Identifikasi sumber-sumber komunitas, mis: yayasan arthritis ( bila ada). (R: bantuan/ dukungan dari oranmg lain untuk meningkatkan pemulihan maksimal).



















BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Arthritis rheumatoid adalah suatu penyakit inflamasi yang mengenai jaringan ikat sendi, bersifat progresif, simetrik dan sistemik serta cernderung menjadai kronik.
B. Saran